Buscar

Páginas

Memaparkan catatan dengan label ::Agama::. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ::Agama::. Papar semua catatan

Talak Tiga dan Solusi Yang Baik

A. Talak Yang Bisa Rujuk dan Yang Tidak Bisa Rujuk
Dilihat dari segi apakah bisa rujuk atau tidak, talak itu terbagi menjadi tiga macam. Talak yang secara mutlak tidak bisa kembali lagi, baik dengan rujuk atau dengan nikah ulang disebut dengan istilah talak bainunah kubra. Bentuk teknis talak ini sesuai yang disepakati para ulama adalah bila suami menceraikan istri, lalu merujuknya, lalu menceraikan lagi, terus  merujuknya lagi dan menceraikan untuk kali yang ketiga. Setelah itu tidak bisa rujuk lagi, kecuali istri menikah dulu dengan orang lain.

Adapun bila suami mentalak istrinya dengan talak tiga sekaligus, para ulama sepakat bahwa hukumnya haram dan berdosa, namun mereka berbeda pendapat dalam konsekuensinya, apakah jatuh talak tiga atau hanya talak satu, atau sama sekali tidak jatuh talak.
 
Ketiga jenis talak itu adalah talak raj’i, talak bain (bainunah shughra) dan talak bainunah kubra :
  
1. Talak Raj‘i
 
Talak raj‘i (طلاق رجعي) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada isterinya, namun suami masih mempunyai hak untuk rujuk dan kembali kepada isterinya.
 Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا
 Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) tersebut menghendaki islah.(Al-Baqarah: 228)

 Talak raj‘i adalah talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya, namun sebelum berakhir masa iddahnya, suaminya merujuknya. Sehingga keduanya kembali lagi menjadi suami istri seperti sedia kala.

 Kesempatan melakukan talak raj’i bagi seorang suami hanya dua kali, sebagaimana firman Allah SWT :
الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
 Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(QS. Al-Baqarah : 229)

 Bila sudah dua kali suami menjatuhkan talak kepada istrinya, lalu dirujuk lagi, maka bila suaminya itu menjatuhkan lagi talak untuk ketiga kalinya, talak itu berubah menjadi talak yang tidak bisa kembali lagi, atau disebut dengan talak bainunah kubra.

 Selama masa iddah, seorang isteri yang ditalak raj‘i mempunyai hukum yang sama seperti hukum yang berlaku pada seorang isteri dalam pemberian nafkah, tempat tinggal atau yang lainnya seperti ketika belum ditalak, sehingga berakhir masa ‘iddahnya. 

 2. Talak Bainunah Shughra

 Talak ba’in (طلاق بائن) atau lazim disebut dengan talak bainunah shughra (بينونة صغرى) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami, sebagaimana talak raj’i di atas, namun hingga habis masa iddah istri, suami tidak melakukan rujuk. Dengan demikian, tamatlah sudah ikatan perkawinan di antara keduanya, sehingga keduanya resmi sudah bukan suami istri lagi.

 Namun demikian, selama mantan istri itu belum kawin lagi, maka keduanya masih boleh bersatu lagi. Bukan dengan jalan rujuk, melainkan dengan cara menikah ulang, dengan lamaran, mahar, dan ijab kabul serta akad nikah yang baru.

 Perbedaan rujuk dengan menikah ulang adalah bahwa rujuk itu hanya dilakukan sebelum habis masa iddah istri yang ditalak. Dan rujuk itu bukan akad nikah, melainkan hanya diniatkan saja di dalam hati oleh suami, atau diucapkan, atau dilakukan hubungan suami istri, maka otomatis terjadilah rujuk.

 Sedangkan yang disebut dengan menikah ulang adalah sebagaimana yang dilakukan oleh pasangan yang belum pernah menikah sebelumnya. Menikah ulang itu berarti harus melewati tahapan-tahapan seperti melamar, memberi mahar, juga melakukan ijab qabul antara wali dan suami, dengan dihadiri oleh minimal dua orang saksi.

 3. Talak Bainunah Kubra

 Talak ketiga adalah talak bainunah kubra (طلاق بينونة كبرى). Talak ini adalah talak yang ketiga kali dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya. Dalam bentuk halalnya (talak sunnah), talak ini harus dilakukan dengan tiga kali secara terpisah, dimana di antara talak yang pertama, kedua dan ketiga harus ada proses rujuk terlebih dahulu. 

 Hukum talak tiga ini tidak dibolehkan untuk dijatuhkan sekaligus secara bersamaan. Apabila hal itu dilakasanakan juga, tentu suami berdosa karena melanggar ketentuan Allah SWT dan rasul-Nya. Dan termasuk ke dalam jenis talak bid’ah.


 Namun lepas dari hukumya yang haram, bila seseorang tetap melakukannya juga, apakah talaknya jatuh dan berlaku talak tiga? Dalam hal ini kita menemukan dalam beberapa kitab fiqih beberapa pandangan yang berbeda. 

 a. Jumhur : Jatuh Talak Tiga

 Keempat mujtahid mutlak dalam masing-masing mazhabnya sepakat bahwa talak tiga yang dijatuhkan secara langsung bersamaan, hukumnya talaknya jatuh tiga, termasuk bainunah kubra.

 b. Syiah Imamiyah : Tidak Jatuh Talak Sama Sekali

 Pendapat syiah imamiyah tegas menyatakan bahwa talak tiga yang dijatuhkan sekaligus justru sama sekali tidak menyebabkan talak apapun, alias sama sekali tidak jatuh talak.

 c. Ibnu Taimiyah & Ibnul Qayyim : Jatuh Talak Satu

 Pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan juga pendapat yang mewakili kalangan mazhab Zahiriyah menyatakan bahwa talak yang berlaku hanya talak satu saja dan bukan talak tiga. 

 B. Alternatif Solusi 

 Alternatif solusi yang bisa ditawarkan agar bisa kembali lagi dalam kasus ini tergantung dari apa yang sudah terjadi sesungguhnya, yaitu apakah suami sudah dua kali menceraikan istrinya lalu merujuknya dan sekarang ini hitungannya sudah yang ketiga kalinya? Ataukah kasusnya suami menjatuhkan talak tiga sekaligus?

 1. Pertama 


 Kalau kejadiannya yang pertama, yaitu suami sudah dua kali talak dan dua kali rujuk, maka untuk talak yang ketiga kalinya tidak ada jalan keluarnya, kecuali harus pisah tanpa bisa dirujuk lagi. Kalau pun mau rujuk, jalannya agak panjang dan berliku, bahkan nyaris hampir mendekati mustahil secara nalar. 

 Sebab istri harus menikah dengan suami baru dengan niat dan tujuan untuk menikah selamanya, dan harus terjadi hubungan badan yang sah. Kalau suatu hari suaminya yang baru itu menceraikannya tanpa dirujuk hingga habis iddahnya, barulah boleh kembali kepada suami yang pertama.


 Dasar ketentuan ini adalah firman Allah SWT :
فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
 Kemudian jika si suami mentalaknya , maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya  untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang  mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 230)

 2. Kedua


 Namun bila yang terjadi adalah kasus suami menjatuhkan talak tiga sekaligus kepada istrinya, nampaknya cuma dengan jalan meninggalkan pendapat jumhur ulama, dan berpindah kepada pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Dimana meski seorang suami secara langsung menjatuhkan talak tiga sekaligus, maka hitungannya tetap dianggap talak satu.
 
 Dan karena cuma talak satu, tentu saja boleh langsung dirujuk saat itu juga. Sehingga hubungan pernikahan antara suami dan istri tidak sempat terlepas. 

 Namun perlu diingat, pasangan yang sudah pernah melakukan talak satu ini, kalau suatu ketika melakukannya lagi, berarti akan terjadi talak kedua. Dan bila melakukannya lagi, berarti nanti jatuh talak ketiga.


 C. Talak Yang Diucapkan Dengan Emosi

 Para ulama sepakat bahwa talak yang diucapkan dengan emosi tetap jatuh talak. Dan dalam kenyataannya, kebanyakan talak itu memang dijatuhkan dalam keadaan emosi. Malah kita nyaris tidak menemukan dimana suami menjatuhkan talak dengan riang gembira dan hati berbunga-bunga. 

 Kalau talak yang dijatuhkan dalam keadaan emosi harus dianggap tidak sah, maka bubarlah syariat Islam, karena semua orang pasti yang mentalak istrinya akan mengatakan bahwa dirinya menjatuhkan talak dalam keadaan emosi.


 Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan tentang talak yang diucapkan dengan emosi :
مَا يَقَعُ مِنَ الْغَضْبَانِ مِنْ طَلاَقٍ وَعَتَاقٍ وَيَمِينٍ فَإِنَّهُ يُؤَاخَذُ بِهِ
 Apapun yang diucapkan oleh orang yang marah (emosi), baik talak, membebaskan budak atau sumpah, maka semua itu berlaku.

 Dalil lainnya adalah apa yang terjadi Khaulah binti Tsa'labah, istri Aus bin Ash-Shamith. Suaminya marah kepadanya dan menjatuhkan dzhihar kepadanya. Maka Khaulah mendatangi Rasulullah SAW dan berkonsultasi. Dia mengatakan,
لَمْ يُرِدِ الطَّلاَقَ فَقَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا أَعْلَمُ إِلاَّ قَدْ حَرُمْتِ عَلَيْهِ
 "Suami saya tidak berniat untuk mentalak saya". Namun Rasulullah SAW menjawab,"Aku tidak tahu kecuali dirimu telah diharamkan untuknya". (HR. Al-Baihaqi)

 Demikian jawaban singkat ini, semoga bisa sedikit memberikan pencerahan. Kebenaran hanya milik Allah SWT.

 Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



sumber: lhttp://syahlanbro.blogspot.com/2012/12/talaq-tiga-dan-solusi-yang-baik.html

Permasalahan SOLAT QADHA menurut Mazhab Shafie.


Solat qadha terbahagi kepada dua:- 

1. Meninggalkan solat kerana keuzuran seperti tertido. 
- Disunatkan menyegerakan qadhanya supaya terlepas dari tanggungjawab dengan segera. 
- Disunatkan juga mendahulukan qadha sekiranya tidak ditakuti habis waktu untuk solat tunai tersebut. - -- Disunatkan juga mengqadha solat mengikut tertib solat tersebut seperti mendahulukan solat subuh ke atas solat zohor. 

2. Meninggalkan solat dengan sengaja. 
- Wajib menyegerakan qadha 
- Wajib melapangkan sepenuh masa untuk menqqadhanya kecuali masa yang diperlukan untuk keperluan hidup seperti mencari rezeki untuk kehidupan dia dan orang dibawah tanggungannya. Haram untuknya melapangkan masa untuk perkara yang bukan menjadi keperluan hidupnya seperti bercakap sia2,main game,main facebook dan yang seumpama dengannya. 
- Wajib mendahulukan solat qadha yang disengajakan keatas solat qadha yang kerana keuzuran. Haram didahulukan qadha kerana keuzuran yang disengajakan tetapi solat adalah sah. 

PERHATIAN!! 

HARAM menunaikan apa2 bentuk solat sunat bagi orang yang masih ada solat qadha yang belum disempurnakan. 

(Rujukan kitab bushral kariim syarah kepada mukaddimah hadhramiyah dan juga kitab mughnil muhtaaj syarah kepada minhaajuttolibiin.)

Siapakah orang yang DIWAJIBKAN untuk mengqadha solatnya?
-Lelaki: Yang beragama Islam, berakal dan suci.
-Perempuan: Tidak diwajibkan mengqadha solat-solat yang terpaksa ditinggalkan semasa berada didalam keadaan haid.

Jumhur ulamak pelbagai mazhab bersepakat bahawa orang yang meninggalkan solat diwajibkan mengqadakannya sama ada dia terlupa atau sengaja meninggalkannya. Lalu bagaimana jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja selama berpuluh-puluh tahun? 

Contoh kalau seseorang itu meninggalkan solat selama 20 tahun, hendaklah dia mengira sebanyak mana solat yang perlu digantikan. Contohnya 365 hari (1 tahun) dikalikan dengan 5 (solat 5 waktu) iaitu bersamaan dengan 1825 waktu yang perlu diganti. 1825 waktu pula dikalikan dengan 20 tahun, hasilnya ialah 36500 solat yg perlu digantikan. Jadi masing-masing boleh mengira sendiri samada dalam tempoh 20 tahun itu dia pernah solat tetapi dalam sekitar 20% sahaja daripada waktu itu, maka tolaklah 20% daripada jumlah waktu yang perlu diqadhakan itu. 

Dengar macam berat, tapi sebenarnya itulah tanda kasih sayang Allah. Allah memerintahkan kepada kita untuk solat, mungkin kita dulu jahil/lagha sehingga meninggalkan solat yg sememangnya wajib ke atas kita. Allah sememangnya nak masukkan kita ke dalam syurga dengan rahmatNya, maka solat merupakan salah satu ibadah yang menjadi kuncinya. Jadi, sebenarnya solat adalah salah satu ibadah yang merupakan satu perjanjian antara kita dengan Allah SWT, seperti yang telah disebutkan didalam sebuah hadith:

Daripada Ubadah bin Al-Shomit RA dia berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Sembahyang lima waktu itu telah diwajibkan oleh Allah ke atas hamba-hambaNya. Barangsiapa yang menunaikannya, bermaakna dia tidak mensia-siakan sesuatupun daripada kewajipan tersebut lantaran memandang ringan terhadapnya, maka dia akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan sesiapa yang tidak menunaikannya maka dia tidak ada apa-apa perjanjian di sisi Allah. Sekiranya Allah menghendaki Dia akan mengazabkannya dan jika Dia kehendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam syurga." (Hadith riwayat Abu Daud (1420) dan lain-lain).

Ada sebuah hadith yang berbunyi: Daripada Anas RA daripada Nabi SAW sabdanya: "Sesiapa yang terlupa (mendirikan sembahyang) maka dia hendaklah sembahyang apabila dia mengingatinya dan dia tidak dikenakan kafarrah melainkan mendirikan sembahyang tersebut. Baginda membaca firman Allah yang bermaksud: Dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati-Ku. (Thaha: 14)" (Hadith riwayat Al-Bukhari (572) dan Muslim (684) )

Jadi daripada hadith ini jelaslah bahawa qadha solat sebaik sahaja kita teringat solat yang kita masih belum tunaikan setelah habis waktu kerana terlupa atau tertidur, wajiblah dia mengqadha solatnya itu tetapi tidaklah diwajibkan bersegera untuk menunaikannya. Ia berbeza kepada orang yang sengaja meninggalkan solat kerana malas, maka wajiblah dia segera mengqadakannya dan memperuntukkan lebih banyak waktu lapang untuk digunakan bagi mengqadha solat.. Bagi mereka yang terlupa atau tertidur sehingga tertinggal 1 atau lebih waktu solat, kadangkala seseorang itu akan teringat pada masa-masa yang dimakruhkan (makruh jenis tahrim, yakni makruh yang hampir ke tahap haram) untuk solat seperti waktu:

1- Ketika matahari berada di tengah-tengah langit - kecuali pada hari jumaat - dan selepas sembahyang Subuh sehingga matahari naik setinggi tombak (setinggi satu galah).
2- Selepas sembahyang Asar hingga jatuh matahari.

Maka pada waktu-waktu sebegini tidaklah dilarang untuk menunaikan solat qadha. 

Dimana pula dalil-dalil yang memerintahkan solat qadha bagi mereka yang meninggalkan solat biarpun bertahun-tahun kerana malas? Seperti yang kita ketahui, sumber ilmu yang menjadi tatapan para ulamak untuk istinbath (menggali) sesuatu hukum tauhid dan feqah itu adalah daripada Al-Quran, hadith (yang diambil untuk dijadikan sunnah), ijma dan qias. Tetapi tidak terdapat hukum daripada Al-Quran dan hadith yang mengatakan seseorang itu hendaklah mengqadhakan solatnya yang telah ditinggalkan bertahun-tahun. Ini kerana pada zaman Nabi SAW majoriti umat Islam pada zaman itu, begitu jarang sekali ada orang Islam yang meninggalkan solat selain terlupa dan tertidur. Jadi para ulama mendapati masalah ini mula berlaku apabila umat Islam semakin jauh daripada agama dan melalaikan kewajipan solat. Jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja kerana malas, ia masih tidak dianggap sebagai kafir kecuali kepada mereka yang mengatakan solat itu tidak wajib dan sebagainya. Oleh kerana itu para ulama bersepakat terutamanya dalam mazhab Syafie mewajibkan bagi orang yang meninggalkan solat dengan sengaja selama bertahun-tahun hendaklah menggantikan/mengqadhakan solat itu dengan kadar yang tertentu bergantung kepada berapa banyak solat yang ditinggalkan oleh seseorang itu. 

Apakah itu ijma'? Ijma' merupakan sumber rujukan yang ketiga daripada sumber-sumber hukum (selepas Al-Quran dan sunnah), apabila kita tidak dapati sesuatu hukum di dalam Al-Quran dan as-Sunnah maka kita lihat, adakah perkara tersebut telah disepakati oleh ulama' atau tidak. Sekiranya ia merupakan ijma' ulama', makan hendaklah kita menerima dan beramal dengannya.

Q - Solat sunat, pun tak bolehkah? Rugilah kalau tak solat sunat. Saya baca banyak buku-buku yang menerangkan keutamaan solat-solat sunat seperti solat sunat Dhuha, witir, tarawikh, hari raya dan sebagainya yang sangat banyak fadilatnya. Takkan tu pun tak boleh kot? Kot ye pun, takkanlah sampai haram..?
A- Sepakat ulamak mengatakan haram solat sunat selagi solat qadha masih belum selesai ditunaikan. Selain solat jenazah (solat jenazah merupakan fardhu kifayah, maka ia berbeza antara fardhu kifayah dengan sunat), semua solat sunat seperti solat dhuha, witir, solat terawih, solat sunat hari raya aidilfitri/aidiladha, rawatib, solat hajat, solat taubat dan sebagainya diharamkan kepada mereka yang mempunyai solat fardhu yang masih tidak diqadhakan lagi. Ini kerana 1 solat fardhu lebih baik berganda-ganda daripada semua fadilat-fadilat solat-solat sunat yang disebutkan tadi. Jika kita menunaikan solat-solat sunat seumur hidup kita pun, ia tidak akan mampu menggantikan 1 solat fardhu sekalipun. Janganlah kita lupa, solat fardhu merupakan amalan ibadah kita yang pertama akan dinilai di akhirat nanti.
Bukankah kita boleh menggantikan solat-solat sunat itu dengan solat wajib? Contohnya sekiranya kita berjemaah di masjid, nak masuk masjid bukankah perlu solat sunat tahiyatul masjid? Maka gantikanlah solat sunat tahiyatul masjid itu dengan solat fardhu qadha Subuh contohnya.. Begitu juga dengan solat sunat Dhuha dan sebagainya... Dan bagaimana pula dengan solat terawih dan solat sunat hari raya..? Setahun sekali saja kita dapat menemui solat-solat seperti ini, bukan..? Maka gantikanlah solat sunat terawih itu dengan solat fardhu qadha. 
Jadi masing-masing fikirkanlah sendiri, samada berbaloi atau tidak solat sunat sedang solat qadha belum diselesaikan lagi. 

Q - Bagaimana cara-cara untuk qadha solat fardhu?
A - Niat solat qadha ialah seperti biasa, tetapi berbeza sedikit yakni dengan meniatkan qadha, perhatikan: "Nawaitu fardhal subhi rok'ataini QADHAAN lillahitaala", bermaksud: "Sahaja aku menunaikan solat fardhu subuh 2 rakaat QADHA kerana Allah taala." 

Bagi yang mahu qadha solat fardhunya di masjid untuk mengelakkan sebarang fitnah untuk solat Subuh, solat seperti biasa, tetapi ketika hendak membaca doa qunut, pendekkan sahaja bacaannya sekadar rukun yakni:
-Bacaan qunut itu sendiri
-Selawat ke atas Nabi SAW.
Dalam hal ini, cukuplah sekadar membaca sepatah bacaan qunut, contohnya "Allahummah dini fiiman hadait" kemudian terus sambung membaca selawat ke atas Nabi SAW, iaitu: "Fasallallahu'ala saiyidina Muhammadinin Nabi ummiyyi wa'ala 'alihi wasohbihi barik wasallim." kemudian barulah turun sujud. Jangan turun sujud selagi tidak sempurna rukun bacaan doa qunut tadi, yakni hendaklah membacanya sehingga habis dalam keadaan berdiri itu. Angkat tangan untuk berdoa pun sunat, tak perlu angkat tangan untuk berdoa. Kemudian bagi yang mahu menunaikan solat qadha Zuhur, Asar, Maghrib atau Isyak, buatlah dirumah, atau boleh saja melakukannya dimasjid jika kita tidak mempedulikan pandangan orang (itulah yang sebaik-baiknya, kerana kewajipan menunaikan solat qadha lebih penting daripada menilai perhatian orang lain).

Berkenaan dengan solat sunat terawih dan solat sunat hari raya, bagaimana pula untuk qadha solat fardhu dalam keadaan berjemaah? Mengenai hal ini, mungkin agak rumit untuk diperjelaskan dan difahami oleh pembaca, tetapi saya akan cuba untuk menjelaskan sebaik mungkin.

Qadha solat fardhu ketika berjemaah dengan jemaah yang menunaikan solat terawih:
-Biasanya di masjid akan melakukan solat sunat terawih sebanyak 20 rakaat. Dan ia dilakukan sebanyak tiap-tiap 2 rakaat 1 salam. Jadi bagi mereka yang nak qadha solat subuh, bolehlah mengikut cara yang disebutkan tadi cuma perlulah diniatkan sebagai makmum yakni mengikut imam iaitu melalukan niat qadha solat subuh qadha mengikut imam kerana Allah taala semasa mengangkat takbir.

Tetapi bagi mereka yang hendak qadha solat Zuhur, Asar dan Isya', begini caranya:
-Hendaklah dia berniat untuk qadha solat Zuhur/Asar/Isya' sebagai makmum (mengikut imam). Solatlah seperti biasa mengikut imam, tetapi apabila imam memberi salam, kita tidak boleh mengucapkan salam juga, jika tidak, solat kita akan menjadi batal (kerana salam adalah tanda habisnya sesebuah solat yang didirikan). Jadi berniatlah untuk mufarakah daripada mengikut imam (yakni berniat untuk tidak lagi mengikut imam) dan kekalkan keadaan diri anda dalam keadaan tahiyat awal, ini kerana anda perlu bersedia pada bila-bila masa sahaja untuk bangun mengikut imam semula. Sesiapa yang hendak menggerakkan kepala sedikit hanya semata-mata isyarat untuk salam (supaya makmum disebelah kita tidak mengesyaki apa-apa kerana pelik dengan tindakan kita yang tidak memberi salam mengikut imam) maka lakukanlah kerana pergerakan itu tidak membatalkan solat (selagi anda tidak melafazkan salam atau mengalihkan dada dari arah kiblat). Sekarang doa dibacakan oleh imam dan para makmum, anda pula sedang dalam keadaan tahiyat awal. Maka bersabarlah sebentar untuk mereka habiskan bacaan doa itu, kemudian apabila imam bangun untuk solat 2 rakaat yang seterusnya, sebaik sahaja imam habis melafazkan takbir, niatkanlah (masukkan semula niat anda untuk mengikut imam kerana sebentar tadi anda telah berniat mufarakah dengannya) untuk mengikut imam untuk menyelesaikan 2 daripada 4 rakaat yang perlu dihabiskan untuk menyempurnakan solat fardhu qada 4 rakaat anda. Apabila imam memberi salam, pada waktu ini barulah anda boleh memberikan salam kerana anda sudah selesai menunaikan solat fardhu qada 4 rakaat. Perlu diingatkan, niat masuk-keluar-masuk daripada menjadi makmum kepada seorang imam ini hanya dibolehkan di dalam mazhab Syafie selagi solat imam itu tidak terbatal kerana najis/tersalah bacaan/lafaz dll. 

Kemudian, lakukanlah solat qadha fardhu 4 rakaat bagi rakaat yang seterusnya. Sekurang-kurangnya anda boleh menyelesaikan sebanyak 5 solat waktu untuk 20 rakaat solat terawih dan 1 solat maghrib untuk witir (solat witir didirikan dengan 3 rakaat 2 salam) yang sesuai untuk qadha solat Maghrib kerana bilangan solat witir yang ganjil.

Bagaimana dengan solat sunat hari raya..?
Solat sunat hari raya mempunyai 2 rakaat di dalamnya, dengan 7 takbir (tidak termasuk takbiratul ihram) pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua. Untuk rakaat pertama, niatkan solat qadha subuh mengikut imam dan ambil 1 takbir sahaja (samada pada permulaan takbir pertama imam - jika mengambil takbir pertama imam, maka xperlu mengangkat 7 takbir yang seterusnya, maka hendaklah anda diam sehinggalah imam membacakan Al-Fatihah) atau bertakbiratulihram pada takbir yang ke tujuh). Pada rakaat kedua, tidak perlu mengangkat sebarang takbir (kerana mengangkat takbir tambahan di dalam rakaat pertama dan kedua solat sunat hari raya adalah sunat; jika terlupa melakukannya dan terus membaca fatihah, maka takbir-takbir tadi luput tidak perlu diulangi semula) dan solat tetap sah - apa lagi anda yang sedang solat qadha). Kemudian habiskan solat dengan mengikut imam seperti biasa.

*permasalahan Qadha solat ini adalah mengikut mazhab shafie..


This drawing shows where the sounds should come out from when you pronounce the Arabic letters.


Qada Dan Qadar


 

Qada dan qadar adalah salah satu dari rukun iman yang wajib dipercayai dan diimani oleh setiap orang Islam. Penjelasan mengenai qada dan qadar ini ada dibicarakan di dalam kitab-kitab aqidah dan perbincangannya agak panjang dan adakalanya begitu susah untuk difahami oleh kebanyakkan orang terutamanya bagi sesiapa yang baru menjejakkan kaki dalam perbincangan ilmu aqidah secara mendalam.



ERTI DAN BAHAGIAN QADA DAN QADAR

Qada bermaksud pelaksanaan. Adapun qadar bermaksud sukatan.Terbahagi kepada dua bahagian iaitu: Qada Mubram dan Qada Muallaq.
Qada Mubram: Adalah ketentuan Allah Taala yang pasti berlaku dan tidak dapat dihalang oleh sesuatu apa pun. (Contoh: Mati pasti akan berlaku). Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Qada Muallaq: Adalah ketentuan yang tidak semestinya berlaku bahkan bergantung kepada sesuatu perkara. (Contoh: Panjang umur bergantung kepada menghubungkan silaturrahim dan amal kebajikan yang lain). Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Tidak boleh ditolak qadar Allah Taala melainkan doa. Dan tiada yang boleh memanjangkan umur melainkan membuat baik kepada ibubapa.
(Riwayat Hakim, Ibnu Hibban dan Tarmizi).

SEMUA PERKARA DI DALAM PENGETAHUAN ALLAH TAALA

Kedua-dua jenis qada di atas ini adalah di dalam pengetahuan Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Segala perbuatan hamba adalah diketahui oleh Allah Taala melalui ilmu-ilmuNya. Hanya ianya terlindung dan tidak diketahui oleh hamba-hambaNya yang lemah. Kerana itulah kita disuruh untuk sentiasa berusaha dan taat kepadaNya kerana kita tidak mengetahui apa yang akan berlaku kepada kita nanti.

ANTARA BENTUK KETAATAN

Antara bentuk ketaatan adalah dengan berdoa kepada Allah Taala. Dengan berdoalah seseorang hamba itu akan merasakan dirinya lemah dan berhajat atau memerlukan kepada Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Aku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(Surah al-Baqarah: ayat 186).
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Doa merupakan otak kepada ibadat.
(Riwayat at-Tarmizi).

SENTIASA BERUSAHA DAN BERDOA

Setelah diketahui bahawa segala usaha dan doa dari hamba akan didengar dan diambil kira oleh Allah Taala maka dengan sebab itulah perlunya seseoarang hamba itu untuk sentiasa berusaha dan berdoa. Namun segala usaha dan doa ini sudah tentulah di dalam kuasa dan ilmu Allah Taala. Kerana itulah ada dinyatakan bahawa manusia hanya berusaha dan berdoa tetapi Allah Taala jualah yang menentukannya. Disebabkan manusia tidak mengetahui qada dan qadarnyalah maka manusia perlu kepada usaha dan doa. Firman Allah Taala bermaksud:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Surah ar-Rad: ayat 11).

KONSEP QADA DAN QADAR

Keperluan kepada konsep qada dan qadar di dalam Islam adalah:
- Menisbahkan kepada Allah Taala di atas segala yang berlaku di dunia ini.
- Beriman bahawa hanya Allah Taala yang memiliki kuasa mutlak menentukan urusan di dunia ini.
- Menyedarkan bahawa manusia itu lemah dan perlu kepada bantuan Allah Taala.
- Hikmah qada dan qadar disembunyikan dari pengetahuan hamba adalah supaya seseorang hamba itu sentiasa berusaha dan taat kepadaNya.

PERINGATAN

Peringatan daripada dalil hadis di bawah ini dapat mengingatkan kepada kita tentang bahayanya mempersoalkan dan memanjang-manjangkan perbincangan mengenai qada dan qadar ini tanpa sebab tertentu. Sebab itulah kebanyakkan para tok guru kita cuba mengelakkan diri dari berbicara mengenai qada dan qadar ini secara panjang lebar terutamanya kepada masyarakat awam.
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Apabila disebut tentang qadar maka diamlah…
(Riwayat Tabrani dan Abu Nuaim).

PENUTUP

Sebagai umat Islam yang beriman adalah kita diwajibkan mempercayai dan mengimani qada dan qadar. Segala yang berlaku adalah dari Allah Taala semuanya. Kita hanya mampu berusaha dan berdoa akan tetapi Allah Taala jualah yang Maha Berkuasa yang menuntukan segala sesuatu itu. Saya ingin sarankan agar kita semua dapat mempelajari ilmu aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah dengan lebih mendalam dan terperinci.

“Kalau tak ikhlas, baik tak payah buat!”




Itu antara ungkapan yang selalu kita dengar apabila kita berat untuk melakukan sesuatu, namun kita gagahkan juga diri untuk melakukannya. Apabila usaha kita untuk melakukan sesuatu ‘dicantas’ dengan ungkapan tersebut, maka kita terus berundur dan bertindak meninggalkan apa yang kita lakukan.
Dalam hati kita bermonolog, “Betul juga tu, daripada aku buat tak ikhlas, baik aku tak payah buat”.
Lalu amal kita pun ditinggalkan kerana kita tidak ikhlas melakukannya. Persoalannya,Adakah kita akan sentiasa ikhlas untuk melakukan kebaikan?
Jika tidak, apakah itu bererti kita tidak perlu melakukan kebaikan kerana tidak ikhlas?

Timbul pula persoalan lain, adakah ikhlas itu akan datang tiba-tiba atau perlu dilatih?
Mari kita lihat firman Allah yang bermaksud:

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan mahupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah:41)

Kewajipan Tetap Kewajipan

Daripada ayat yang dipaparkan kepada kita dalam surah at-Taubah tadi, jelas bahawasanya keberatan atau keringanan kita sedikitpun tidak mengubah syari’at sesuatu amal. Jika kita berasa berat untuk solat fardhu, solat fardhu tidak akan berubah menjadi sunat atau ditarik kewajipannya. Bukankah begitu?
Ertinya ikhlas ataupun tidak, kita tetap perlu melaksanakannya. Begitu juga dengan kewajipan-kewajipan lain seperti berdakwah, berbuat baik kepada ibubapa, menjaga silaturrahim sesama jiran tetangga, taat kepada suami, dan lain-lain. Sememangnya berat atau ringan itu akan muncul atau terdetik di hati kita namun kita tetap perlu melaksanakannya. Jadi, masihkah wajar kita berkata saat ini, “Kalau tak ikhlas, baik tak payah buat?”


Jalan Menuju Ikhlas

Kadangkala kita suka membuat alasan dengan isu ‘tidak ikhlas’ sebagai jalan untuk kita lari daripada beramal. Kita sentiasa menunggu-nunggu ikhlas itu datang sedangkan kita tidak pernah berusaha mencarinya.
Bagaimana mencari ikhlas? Ya! dengan cara kita berusaha mengatasi ketidakikhlasan kita. Di peringkat permulaan, mungkin kita masih belum ikhlas sepenuhnya melakukan sesuatu ibadah. Jika kita terus meninggalkannya, adakah mungkin suatu hari kita akan mendapat ikhlas secara tiba-tiba? Mungkin juga..
Ingat, ‘mungkin juga’ ialah refleksi kepada ketidakseriusan dalam mendapatkan sesuatu. Namun, jika kita terus konsisten melakukan ibadah tersebut dan berusaha sedaya mungkin mengikhlaskan niat, lama-kelamaan kita akan dikurniakan Allah dengan rasa ikhlas yang tidak ternilai, insya-Allah.

Dalam surah al-Ahzab ayat 70-71, Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Nescaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (Al-Ahzab:70-71)
Kita selalu beranggapan bahawa kita perlu benar-benar cukup bekalan dan sempurna sebelum melakukan sesuatu amal atau kerja dakwah di jalan Allah.
Lantas kita kaku dan tidak beramal.
Sedangkan Allah s.w.t. membawa perspektif bahawa dengan usaha kita melakukan sesuatu amal, Allah s.w.t. akan memperbaiki amal tersebut dan mengampuni dosa kita. Begitu juga dengan ikhlas.
Setelah kita berusaha melakukan amal dan cuba mengikhlaskan niat, Allah s.w.t. akan menyediakan ganjaran yang tidak ternilai buat kita.


Sebelum, Ketika, dan Selepas

Ada orang sudah mengikhlaskan niat sebelum beramal, tetapi ternyata ketika amal itu dilakukan, dia tertipu dengan ramainya orang yang melihatnya beramal dan mengagumi amalnya. Ada orang melepasi ujian ini dan terus beramal dengan ikhlas, namun setelah itu dia sibuk bercerita tentang amalnya kepada orang lain atas tujuan menunjuk-nunjuk. Atau minimum dia ingin orang lain mendengar tentang amalnya daripada mulut orang yang melihat. Bolehkah begitu?

Sesuatu amal itu perlu dijaga kesuciannya sebelum dilakukan, ketika, dan selepas dilaksanakan. Itulah semurni-murni amal yang tidak dicemari dengan ketidakikhlasan. Selagimana kita bermujahadah mengikhlaskan niat tatkala perasaan riya’, ‘ujub dan sum’ah terdetik di hati, kita masih dikira sebagai seorang mujahid yang akan diganjarkan oleh Allah kelak. Namun, tatkala kita larut dalam perasaan-perasaan mazmumah tadi tanpa sedikitpun upaya menyedarkan diri dan meluruskan niat, kita telah gagal dalam ujian ikhlas.

Mudah-mudahan Allah s.w.t. memberi taufik dan hidayah kepada kita dalam beramal di jalan-Nya dengan seikhlas hati. Semoga kita menghargai perjuangan orang-orang terdahulu yang dilanda ujian yang jauh lebih hebat dibanding ujian ringan yang kita rasakan berat. Namun, mereka masih teguh di atas kebenaran. Bagaimana dengan kita?Moga dipermudahkan. Amin..

Salasilah Keturunan Nabi Akhir Zaman, Rasulullah s.a.w


Assalamualaikum wbh,
Ramai di antara kita mengetahui tentang salasilah keturunan Rasulullah saw, dan ahli keluarga baginda saw. Kita semua tahu bahawa ayah baginda saw bernama Abdullah, dan ibu baginda saw bernama Aminah. Kita juga tahu datuk baginda saw bernama Abdul Muttalib, dan bapa saudara baginda Abu Talib, dan juga Abu Lahab, atau nama sebenar beliau Umar ibnu Hisyam. Kita lihat nama beliau di dalam doa baginda saw, “Ya Allah, islamkanlah salah satu Umar (iaitu samada Umar ibnu Hasyim, aka Abu Lahab, atau Umar ibnu Al-Khattab)”. Maka Allah swt menjawab doa baginda saw dengan islamnya Umar ibnu Al-Khattab.

      Suka penulis bawakan bahawa Rasulullah saw merupakan keturunan susur jalur yang terus kepada nabi Allah Ibrahim as. Kerana itu ada ayat-ayat di dalam Al-Quran, dan juga hadis-hadis baginda saw yang menyebut Ibrahim as sebagai ayah baginda saw, kerana di dalam bahasa Arab, ayah juga boleh diertikan sebagai ayah kandung, datuk dan ke atas. Firman Allah swt, “Jalan (iaitu Islam ini adalah jalan) ayah kamu, Ibrahim. Dialah yang menamakan kamu Muslimin”. Juga kita lihat di dalam hadis baginda saw sewaktu baginda saw mendapat seorang anak lelaki bersama hamba baginda saw, Mariam Qibtiyah, “Aku menamakannya sempena nama ayahku, Ibrahim”.

          Bahkan paras rupa Rasulullah saw itu sendiri juga sangat-sangat mirip kepada Nabi Allah Ibrahim as. Ini dibuktikan di dalam hadis baginda saw, ketika baginda diangkat Allah swt ke langit ketika Isra’ Mi’raj, dan baginda saw bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Sabda baginda saw di dalam menceritakan tentang rupa paras Ibrahim as kepada para sahabat, “Andaikata kamu semua melihatnya (Ibrahim), pasti kamu akan sangka dia adalah rakanmu (iaitu, pasti kamu menyangka dia adalah aku Muhammad, kerana rupa mereka mirip)”. Takjub sungguh rasa penulis ketika membaca hadis ini, kerana secara langsung Allah swt telah mengisyaratkan kita kepada tabiat genetic, ribuan tahun sebelum kajian tentang genetic keturunan dimulakan!

       Adapun Rasulullah saw berasal dari keturunan Nabi Ibrahim as, dari jalur keturunan Ismail as. Ingatkah bahawa Nabi Ibrahim as dikurniakan dua orang anak sewaktu usia tua baginda as? Firman Allah swt di dalam merakamkan doa Nabi Ibrahim as, “Segala puji Allah, yang telah mengurniakan kepadaku di usia tuaku Ismail dan Ishaq, sungguh Tuhanku sangat-sangat mendengar permintaa”. Ini merupakan noktah sejarah yang sangat perlu kita ambil perhatian, kerana orang-orang Kristian tidak mengiktiraf akan adanya Ismail as, bahkan mereka mendakwa bahawa Ishaqlah yang terlibat di dalam peristiwa Nabi Ibrahim as diarahkan agar menyembelih anaknya. Ini kerana dari susur galur Ishaqlah lahirnya yang kita kenali sekarang sebagai Bani Israil, atau Yahudi, yang mana akhirnya lahirnya Isa as, Tuhan (?) mereka.
       Adapun nama Bani Israil itu, bererti ‘anak-anak Israil’, dan Israil adalah nama lain bagi Nabi Ya’qub as. ‘Isra’ di dalam bahasa Ibrani (Yahudi) bermaksud hamba, dan ‘il’ bermakna ‘Tuhan’, atau Allah. Maka Israil itu sendiri bermaksud ‘hamba Allah’, atau di dalam bahasa Arab selalu kita kenali sebagai ‘Abdullah”. Dari jalur Nabi Ishaq as, lahir Nabi Ya’qub as, kemudian Yusuf as, dan seterusnya cucu keturunan mereka, Bani Israil aka Yahudi.
       Manakala dari jalur Ismail as, lahirlah keturunan Arab, yang mana kita masih ingat kisah Nabi Ismail as ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim as bersama ibunya Hajar, di lembah Bakkah, yang kini kita kenali sebagai Mekah Al-Mukarramah. Mereka kekal menetap di situ sehingga lahir cucu keturunan mereka, iaitu kaum Arab. Dan seterusnya dari kaum Arab ini, adanya kaum Quraisy, kemudian adanya Bani Hasyim, dan seterusnya dari situlah lahirnya kekasih kita Muhammad saw.
      Penulis juga ingin menceritakan di sini tentang kisah bagaimana datuk baginda saw mendapat nama ‘Abdul Muttalib’, dan juga bagaimana mereka dikenali sebagai Bani Hasyim.
Suatu ketika dahulu, terdapat dua orang adik-beradik, seorangnya bernama Hasyim, dan seorang lagi bernama Muttalib. Maka dikatakan Hasyim telah berhijrah ke Yathrib (yang kini kita kenali sebagai Madinah), dan Muttalib pula kekal di Mekah. Ketika Hasyim di Yathrib mendapat cahaya mata, dia menamakan cahaya matanya itu Muttalib, sempena nama saudara kandungnya di Mekah. Setelah kematian Hasyim, rakan-rakannya telah menghantarkan berita kepada Muttalib di Mekah, menceritakan tentang kematian saudaranya, dan meminta agar dia datang ke Yathrib untuk mengambil anak saudaranya ke Mekah. Setibanya di Mekah, orang ramai melihat Muttalib membawa anak saudaranya, yang juga bernama Muttalib, di belakang kudanya. Di zaman ini, seorang budak yang dibawa naik bersama menunggang kuda adalah biasanya hamba si penunggang kuda, maka dari itulah budak tersebut mendapat gelaran ‘Abdul Muttalib’, iaitu ‘hamba Muttalib’, dan Abdul Muttalib itulah datuk Rasulullah saw.

Penulis juga ingin menceritakan tentang hikmah dan faedah kita mengetahui nama ayah dan ibu baginda saw.
Kata Aisyah ra, terdapat empat cara perkahwinan masyarakat jahiliyyah sebelum datangnya Islam, dan ia adalah:-
i) jika seorang wanita mempunyai kenginan untuk menjalinkan hubungan, dia akan menggantungkan kain, atau meletakkan tanda pada pintu rumahnya. Mana-mana lelaki yang juga sedang berkeinginan akan memasuki rumah tersebut, dan jika mereka bersetuju, hubungan akan terjadi dan jika terhasil anak dari hubungan tersebut, lelaki tersebut akan bertanggungjawab menjaga anak tersebut. Lihat bagaimana walaupun mereka masyarakat Jahiliyah, mereka lebih bertanggungjawab dari jahiliyah moden zaman kita ini, yang sanggup membuang anak di dalam tong sampah. 

ii) ‘perkahwinan’ yang mana seorang wanita menjalinkan hubungan serentak dengan beberapa orang lelaki, dan jika wanita tersebut mengandung, dia akan membawakan bayi tersebut kepada mana-mana lelaki tadi, dan dia akan bertanggungjawab dengan bayi tersebut.

iii) ‘perkahwinan’ di mana jika seorang lelaki yang mempunyai isteri, dan mahukan anak dari keturunan pahlawan, maka dia akan menghantarkan isterinya untuk hidup bersama pahlawan tersebut, seperti hidupnya suami isteri. Apabila isterinya sudah mengandung, maka pahlawan tersebut akan menghantar pulang isterinya, dan anak tersebut akan dikira sebagai anak lelaki tersebut.

iv) perkahwinan melalui akad pernikahan yang sah, yang sebagaimana yang kita ketahui sekarang.

         Penting bagi kita mengetahui nama ibubapa baginda saw, kerana dari nama mereka kita boleh mengetahui manakah cara perkahwinan mereka, kerana dari cara perkahwinan mereka lahir Rasulullah saw. Penting bagi kita bahawa Rasulullah saw dilahirkan dari akad nikah yang sah dan murni, dan baginda saw bukankah anak luar nikah.
      Penulis juga ingin ketengahkan di sini tentang apakah agama Nabi Muhammad saw, serta beberapa orang sahabat baginda saw, sebelum Allah mengangkat baginda saw menjadi nabi dan rasul akhir zaman. Adakah baginda menyembah berhala? Adakah baginda pernah menghulurkan korban kepada sembahan-sembahan kafir Quraisy?
       Agama yang diikuti oleh Rasulullah saw sebelum baginda diangkat menjadi rasul, ialah agama yang kita kenali sebagai Al-Hunafa’, iaitu mereka menyembah Allah swt, dan mereka solat dan beribadah kepada Allah swt mengikut cara yang telah diwariskan oleh Ibrahim as. Maka Muhammad saw, Abu Bakar dan juga Ali ibni Abu Talib ra, kesemuanya adalah dari golongan ini, maka mereka tidak pernah menyembah berhala atau apa-apa amalan syirik.
Sesungguhnya Allah swt telah memelihara Rasulullah saw dari sebarang bentuk syirik dan maksiat, sejak dari sebelum kebangkitan baginda saw menjadi rasul lagi. Kerana itulah kita katakana bahawa perihal hidup baginda saw sebelum diangkat menjadi rasul juga termasuk di dalam definisi sunnah.

‎5 orang yang mirip wajah RASULULLAH S.A.W:


1. Jaafar bin Abi Tolib-
2. Abu Sufian bin Haris bin Abdul Mutalib.
3. Qasam bin al-Abbas.
4. As-Saib bin Ubaid bin Abd.Manaf.
5. al-Hassan bin Ali bin Abi Tolib.

1 minit untuk mengingat Allah



* Langkah 1:
* Sebutlah dengan sepenuh hati dan lidah yang fasih:

* * SUBHANA'LLAH
* * ALHAMDULI'LLAH
* * LA I LAHA ILLA'LLAH
* * ALLAHU AKBAR
* * ASTAGHFIRU'LLAH
* * LA ILAHA ILLA'LLAH, MUHAMMADUN RASULU'LLAH
* * ALLAHUMMA SALLI WA SALLIM WABARIK 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WAAALIHI WA SAHBIH AJMA'EEN


* Langkah 2:
* Hayatilah sedalamnya akan makna ayat demi ayat, perkataaan demi perkataan

* Langkah 3:
* Forward kepada orang yang anda kasihi.

* Hasil 1:
* Dalam tempo satu jam anda telah berjasa mengajak mereka untuk mengingat, berdoa dan bermunajat kepada ALLAH SWT.

* Hasil 2:
* Dalam tempo satu jam anda telah berjasa mengajak mereka untuk mengingat, berdoa kepada Nabi Muhammad SAW.

* Hasil 3:
* Dalam masa satu jam sekurang-kurangnya 7 orang telah mendoakan kesejahteraan untuk kamu dan di-AMIN-kan oleh para Malaikat.

Wassalam

4 5 `/L ass=MsoNormal> 

#Semua Umat Muhammad s.a.w akan Masuk syurga kecuali yang melakukan dosa syirik.


"Ya Allah kami bersyukur kepada-Mu atas nikmat Islam dan nikmat Iman yang engkau berikan kepada kami"

Betapa besar rahmat Allah Ta'ala kepada manusia khususnya kepada umat Muhammad s.a.w dibandingkan dengan kemurkaan-Nya, sebagaimana Rasulullah s.a.w bersabda dari sahabat Abu Hurairah ra:

"Ketika Allah selesai menc
iptakan makhluk, Dia menulis di dalam kitab-Nya, kitab itu disisi-Nya, di atas `arsy, `Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku'" (HR. Bukhari)

Dari Abu Dzar ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Jibril berkata kepadaku, `Barangsiapa meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk syurga atau tidak masuk neraka'". Abu Dzar ra., berkata, "Dan meskipun dia berzina dan meskipun dia mencuri ?", Beliau SAW bersabda, "Dan meskipun" (HR. Bukhari)

Dan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Diampunkanlah seorang wanita penzina yang melewati anjing (yang berada) di atas sumur yang menjulurkan lidahnya dan hampir mati kerana kehausan, lalu wanita itu melepas sepatunya dan diikat dengan kerudungnya lalu ia membawa air kepada anjing itu maka (dia, wanita itu) diampuni karenanya" (HR. Bukhari).

Dari Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Syafa'atku akan diberikan bagi pelaku dosa besar dari umatku" (HR. Abu Dawud no. 4739, At Tirmidzi no. 2435, Ibnu Hibban no. 2596, Ibnu Abi Ashim no. 832, Ahmad III/213 dan Al Hakim I/69, At Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini hasan shahih")

Dari Abdullah bin Abbas ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Tidaklah seorang muslim pun yang meninggal lalu ia dishalatkan oleh sebanyak 40 orang laki ? laki yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun kecuali ia akan memperoleh syafa'at atau tertolong oleh mereka" (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya" (QS An Nisaa' 48)

ADAB DAN HAK TERHADAP IBU BAPA.


1. Mentaati ibu dan bapa dlm semua hal kecuali perintah melakukan maksiat.
2. Berbicara dgn keduanya dgn sopan dan lemah lembut.
3. Bangun mghormati keduanya apabila mereka dtg.
4. Mencium tangan keduanya stp pagi dan petang.
5. Memelihara nama, kehormatan serta harta benda mereka.
6. Memuliakan mereka dan mberi apa yg mereka pinta.
7. Berbincang dgn mereka dlm sga
la pkerjaan n urusan.
8. Merbanyakkan doa dan memohon ampun utk mereka.
9. Sentiasa berusaha mgembirakan dan myenangkan mereka.
10. Tidak mengangkat suara di hadapan mereka.
11. Tidak memotong percakapan mereka.
12. Tidak keluar tanpa keizinan mereka.
13. Tidak memeranjatkan mereka jika mereka sdg tidur.
14. Tidak melebihkan isteri dan anak dari mereka berdua.
15. Tidak mencela mereka jika mereka mlakukan sstu yg tidak memuaskan.
16. Tidak tertawa didalam majlis mereka, jika x ada sebab yg menarik utk ketawa.
17. Tidak memakan makanan yg ada disisi mereka.
18. Tidak memakan makanan dlm satu hidangan mendahului mereka.
19. Tidak berbaring atau tidur sedangkan mereka msh lg duduk kecuali mereka  mengizinkannya.
20. Tidak melunjurkan kaki di hadapan mereka.
21. Tidak berjalan mendahului mereka.
22. Menyahut panggilan mereka serta merta apabila mereka memanggil.
23. Memuliakan sahabat2 mereka khususnya sesudah mereka mati.

Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka memeliharaku dgn penuh kasih sayang pada waktu kecil (Surah al-Isra' : 24)

Redha Allah letak pada redha ibu bapa.

Bersyukurlah kpd yg masih mempunyai ibu bapa, kerana dgn menjaga dan melayan mereka dgn penuh kasih syg, Allah akan mberikan pahala...

Kirimkan doa dan sedekah utk ibu bapa yg telah ada...kerana itulah bekalan disana...doa anak yg soleh.

Semoga kita semua menjadi anak yg soleh dan solehah, Ameen ya Rabb Alamin.

#Beriman kpd Malaikat adalah Rukun Iman kedua.


Drpd Abu Umamah r.a drpd Nabi s.a.w sabdanya bermaksud:

Malaikat yg di sebelah kanan (Yg menjadi penulis kebaikan) ialah ketua kpd yg sebelah kiri, maka apabila seseorg itu mlakukan sesuatu kebaikan ditulis baginya kebaikan itu menjadi 10 kebaikan yg disebut dan apabila dia melakukan sesuatu kejahatan, lalu malaikat yg disebelah kiri hendak menulisnya, lalu malaikat disebelah kanan berkata: 'Tungg
u dahulu', lalu dia menunggu selama 6 atau 7 jam, maka jika org tu beristigfar drpd pbuatan jahat itu, tidaklah ditulis sstu pun, dan jika dia tidak meminta ampun kpd Allah, dituliskan baginya satu kejahatan shj. (Hadis riwayat at-Tabrani).

1.Malaikat Jibril; menyampaikan wahyu kpd rasul dam nabi.
2. Malaikat Mikail; Membahagikan rezeki kpd seluruh makhluk.
3. Malaikat Izrail: Mengambil nyawa sekalian makhluk.
4. Malaikat Israfil; Meniup sangkakala ketika kiamat nanti.
5. Malaikat Raqib dan Atid; Mencatat amalan baik dan jahat.
6. Malaikat Munkar dan Nakir; Menanyakan soalan didalam kubur.
7. Malaikat Malik; Menjaga neraka.
8. Malaikat Ridhwan; Menjaga syurga.

SYAFAAT 'UZMA.


Ertinya pertolongan terbesar yg diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w kpd semua makhluk. Rasulullah s.a.w berdoa kpd Allah agar disegerakan hisab ke atas umat manusia lalu diperkenankan Allah. 

Drpd Ibu Umar r.a katanya, ''Aku telah mendengar Rasulullah s.aw bersabda;
Sesungguhnya matahari akan dekat atas kepala manusia sehingga air peluh sampai ke paras telinga, maka dlm masa mereka
berkeadaan demikian, mereka meminta ptolongan drpd Nabi Adam a.s. Lalu beliau menolak dan berkata: Aku bukanlah orang utk itu. Kemudian mereka meminta pula kpd Nabi Musa a.s. Dia menjawab dgn jwpn yg sama spt Nabi Adam. Akhir sekali mereka dtg menemui Nabi Muhammad s.aw memohon syafaatnya, lalu Rasulullah mengemukakan syafaatnya. Setelah itu Allah Taala akan memulakan perbicaraan utk menghakimi khalayak yg ramai itu.., maka pd waktu itu Allah mengangkatnya (Nabi Muhammad s.a.w) ke martabat ''Maqaman Mahmuda'' (maqam paling terpuji) yg dipuji oleh semua makhluk yg ada di padang Mahsyar''.

Selain drpd Nabi Muhammad s.a.w, nabi-nabi yg lain, para alim ulama', para syuhada juga diberikan keistimewaan oleh Allah utk mereka mberi syafaat masing2.

Syafaat itu adlh syafaat kecil, spt memasukkan seseorg ke dalam syurga tanpa hisab.

Aurat!


Berbalik kepada persoalan mendedah aurat belum confirm masuk neraka. Jika berpandukan kepada Hadis Nabi SAW, memang confirm dedah aurat masuk neraka. Bukan hanya sekadar masuk neraka malah menghidu bau syurga pun tidak mampu.

"Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw beliau berkata: "Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum aku lihat saat ini ; pertama, satu kaum yang membawa cemeti seperti 
ekor sapi. Mereka memukul manusia dengan cemeti tersebut. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang (tidak menutup aurat dengan sempurna). Mereka berlengang-lenggok dan menggoyang-goyangkan kepala mereka seperti ponok unta yang condong. Wanita-wanita tersebut tidak akan masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya pun. Padahal bau syurga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian" (HR. Muslim).

Antara dalil lain yang boleh digunakan bagi menjawab persoalan wanita yang membuka aurat dengan sengaja walaupun tidak menentang kewajipan menutup aurat, kompom masuk neraka atas dalil:

"Rasulullah s.a.w bersabda: Semua umatku akan masuk syurga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan? Baginda menjawab: Barangsiapa yang taat kepadaku, dia masuk syurga dan barangsiapa yang melanggar perintahku, dia telah enggan.
(Hadith Sahih Riwayat Imam Bukhari & Muslim)

Di dalam peristiwa israk mikraj pun Rasulullah SAW ada menyatakan bahawa baginda melihat perempuan yang digantung rambutnya dalam neraka hingga menggelegak otak kepalanya atas kesalahan tidak menutup rambutnya daripada bukan mahramnya.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. dan Abu Said r.a., bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda :

“Syurga dan neraka berdebat. Lalu syurga berkata, “aku dimasuki orang-orang lemah dan miskin.”
Neraka berkata: “Aku dimasuki orang-orang yang suka menindas dan sombong.”

Lalu Allah s.w.t. berfirman kepada neraka: “Sesungguhnya engkau adalah seksa-Ku, dan Aku menyeksa orang-orang yang Kuhendaki denganmu.”
Kemudian Allah s.w.t. berfirman pula kepada syurga: “Engkau adalah rahmat-Ku, dan Aku merahmati siapa sahaja yang Aku kehendaki. Setiap kamu akan diisi hingga penuh." (Riwayat Al-Bukhari, no. 2846)
Akan tetapi, jika kita sendiri mempersoalkan suruhan Allah dengan membidas bahawa buat baik belum confirm masuk syurga atau buat jahat belum confirm masuk neraka, tak rasa malukah nak mengharap rahmat Allah terhadap kita? Tak rasa malukah nak menumpang syurga Allah?

Melaksanakan perintah Allah ganjarannya pahala, syurga, rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Mengerjakan larangan Allah balasannya adalah dosa, neraka, kemurkaan dan azab Allah SWT. Kesimpulannya, ahli syurga tidak berdosa, manakala ahli neraka berdosa. Akan tetapi, setiap orang yang berdosa pasti akan ke syurga jua akhirnya nanti jika dia masih Islam dan tidak murtad. Itupun setelah menempuh azab siksa yang maha dahsyat di neraka kelak bagi menyuci dosanya, yang mana sehari di neraka bersamaan 1000 hari di dunia ini. Mampukah nak tanggung? Letak hujung jari dekat api lilin sekejap pun dah meraung.

Jika buat maksiat belum confirm masuk neraka, adakah buat maksiat tu anda yakin confirm masuk syurga? Jadi, gunakanlah kesempatan ini untuk bertaubat nasuha. Bukannya mempertikaikan ganjaran syurga atau neraka.  Setiap manusia biasa tidak pernah terlepas daripada melakukan dosa. Bertaubatlah setiap masa. Jangan nak tunggu tua baru nak bertaubat. Boleh jaminkah anda boleh bernafas lagi selepas membaca artikel ini? Sebaik-baik amalan adalah yang ikhlas semata-mata mengharapkan keredhaan Allah, bukannya semata-mata nak masuk syurga ataupun takutkan azab neraka.




______________________________________________________________________

Hadis manakah yg menunjukkan tutup aurat xwajib dan yg tutup aurat tu xsemestinya xbaik? kita x tahu amalan mana yg allah terima dgn sbb amalan tu kita masuk syurga. kita juga x tahu mungkin dgn sbb kita maksiat@engkar perintah allah dgn sbb tu kita masuk neraka...

so, kesimpulan nya baik kita patuh suruhan dan tinggalkan larangan..



"Jika aku TIDAK menulis dengan jari, maka aku akan menulis dengan HATI,..aku tidak pandai berbahasa sastera maka aku BERUSAHA berbahasa TAKWA..menulis bukan untuk mengkayakan BAHASA tapi menulis untuk melakar IMAN didalam jiwa... >>Biarlah sekalipun kita tidak TIDAK HEBAT menulis,..yang penting setiap ILMU yang disampaikan terus ditulis, menulislah sesuatu yang PERLU,..jangan menulis mengikut mahu, apabila kita sentiasa MANFAATKAN sesuatu yang ada disisi, secangkir pena sekalipun banyak memberi ERTI kepada yang memerlukan".








Memaparkan catatan dengan label ::Agama::. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ::Agama::. Papar semua catatan

Rabu, 28 Ogos 2013

Talak Tiga dan Solusi Yang Baik

A. Talak Yang Bisa Rujuk dan Yang Tidak Bisa Rujuk
Dilihat dari segi apakah bisa rujuk atau tidak, talak itu terbagi menjadi tiga macam. Talak yang secara mutlak tidak bisa kembali lagi, baik dengan rujuk atau dengan nikah ulang disebut dengan istilah talak bainunah kubra. Bentuk teknis talak ini sesuai yang disepakati para ulama adalah bila suami menceraikan istri, lalu merujuknya, lalu menceraikan lagi, terus  merujuknya lagi dan menceraikan untuk kali yang ketiga. Setelah itu tidak bisa rujuk lagi, kecuali istri menikah dulu dengan orang lain.

Adapun bila suami mentalak istrinya dengan talak tiga sekaligus, para ulama sepakat bahwa hukumnya haram dan berdosa, namun mereka berbeda pendapat dalam konsekuensinya, apakah jatuh talak tiga atau hanya talak satu, atau sama sekali tidak jatuh talak.
 
Ketiga jenis talak itu adalah talak raj’i, talak bain (bainunah shughra) dan talak bainunah kubra :
  
1. Talak Raj‘i
 
Talak raj‘i (طلاق رجعي) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada isterinya, namun suami masih mempunyai hak untuk rujuk dan kembali kepada isterinya.
 Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا
 Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) tersebut menghendaki islah.(Al-Baqarah: 228)

 Talak raj‘i adalah talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya, namun sebelum berakhir masa iddahnya, suaminya merujuknya. Sehingga keduanya kembali lagi menjadi suami istri seperti sedia kala.

 Kesempatan melakukan talak raj’i bagi seorang suami hanya dua kali, sebagaimana firman Allah SWT :
الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
 Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(QS. Al-Baqarah : 229)

 Bila sudah dua kali suami menjatuhkan talak kepada istrinya, lalu dirujuk lagi, maka bila suaminya itu menjatuhkan lagi talak untuk ketiga kalinya, talak itu berubah menjadi talak yang tidak bisa kembali lagi, atau disebut dengan talak bainunah kubra.

 Selama masa iddah, seorang isteri yang ditalak raj‘i mempunyai hukum yang sama seperti hukum yang berlaku pada seorang isteri dalam pemberian nafkah, tempat tinggal atau yang lainnya seperti ketika belum ditalak, sehingga berakhir masa ‘iddahnya. 

 2. Talak Bainunah Shughra

 Talak ba’in (طلاق بائن) atau lazim disebut dengan talak bainunah shughra (بينونة صغرى) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami, sebagaimana talak raj’i di atas, namun hingga habis masa iddah istri, suami tidak melakukan rujuk. Dengan demikian, tamatlah sudah ikatan perkawinan di antara keduanya, sehingga keduanya resmi sudah bukan suami istri lagi.

 Namun demikian, selama mantan istri itu belum kawin lagi, maka keduanya masih boleh bersatu lagi. Bukan dengan jalan rujuk, melainkan dengan cara menikah ulang, dengan lamaran, mahar, dan ijab kabul serta akad nikah yang baru.

 Perbedaan rujuk dengan menikah ulang adalah bahwa rujuk itu hanya dilakukan sebelum habis masa iddah istri yang ditalak. Dan rujuk itu bukan akad nikah, melainkan hanya diniatkan saja di dalam hati oleh suami, atau diucapkan, atau dilakukan hubungan suami istri, maka otomatis terjadilah rujuk.

 Sedangkan yang disebut dengan menikah ulang adalah sebagaimana yang dilakukan oleh pasangan yang belum pernah menikah sebelumnya. Menikah ulang itu berarti harus melewati tahapan-tahapan seperti melamar, memberi mahar, juga melakukan ijab qabul antara wali dan suami, dengan dihadiri oleh minimal dua orang saksi.

 3. Talak Bainunah Kubra

 Talak ketiga adalah talak bainunah kubra (طلاق بينونة كبرى). Talak ini adalah talak yang ketiga kali dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya. Dalam bentuk halalnya (talak sunnah), talak ini harus dilakukan dengan tiga kali secara terpisah, dimana di antara talak yang pertama, kedua dan ketiga harus ada proses rujuk terlebih dahulu. 

 Hukum talak tiga ini tidak dibolehkan untuk dijatuhkan sekaligus secara bersamaan. Apabila hal itu dilakasanakan juga, tentu suami berdosa karena melanggar ketentuan Allah SWT dan rasul-Nya. Dan termasuk ke dalam jenis talak bid’ah.


 Namun lepas dari hukumya yang haram, bila seseorang tetap melakukannya juga, apakah talaknya jatuh dan berlaku talak tiga? Dalam hal ini kita menemukan dalam beberapa kitab fiqih beberapa pandangan yang berbeda. 

 a. Jumhur : Jatuh Talak Tiga

 Keempat mujtahid mutlak dalam masing-masing mazhabnya sepakat bahwa talak tiga yang dijatuhkan secara langsung bersamaan, hukumnya talaknya jatuh tiga, termasuk bainunah kubra.

 b. Syiah Imamiyah : Tidak Jatuh Talak Sama Sekali

 Pendapat syiah imamiyah tegas menyatakan bahwa talak tiga yang dijatuhkan sekaligus justru sama sekali tidak menyebabkan talak apapun, alias sama sekali tidak jatuh talak.

 c. Ibnu Taimiyah & Ibnul Qayyim : Jatuh Talak Satu

 Pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan juga pendapat yang mewakili kalangan mazhab Zahiriyah menyatakan bahwa talak yang berlaku hanya talak satu saja dan bukan talak tiga. 

 B. Alternatif Solusi 

 Alternatif solusi yang bisa ditawarkan agar bisa kembali lagi dalam kasus ini tergantung dari apa yang sudah terjadi sesungguhnya, yaitu apakah suami sudah dua kali menceraikan istrinya lalu merujuknya dan sekarang ini hitungannya sudah yang ketiga kalinya? Ataukah kasusnya suami menjatuhkan talak tiga sekaligus?

 1. Pertama 


 Kalau kejadiannya yang pertama, yaitu suami sudah dua kali talak dan dua kali rujuk, maka untuk talak yang ketiga kalinya tidak ada jalan keluarnya, kecuali harus pisah tanpa bisa dirujuk lagi. Kalau pun mau rujuk, jalannya agak panjang dan berliku, bahkan nyaris hampir mendekati mustahil secara nalar. 

 Sebab istri harus menikah dengan suami baru dengan niat dan tujuan untuk menikah selamanya, dan harus terjadi hubungan badan yang sah. Kalau suatu hari suaminya yang baru itu menceraikannya tanpa dirujuk hingga habis iddahnya, barulah boleh kembali kepada suami yang pertama.


 Dasar ketentuan ini adalah firman Allah SWT :
فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
 Kemudian jika si suami mentalaknya , maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya  untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang  mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 230)

 2. Kedua


 Namun bila yang terjadi adalah kasus suami menjatuhkan talak tiga sekaligus kepada istrinya, nampaknya cuma dengan jalan meninggalkan pendapat jumhur ulama, dan berpindah kepada pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Dimana meski seorang suami secara langsung menjatuhkan talak tiga sekaligus, maka hitungannya tetap dianggap talak satu.
 
 Dan karena cuma talak satu, tentu saja boleh langsung dirujuk saat itu juga. Sehingga hubungan pernikahan antara suami dan istri tidak sempat terlepas. 

 Namun perlu diingat, pasangan yang sudah pernah melakukan talak satu ini, kalau suatu ketika melakukannya lagi, berarti akan terjadi talak kedua. Dan bila melakukannya lagi, berarti nanti jatuh talak ketiga.


 C. Talak Yang Diucapkan Dengan Emosi

 Para ulama sepakat bahwa talak yang diucapkan dengan emosi tetap jatuh talak. Dan dalam kenyataannya, kebanyakan talak itu memang dijatuhkan dalam keadaan emosi. Malah kita nyaris tidak menemukan dimana suami menjatuhkan talak dengan riang gembira dan hati berbunga-bunga. 

 Kalau talak yang dijatuhkan dalam keadaan emosi harus dianggap tidak sah, maka bubarlah syariat Islam, karena semua orang pasti yang mentalak istrinya akan mengatakan bahwa dirinya menjatuhkan talak dalam keadaan emosi.


 Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan tentang talak yang diucapkan dengan emosi :
مَا يَقَعُ مِنَ الْغَضْبَانِ مِنْ طَلاَقٍ وَعَتَاقٍ وَيَمِينٍ فَإِنَّهُ يُؤَاخَذُ بِهِ
 Apapun yang diucapkan oleh orang yang marah (emosi), baik talak, membebaskan budak atau sumpah, maka semua itu berlaku.

 Dalil lainnya adalah apa yang terjadi Khaulah binti Tsa'labah, istri Aus bin Ash-Shamith. Suaminya marah kepadanya dan menjatuhkan dzhihar kepadanya. Maka Khaulah mendatangi Rasulullah SAW dan berkonsultasi. Dia mengatakan,
لَمْ يُرِدِ الطَّلاَقَ فَقَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا أَعْلَمُ إِلاَّ قَدْ حَرُمْتِ عَلَيْهِ
 "Suami saya tidak berniat untuk mentalak saya". Namun Rasulullah SAW menjawab,"Aku tidak tahu kecuali dirimu telah diharamkan untuknya". (HR. Al-Baihaqi)

 Demikian jawaban singkat ini, semoga bisa sedikit memberikan pencerahan. Kebenaran hanya milik Allah SWT.

 Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



sumber: lhttp://syahlanbro.blogspot.com/2012/12/talaq-tiga-dan-solusi-yang-baik.html

Jumaat, 17 Mei 2013

Permasalahan SOLAT QADHA menurut Mazhab Shafie.


Solat qadha terbahagi kepada dua:- 

1. Meninggalkan solat kerana keuzuran seperti tertido. 
- Disunatkan menyegerakan qadhanya supaya terlepas dari tanggungjawab dengan segera. 
- Disunatkan juga mendahulukan qadha sekiranya tidak ditakuti habis waktu untuk solat tunai tersebut. - -- Disunatkan juga mengqadha solat mengikut tertib solat tersebut seperti mendahulukan solat subuh ke atas solat zohor. 

2. Meninggalkan solat dengan sengaja. 
- Wajib menyegerakan qadha 
- Wajib melapangkan sepenuh masa untuk menqqadhanya kecuali masa yang diperlukan untuk keperluan hidup seperti mencari rezeki untuk kehidupan dia dan orang dibawah tanggungannya. Haram untuknya melapangkan masa untuk perkara yang bukan menjadi keperluan hidupnya seperti bercakap sia2,main game,main facebook dan yang seumpama dengannya. 
- Wajib mendahulukan solat qadha yang disengajakan keatas solat qadha yang kerana keuzuran. Haram didahulukan qadha kerana keuzuran yang disengajakan tetapi solat adalah sah. 

PERHATIAN!! 

HARAM menunaikan apa2 bentuk solat sunat bagi orang yang masih ada solat qadha yang belum disempurnakan. 

(Rujukan kitab bushral kariim syarah kepada mukaddimah hadhramiyah dan juga kitab mughnil muhtaaj syarah kepada minhaajuttolibiin.)

Siapakah orang yang DIWAJIBKAN untuk mengqadha solatnya?
-Lelaki: Yang beragama Islam, berakal dan suci.
-Perempuan: Tidak diwajibkan mengqadha solat-solat yang terpaksa ditinggalkan semasa berada didalam keadaan haid.

Jumhur ulamak pelbagai mazhab bersepakat bahawa orang yang meninggalkan solat diwajibkan mengqadakannya sama ada dia terlupa atau sengaja meninggalkannya. Lalu bagaimana jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja selama berpuluh-puluh tahun? 

Contoh kalau seseorang itu meninggalkan solat selama 20 tahun, hendaklah dia mengira sebanyak mana solat yang perlu digantikan. Contohnya 365 hari (1 tahun) dikalikan dengan 5 (solat 5 waktu) iaitu bersamaan dengan 1825 waktu yang perlu diganti. 1825 waktu pula dikalikan dengan 20 tahun, hasilnya ialah 36500 solat yg perlu digantikan. Jadi masing-masing boleh mengira sendiri samada dalam tempoh 20 tahun itu dia pernah solat tetapi dalam sekitar 20% sahaja daripada waktu itu, maka tolaklah 20% daripada jumlah waktu yang perlu diqadhakan itu. 

Dengar macam berat, tapi sebenarnya itulah tanda kasih sayang Allah. Allah memerintahkan kepada kita untuk solat, mungkin kita dulu jahil/lagha sehingga meninggalkan solat yg sememangnya wajib ke atas kita. Allah sememangnya nak masukkan kita ke dalam syurga dengan rahmatNya, maka solat merupakan salah satu ibadah yang menjadi kuncinya. Jadi, sebenarnya solat adalah salah satu ibadah yang merupakan satu perjanjian antara kita dengan Allah SWT, seperti yang telah disebutkan didalam sebuah hadith:

Daripada Ubadah bin Al-Shomit RA dia berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Sembahyang lima waktu itu telah diwajibkan oleh Allah ke atas hamba-hambaNya. Barangsiapa yang menunaikannya, bermaakna dia tidak mensia-siakan sesuatupun daripada kewajipan tersebut lantaran memandang ringan terhadapnya, maka dia akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan sesiapa yang tidak menunaikannya maka dia tidak ada apa-apa perjanjian di sisi Allah. Sekiranya Allah menghendaki Dia akan mengazabkannya dan jika Dia kehendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam syurga." (Hadith riwayat Abu Daud (1420) dan lain-lain).

Ada sebuah hadith yang berbunyi: Daripada Anas RA daripada Nabi SAW sabdanya: "Sesiapa yang terlupa (mendirikan sembahyang) maka dia hendaklah sembahyang apabila dia mengingatinya dan dia tidak dikenakan kafarrah melainkan mendirikan sembahyang tersebut. Baginda membaca firman Allah yang bermaksud: Dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati-Ku. (Thaha: 14)" (Hadith riwayat Al-Bukhari (572) dan Muslim (684) )

Jadi daripada hadith ini jelaslah bahawa qadha solat sebaik sahaja kita teringat solat yang kita masih belum tunaikan setelah habis waktu kerana terlupa atau tertidur, wajiblah dia mengqadha solatnya itu tetapi tidaklah diwajibkan bersegera untuk menunaikannya. Ia berbeza kepada orang yang sengaja meninggalkan solat kerana malas, maka wajiblah dia segera mengqadakannya dan memperuntukkan lebih banyak waktu lapang untuk digunakan bagi mengqadha solat.. Bagi mereka yang terlupa atau tertidur sehingga tertinggal 1 atau lebih waktu solat, kadangkala seseorang itu akan teringat pada masa-masa yang dimakruhkan (makruh jenis tahrim, yakni makruh yang hampir ke tahap haram) untuk solat seperti waktu:

1- Ketika matahari berada di tengah-tengah langit - kecuali pada hari jumaat - dan selepas sembahyang Subuh sehingga matahari naik setinggi tombak (setinggi satu galah).
2- Selepas sembahyang Asar hingga jatuh matahari.

Maka pada waktu-waktu sebegini tidaklah dilarang untuk menunaikan solat qadha. 

Dimana pula dalil-dalil yang memerintahkan solat qadha bagi mereka yang meninggalkan solat biarpun bertahun-tahun kerana malas? Seperti yang kita ketahui, sumber ilmu yang menjadi tatapan para ulamak untuk istinbath (menggali) sesuatu hukum tauhid dan feqah itu adalah daripada Al-Quran, hadith (yang diambil untuk dijadikan sunnah), ijma dan qias. Tetapi tidak terdapat hukum daripada Al-Quran dan hadith yang mengatakan seseorang itu hendaklah mengqadhakan solatnya yang telah ditinggalkan bertahun-tahun. Ini kerana pada zaman Nabi SAW majoriti umat Islam pada zaman itu, begitu jarang sekali ada orang Islam yang meninggalkan solat selain terlupa dan tertidur. Jadi para ulama mendapati masalah ini mula berlaku apabila umat Islam semakin jauh daripada agama dan melalaikan kewajipan solat. Jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja kerana malas, ia masih tidak dianggap sebagai kafir kecuali kepada mereka yang mengatakan solat itu tidak wajib dan sebagainya. Oleh kerana itu para ulama bersepakat terutamanya dalam mazhab Syafie mewajibkan bagi orang yang meninggalkan solat dengan sengaja selama bertahun-tahun hendaklah menggantikan/mengqadhakan solat itu dengan kadar yang tertentu bergantung kepada berapa banyak solat yang ditinggalkan oleh seseorang itu. 

Apakah itu ijma'? Ijma' merupakan sumber rujukan yang ketiga daripada sumber-sumber hukum (selepas Al-Quran dan sunnah), apabila kita tidak dapati sesuatu hukum di dalam Al-Quran dan as-Sunnah maka kita lihat, adakah perkara tersebut telah disepakati oleh ulama' atau tidak. Sekiranya ia merupakan ijma' ulama', makan hendaklah kita menerima dan beramal dengannya.

Q - Solat sunat, pun tak bolehkah? Rugilah kalau tak solat sunat. Saya baca banyak buku-buku yang menerangkan keutamaan solat-solat sunat seperti solat sunat Dhuha, witir, tarawikh, hari raya dan sebagainya yang sangat banyak fadilatnya. Takkan tu pun tak boleh kot? Kot ye pun, takkanlah sampai haram..?
A- Sepakat ulamak mengatakan haram solat sunat selagi solat qadha masih belum selesai ditunaikan. Selain solat jenazah (solat jenazah merupakan fardhu kifayah, maka ia berbeza antara fardhu kifayah dengan sunat), semua solat sunat seperti solat dhuha, witir, solat terawih, solat sunat hari raya aidilfitri/aidiladha, rawatib, solat hajat, solat taubat dan sebagainya diharamkan kepada mereka yang mempunyai solat fardhu yang masih tidak diqadhakan lagi. Ini kerana 1 solat fardhu lebih baik berganda-ganda daripada semua fadilat-fadilat solat-solat sunat yang disebutkan tadi. Jika kita menunaikan solat-solat sunat seumur hidup kita pun, ia tidak akan mampu menggantikan 1 solat fardhu sekalipun. Janganlah kita lupa, solat fardhu merupakan amalan ibadah kita yang pertama akan dinilai di akhirat nanti.
Bukankah kita boleh menggantikan solat-solat sunat itu dengan solat wajib? Contohnya sekiranya kita berjemaah di masjid, nak masuk masjid bukankah perlu solat sunat tahiyatul masjid? Maka gantikanlah solat sunat tahiyatul masjid itu dengan solat fardhu qadha Subuh contohnya.. Begitu juga dengan solat sunat Dhuha dan sebagainya... Dan bagaimana pula dengan solat terawih dan solat sunat hari raya..? Setahun sekali saja kita dapat menemui solat-solat seperti ini, bukan..? Maka gantikanlah solat sunat terawih itu dengan solat fardhu qadha. 
Jadi masing-masing fikirkanlah sendiri, samada berbaloi atau tidak solat sunat sedang solat qadha belum diselesaikan lagi. 

Q - Bagaimana cara-cara untuk qadha solat fardhu?
A - Niat solat qadha ialah seperti biasa, tetapi berbeza sedikit yakni dengan meniatkan qadha, perhatikan: "Nawaitu fardhal subhi rok'ataini QADHAAN lillahitaala", bermaksud: "Sahaja aku menunaikan solat fardhu subuh 2 rakaat QADHA kerana Allah taala." 

Bagi yang mahu qadha solat fardhunya di masjid untuk mengelakkan sebarang fitnah untuk solat Subuh, solat seperti biasa, tetapi ketika hendak membaca doa qunut, pendekkan sahaja bacaannya sekadar rukun yakni:
-Bacaan qunut itu sendiri
-Selawat ke atas Nabi SAW.
Dalam hal ini, cukuplah sekadar membaca sepatah bacaan qunut, contohnya "Allahummah dini fiiman hadait" kemudian terus sambung membaca selawat ke atas Nabi SAW, iaitu: "Fasallallahu'ala saiyidina Muhammadinin Nabi ummiyyi wa'ala 'alihi wasohbihi barik wasallim." kemudian barulah turun sujud. Jangan turun sujud selagi tidak sempurna rukun bacaan doa qunut tadi, yakni hendaklah membacanya sehingga habis dalam keadaan berdiri itu. Angkat tangan untuk berdoa pun sunat, tak perlu angkat tangan untuk berdoa. Kemudian bagi yang mahu menunaikan solat qadha Zuhur, Asar, Maghrib atau Isyak, buatlah dirumah, atau boleh saja melakukannya dimasjid jika kita tidak mempedulikan pandangan orang (itulah yang sebaik-baiknya, kerana kewajipan menunaikan solat qadha lebih penting daripada menilai perhatian orang lain).

Berkenaan dengan solat sunat terawih dan solat sunat hari raya, bagaimana pula untuk qadha solat fardhu dalam keadaan berjemaah? Mengenai hal ini, mungkin agak rumit untuk diperjelaskan dan difahami oleh pembaca, tetapi saya akan cuba untuk menjelaskan sebaik mungkin.

Qadha solat fardhu ketika berjemaah dengan jemaah yang menunaikan solat terawih:
-Biasanya di masjid akan melakukan solat sunat terawih sebanyak 20 rakaat. Dan ia dilakukan sebanyak tiap-tiap 2 rakaat 1 salam. Jadi bagi mereka yang nak qadha solat subuh, bolehlah mengikut cara yang disebutkan tadi cuma perlulah diniatkan sebagai makmum yakni mengikut imam iaitu melalukan niat qadha solat subuh qadha mengikut imam kerana Allah taala semasa mengangkat takbir.

Tetapi bagi mereka yang hendak qadha solat Zuhur, Asar dan Isya', begini caranya:
-Hendaklah dia berniat untuk qadha solat Zuhur/Asar/Isya' sebagai makmum (mengikut imam). Solatlah seperti biasa mengikut imam, tetapi apabila imam memberi salam, kita tidak boleh mengucapkan salam juga, jika tidak, solat kita akan menjadi batal (kerana salam adalah tanda habisnya sesebuah solat yang didirikan). Jadi berniatlah untuk mufarakah daripada mengikut imam (yakni berniat untuk tidak lagi mengikut imam) dan kekalkan keadaan diri anda dalam keadaan tahiyat awal, ini kerana anda perlu bersedia pada bila-bila masa sahaja untuk bangun mengikut imam semula. Sesiapa yang hendak menggerakkan kepala sedikit hanya semata-mata isyarat untuk salam (supaya makmum disebelah kita tidak mengesyaki apa-apa kerana pelik dengan tindakan kita yang tidak memberi salam mengikut imam) maka lakukanlah kerana pergerakan itu tidak membatalkan solat (selagi anda tidak melafazkan salam atau mengalihkan dada dari arah kiblat). Sekarang doa dibacakan oleh imam dan para makmum, anda pula sedang dalam keadaan tahiyat awal. Maka bersabarlah sebentar untuk mereka habiskan bacaan doa itu, kemudian apabila imam bangun untuk solat 2 rakaat yang seterusnya, sebaik sahaja imam habis melafazkan takbir, niatkanlah (masukkan semula niat anda untuk mengikut imam kerana sebentar tadi anda telah berniat mufarakah dengannya) untuk mengikut imam untuk menyelesaikan 2 daripada 4 rakaat yang perlu dihabiskan untuk menyempurnakan solat fardhu qada 4 rakaat anda. Apabila imam memberi salam, pada waktu ini barulah anda boleh memberikan salam kerana anda sudah selesai menunaikan solat fardhu qada 4 rakaat. Perlu diingatkan, niat masuk-keluar-masuk daripada menjadi makmum kepada seorang imam ini hanya dibolehkan di dalam mazhab Syafie selagi solat imam itu tidak terbatal kerana najis/tersalah bacaan/lafaz dll. 

Kemudian, lakukanlah solat qadha fardhu 4 rakaat bagi rakaat yang seterusnya. Sekurang-kurangnya anda boleh menyelesaikan sebanyak 5 solat waktu untuk 20 rakaat solat terawih dan 1 solat maghrib untuk witir (solat witir didirikan dengan 3 rakaat 2 salam) yang sesuai untuk qadha solat Maghrib kerana bilangan solat witir yang ganjil.

Bagaimana dengan solat sunat hari raya..?
Solat sunat hari raya mempunyai 2 rakaat di dalamnya, dengan 7 takbir (tidak termasuk takbiratul ihram) pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua. Untuk rakaat pertama, niatkan solat qadha subuh mengikut imam dan ambil 1 takbir sahaja (samada pada permulaan takbir pertama imam - jika mengambil takbir pertama imam, maka xperlu mengangkat 7 takbir yang seterusnya, maka hendaklah anda diam sehinggalah imam membacakan Al-Fatihah) atau bertakbiratulihram pada takbir yang ke tujuh). Pada rakaat kedua, tidak perlu mengangkat sebarang takbir (kerana mengangkat takbir tambahan di dalam rakaat pertama dan kedua solat sunat hari raya adalah sunat; jika terlupa melakukannya dan terus membaca fatihah, maka takbir-takbir tadi luput tidak perlu diulangi semula) dan solat tetap sah - apa lagi anda yang sedang solat qadha). Kemudian habiskan solat dengan mengikut imam seperti biasa.

*permasalahan Qadha solat ini adalah mengikut mazhab shafie..


Isnin, 13 Mei 2013

This drawing shows where the sounds should come out from when you pronounce the Arabic letters.


Qada Dan Qadar


 

Qada dan qadar adalah salah satu dari rukun iman yang wajib dipercayai dan diimani oleh setiap orang Islam. Penjelasan mengenai qada dan qadar ini ada dibicarakan di dalam kitab-kitab aqidah dan perbincangannya agak panjang dan adakalanya begitu susah untuk difahami oleh kebanyakkan orang terutamanya bagi sesiapa yang baru menjejakkan kaki dalam perbincangan ilmu aqidah secara mendalam.



ERTI DAN BAHAGIAN QADA DAN QADAR

Qada bermaksud pelaksanaan. Adapun qadar bermaksud sukatan.Terbahagi kepada dua bahagian iaitu: Qada Mubram dan Qada Muallaq.
Qada Mubram: Adalah ketentuan Allah Taala yang pasti berlaku dan tidak dapat dihalang oleh sesuatu apa pun. (Contoh: Mati pasti akan berlaku). Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Qada Muallaq: Adalah ketentuan yang tidak semestinya berlaku bahkan bergantung kepada sesuatu perkara. (Contoh: Panjang umur bergantung kepada menghubungkan silaturrahim dan amal kebajikan yang lain). Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Tidak boleh ditolak qadar Allah Taala melainkan doa. Dan tiada yang boleh memanjangkan umur melainkan membuat baik kepada ibubapa.
(Riwayat Hakim, Ibnu Hibban dan Tarmizi).

SEMUA PERKARA DI DALAM PENGETAHUAN ALLAH TAALA

Kedua-dua jenis qada di atas ini adalah di dalam pengetahuan Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Segala perbuatan hamba adalah diketahui oleh Allah Taala melalui ilmu-ilmuNya. Hanya ianya terlindung dan tidak diketahui oleh hamba-hambaNya yang lemah. Kerana itulah kita disuruh untuk sentiasa berusaha dan taat kepadaNya kerana kita tidak mengetahui apa yang akan berlaku kepada kita nanti.

ANTARA BENTUK KETAATAN

Antara bentuk ketaatan adalah dengan berdoa kepada Allah Taala. Dengan berdoalah seseorang hamba itu akan merasakan dirinya lemah dan berhajat atau memerlukan kepada Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Aku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(Surah al-Baqarah: ayat 186).
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Doa merupakan otak kepada ibadat.
(Riwayat at-Tarmizi).

SENTIASA BERUSAHA DAN BERDOA

Setelah diketahui bahawa segala usaha dan doa dari hamba akan didengar dan diambil kira oleh Allah Taala maka dengan sebab itulah perlunya seseoarang hamba itu untuk sentiasa berusaha dan berdoa. Namun segala usaha dan doa ini sudah tentulah di dalam kuasa dan ilmu Allah Taala. Kerana itulah ada dinyatakan bahawa manusia hanya berusaha dan berdoa tetapi Allah Taala jualah yang menentukannya. Disebabkan manusia tidak mengetahui qada dan qadarnyalah maka manusia perlu kepada usaha dan doa. Firman Allah Taala bermaksud:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Surah ar-Rad: ayat 11).

KONSEP QADA DAN QADAR

Keperluan kepada konsep qada dan qadar di dalam Islam adalah:
- Menisbahkan kepada Allah Taala di atas segala yang berlaku di dunia ini.
- Beriman bahawa hanya Allah Taala yang memiliki kuasa mutlak menentukan urusan di dunia ini.
- Menyedarkan bahawa manusia itu lemah dan perlu kepada bantuan Allah Taala.
- Hikmah qada dan qadar disembunyikan dari pengetahuan hamba adalah supaya seseorang hamba itu sentiasa berusaha dan taat kepadaNya.

PERINGATAN

Peringatan daripada dalil hadis di bawah ini dapat mengingatkan kepada kita tentang bahayanya mempersoalkan dan memanjang-manjangkan perbincangan mengenai qada dan qadar ini tanpa sebab tertentu. Sebab itulah kebanyakkan para tok guru kita cuba mengelakkan diri dari berbicara mengenai qada dan qadar ini secara panjang lebar terutamanya kepada masyarakat awam.
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Apabila disebut tentang qadar maka diamlah…
(Riwayat Tabrani dan Abu Nuaim).

PENUTUP

Sebagai umat Islam yang beriman adalah kita diwajibkan mempercayai dan mengimani qada dan qadar. Segala yang berlaku adalah dari Allah Taala semuanya. Kita hanya mampu berusaha dan berdoa akan tetapi Allah Taala jualah yang Maha Berkuasa yang menuntukan segala sesuatu itu. Saya ingin sarankan agar kita semua dapat mempelajari ilmu aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah dengan lebih mendalam dan terperinci.

Selasa, 23 Oktober 2012

“Kalau tak ikhlas, baik tak payah buat!”




Itu antara ungkapan yang selalu kita dengar apabila kita berat untuk melakukan sesuatu, namun kita gagahkan juga diri untuk melakukannya. Apabila usaha kita untuk melakukan sesuatu ‘dicantas’ dengan ungkapan tersebut, maka kita terus berundur dan bertindak meninggalkan apa yang kita lakukan.
Dalam hati kita bermonolog, “Betul juga tu, daripada aku buat tak ikhlas, baik aku tak payah buat”.
Lalu amal kita pun ditinggalkan kerana kita tidak ikhlas melakukannya. Persoalannya,Adakah kita akan sentiasa ikhlas untuk melakukan kebaikan?
Jika tidak, apakah itu bererti kita tidak perlu melakukan kebaikan kerana tidak ikhlas?

Timbul pula persoalan lain, adakah ikhlas itu akan datang tiba-tiba atau perlu dilatih?
Mari kita lihat firman Allah yang bermaksud:

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan mahupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah:41)

Kewajipan Tetap Kewajipan

Daripada ayat yang dipaparkan kepada kita dalam surah at-Taubah tadi, jelas bahawasanya keberatan atau keringanan kita sedikitpun tidak mengubah syari’at sesuatu amal. Jika kita berasa berat untuk solat fardhu, solat fardhu tidak akan berubah menjadi sunat atau ditarik kewajipannya. Bukankah begitu?
Ertinya ikhlas ataupun tidak, kita tetap perlu melaksanakannya. Begitu juga dengan kewajipan-kewajipan lain seperti berdakwah, berbuat baik kepada ibubapa, menjaga silaturrahim sesama jiran tetangga, taat kepada suami, dan lain-lain. Sememangnya berat atau ringan itu akan muncul atau terdetik di hati kita namun kita tetap perlu melaksanakannya. Jadi, masihkah wajar kita berkata saat ini, “Kalau tak ikhlas, baik tak payah buat?”


Jalan Menuju Ikhlas

Kadangkala kita suka membuat alasan dengan isu ‘tidak ikhlas’ sebagai jalan untuk kita lari daripada beramal. Kita sentiasa menunggu-nunggu ikhlas itu datang sedangkan kita tidak pernah berusaha mencarinya.
Bagaimana mencari ikhlas? Ya! dengan cara kita berusaha mengatasi ketidakikhlasan kita. Di peringkat permulaan, mungkin kita masih belum ikhlas sepenuhnya melakukan sesuatu ibadah. Jika kita terus meninggalkannya, adakah mungkin suatu hari kita akan mendapat ikhlas secara tiba-tiba? Mungkin juga..
Ingat, ‘mungkin juga’ ialah refleksi kepada ketidakseriusan dalam mendapatkan sesuatu. Namun, jika kita terus konsisten melakukan ibadah tersebut dan berusaha sedaya mungkin mengikhlaskan niat, lama-kelamaan kita akan dikurniakan Allah dengan rasa ikhlas yang tidak ternilai, insya-Allah.

Dalam surah al-Ahzab ayat 70-71, Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Nescaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (Al-Ahzab:70-71)
Kita selalu beranggapan bahawa kita perlu benar-benar cukup bekalan dan sempurna sebelum melakukan sesuatu amal atau kerja dakwah di jalan Allah.
Lantas kita kaku dan tidak beramal.
Sedangkan Allah s.w.t. membawa perspektif bahawa dengan usaha kita melakukan sesuatu amal, Allah s.w.t. akan memperbaiki amal tersebut dan mengampuni dosa kita. Begitu juga dengan ikhlas.
Setelah kita berusaha melakukan amal dan cuba mengikhlaskan niat, Allah s.w.t. akan menyediakan ganjaran yang tidak ternilai buat kita.


Sebelum, Ketika, dan Selepas

Ada orang sudah mengikhlaskan niat sebelum beramal, tetapi ternyata ketika amal itu dilakukan, dia tertipu dengan ramainya orang yang melihatnya beramal dan mengagumi amalnya. Ada orang melepasi ujian ini dan terus beramal dengan ikhlas, namun setelah itu dia sibuk bercerita tentang amalnya kepada orang lain atas tujuan menunjuk-nunjuk. Atau minimum dia ingin orang lain mendengar tentang amalnya daripada mulut orang yang melihat. Bolehkah begitu?

Sesuatu amal itu perlu dijaga kesuciannya sebelum dilakukan, ketika, dan selepas dilaksanakan. Itulah semurni-murni amal yang tidak dicemari dengan ketidakikhlasan. Selagimana kita bermujahadah mengikhlaskan niat tatkala perasaan riya’, ‘ujub dan sum’ah terdetik di hati, kita masih dikira sebagai seorang mujahid yang akan diganjarkan oleh Allah kelak. Namun, tatkala kita larut dalam perasaan-perasaan mazmumah tadi tanpa sedikitpun upaya menyedarkan diri dan meluruskan niat, kita telah gagal dalam ujian ikhlas.

Mudah-mudahan Allah s.w.t. memberi taufik dan hidayah kepada kita dalam beramal di jalan-Nya dengan seikhlas hati. Semoga kita menghargai perjuangan orang-orang terdahulu yang dilanda ujian yang jauh lebih hebat dibanding ujian ringan yang kita rasakan berat. Namun, mereka masih teguh di atas kebenaran. Bagaimana dengan kita?Moga dipermudahkan. Amin..

Jumaat, 21 September 2012

Salasilah Keturunan Nabi Akhir Zaman, Rasulullah s.a.w


Assalamualaikum wbh,
Ramai di antara kita mengetahui tentang salasilah keturunan Rasulullah saw, dan ahli keluarga baginda saw. Kita semua tahu bahawa ayah baginda saw bernama Abdullah, dan ibu baginda saw bernama Aminah. Kita juga tahu datuk baginda saw bernama Abdul Muttalib, dan bapa saudara baginda Abu Talib, dan juga Abu Lahab, atau nama sebenar beliau Umar ibnu Hisyam. Kita lihat nama beliau di dalam doa baginda saw, “Ya Allah, islamkanlah salah satu Umar (iaitu samada Umar ibnu Hasyim, aka Abu Lahab, atau Umar ibnu Al-Khattab)”. Maka Allah swt menjawab doa baginda saw dengan islamnya Umar ibnu Al-Khattab.

      Suka penulis bawakan bahawa Rasulullah saw merupakan keturunan susur jalur yang terus kepada nabi Allah Ibrahim as. Kerana itu ada ayat-ayat di dalam Al-Quran, dan juga hadis-hadis baginda saw yang menyebut Ibrahim as sebagai ayah baginda saw, kerana di dalam bahasa Arab, ayah juga boleh diertikan sebagai ayah kandung, datuk dan ke atas. Firman Allah swt, “Jalan (iaitu Islam ini adalah jalan) ayah kamu, Ibrahim. Dialah yang menamakan kamu Muslimin”. Juga kita lihat di dalam hadis baginda saw sewaktu baginda saw mendapat seorang anak lelaki bersama hamba baginda saw, Mariam Qibtiyah, “Aku menamakannya sempena nama ayahku, Ibrahim”.

          Bahkan paras rupa Rasulullah saw itu sendiri juga sangat-sangat mirip kepada Nabi Allah Ibrahim as. Ini dibuktikan di dalam hadis baginda saw, ketika baginda diangkat Allah swt ke langit ketika Isra’ Mi’raj, dan baginda saw bertemu dengan Nabi Ibrahim as. Sabda baginda saw di dalam menceritakan tentang rupa paras Ibrahim as kepada para sahabat, “Andaikata kamu semua melihatnya (Ibrahim), pasti kamu akan sangka dia adalah rakanmu (iaitu, pasti kamu menyangka dia adalah aku Muhammad, kerana rupa mereka mirip)”. Takjub sungguh rasa penulis ketika membaca hadis ini, kerana secara langsung Allah swt telah mengisyaratkan kita kepada tabiat genetic, ribuan tahun sebelum kajian tentang genetic keturunan dimulakan!

       Adapun Rasulullah saw berasal dari keturunan Nabi Ibrahim as, dari jalur keturunan Ismail as. Ingatkah bahawa Nabi Ibrahim as dikurniakan dua orang anak sewaktu usia tua baginda as? Firman Allah swt di dalam merakamkan doa Nabi Ibrahim as, “Segala puji Allah, yang telah mengurniakan kepadaku di usia tuaku Ismail dan Ishaq, sungguh Tuhanku sangat-sangat mendengar permintaa”. Ini merupakan noktah sejarah yang sangat perlu kita ambil perhatian, kerana orang-orang Kristian tidak mengiktiraf akan adanya Ismail as, bahkan mereka mendakwa bahawa Ishaqlah yang terlibat di dalam peristiwa Nabi Ibrahim as diarahkan agar menyembelih anaknya. Ini kerana dari susur galur Ishaqlah lahirnya yang kita kenali sekarang sebagai Bani Israil, atau Yahudi, yang mana akhirnya lahirnya Isa as, Tuhan (?) mereka.
       Adapun nama Bani Israil itu, bererti ‘anak-anak Israil’, dan Israil adalah nama lain bagi Nabi Ya’qub as. ‘Isra’ di dalam bahasa Ibrani (Yahudi) bermaksud hamba, dan ‘il’ bermakna ‘Tuhan’, atau Allah. Maka Israil itu sendiri bermaksud ‘hamba Allah’, atau di dalam bahasa Arab selalu kita kenali sebagai ‘Abdullah”. Dari jalur Nabi Ishaq as, lahir Nabi Ya’qub as, kemudian Yusuf as, dan seterusnya cucu keturunan mereka, Bani Israil aka Yahudi.
       Manakala dari jalur Ismail as, lahirlah keturunan Arab, yang mana kita masih ingat kisah Nabi Ismail as ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim as bersama ibunya Hajar, di lembah Bakkah, yang kini kita kenali sebagai Mekah Al-Mukarramah. Mereka kekal menetap di situ sehingga lahir cucu keturunan mereka, iaitu kaum Arab. Dan seterusnya dari kaum Arab ini, adanya kaum Quraisy, kemudian adanya Bani Hasyim, dan seterusnya dari situlah lahirnya kekasih kita Muhammad saw.
      Penulis juga ingin menceritakan di sini tentang kisah bagaimana datuk baginda saw mendapat nama ‘Abdul Muttalib’, dan juga bagaimana mereka dikenali sebagai Bani Hasyim.
Suatu ketika dahulu, terdapat dua orang adik-beradik, seorangnya bernama Hasyim, dan seorang lagi bernama Muttalib. Maka dikatakan Hasyim telah berhijrah ke Yathrib (yang kini kita kenali sebagai Madinah), dan Muttalib pula kekal di Mekah. Ketika Hasyim di Yathrib mendapat cahaya mata, dia menamakan cahaya matanya itu Muttalib, sempena nama saudara kandungnya di Mekah. Setelah kematian Hasyim, rakan-rakannya telah menghantarkan berita kepada Muttalib di Mekah, menceritakan tentang kematian saudaranya, dan meminta agar dia datang ke Yathrib untuk mengambil anak saudaranya ke Mekah. Setibanya di Mekah, orang ramai melihat Muttalib membawa anak saudaranya, yang juga bernama Muttalib, di belakang kudanya. Di zaman ini, seorang budak yang dibawa naik bersama menunggang kuda adalah biasanya hamba si penunggang kuda, maka dari itulah budak tersebut mendapat gelaran ‘Abdul Muttalib’, iaitu ‘hamba Muttalib’, dan Abdul Muttalib itulah datuk Rasulullah saw.

Penulis juga ingin menceritakan tentang hikmah dan faedah kita mengetahui nama ayah dan ibu baginda saw.
Kata Aisyah ra, terdapat empat cara perkahwinan masyarakat jahiliyyah sebelum datangnya Islam, dan ia adalah:-
i) jika seorang wanita mempunyai kenginan untuk menjalinkan hubungan, dia akan menggantungkan kain, atau meletakkan tanda pada pintu rumahnya. Mana-mana lelaki yang juga sedang berkeinginan akan memasuki rumah tersebut, dan jika mereka bersetuju, hubungan akan terjadi dan jika terhasil anak dari hubungan tersebut, lelaki tersebut akan bertanggungjawab menjaga anak tersebut. Lihat bagaimana walaupun mereka masyarakat Jahiliyah, mereka lebih bertanggungjawab dari jahiliyah moden zaman kita ini, yang sanggup membuang anak di dalam tong sampah. 

ii) ‘perkahwinan’ yang mana seorang wanita menjalinkan hubungan serentak dengan beberapa orang lelaki, dan jika wanita tersebut mengandung, dia akan membawakan bayi tersebut kepada mana-mana lelaki tadi, dan dia akan bertanggungjawab dengan bayi tersebut.

iii) ‘perkahwinan’ di mana jika seorang lelaki yang mempunyai isteri, dan mahukan anak dari keturunan pahlawan, maka dia akan menghantarkan isterinya untuk hidup bersama pahlawan tersebut, seperti hidupnya suami isteri. Apabila isterinya sudah mengandung, maka pahlawan tersebut akan menghantar pulang isterinya, dan anak tersebut akan dikira sebagai anak lelaki tersebut.

iv) perkahwinan melalui akad pernikahan yang sah, yang sebagaimana yang kita ketahui sekarang.

         Penting bagi kita mengetahui nama ibubapa baginda saw, kerana dari nama mereka kita boleh mengetahui manakah cara perkahwinan mereka, kerana dari cara perkahwinan mereka lahir Rasulullah saw. Penting bagi kita bahawa Rasulullah saw dilahirkan dari akad nikah yang sah dan murni, dan baginda saw bukankah anak luar nikah.
      Penulis juga ingin ketengahkan di sini tentang apakah agama Nabi Muhammad saw, serta beberapa orang sahabat baginda saw, sebelum Allah mengangkat baginda saw menjadi nabi dan rasul akhir zaman. Adakah baginda menyembah berhala? Adakah baginda pernah menghulurkan korban kepada sembahan-sembahan kafir Quraisy?
       Agama yang diikuti oleh Rasulullah saw sebelum baginda diangkat menjadi rasul, ialah agama yang kita kenali sebagai Al-Hunafa’, iaitu mereka menyembah Allah swt, dan mereka solat dan beribadah kepada Allah swt mengikut cara yang telah diwariskan oleh Ibrahim as. Maka Muhammad saw, Abu Bakar dan juga Ali ibni Abu Talib ra, kesemuanya adalah dari golongan ini, maka mereka tidak pernah menyembah berhala atau apa-apa amalan syirik.
Sesungguhnya Allah swt telah memelihara Rasulullah saw dari sebarang bentuk syirik dan maksiat, sejak dari sebelum kebangkitan baginda saw menjadi rasul lagi. Kerana itulah kita katakana bahawa perihal hidup baginda saw sebelum diangkat menjadi rasul juga termasuk di dalam definisi sunnah.

‎5 orang yang mirip wajah RASULULLAH S.A.W:


1. Jaafar bin Abi Tolib-
2. Abu Sufian bin Haris bin Abdul Mutalib.
3. Qasam bin al-Abbas.
4. As-Saib bin Ubaid bin Abd.Manaf.
5. al-Hassan bin Ali bin Abi Tolib.

Rabu, 19 September 2012

1 minit untuk mengingat Allah



* Langkah 1:
* Sebutlah dengan sepenuh hati dan lidah yang fasih:

* * SUBHANA'LLAH
* * ALHAMDULI'LLAH
* * LA I LAHA ILLA'LLAH
* * ALLAHU AKBAR
* * ASTAGHFIRU'LLAH
* * LA ILAHA ILLA'LLAH, MUHAMMADUN RASULU'LLAH
* * ALLAHUMMA SALLI WA SALLIM WABARIK 'ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WAAALIHI WA SAHBIH AJMA'EEN


* Langkah 2:
* Hayatilah sedalamnya akan makna ayat demi ayat, perkataaan demi perkataan

* Langkah 3:
* Forward kepada orang yang anda kasihi.

* Hasil 1:
* Dalam tempo satu jam anda telah berjasa mengajak mereka untuk mengingat, berdoa dan bermunajat kepada ALLAH SWT.

* Hasil 2:
* Dalam tempo satu jam anda telah berjasa mengajak mereka untuk mengingat, berdoa kepada Nabi Muhammad SAW.

* Hasil 3:
* Dalam masa satu jam sekurang-kurangnya 7 orang telah mendoakan kesejahteraan untuk kamu dan di-AMIN-kan oleh para Malaikat.

Wassalam

4 5 `/L ass=MsoNormal> 

#Semua Umat Muhammad s.a.w akan Masuk syurga kecuali yang melakukan dosa syirik.


"Ya Allah kami bersyukur kepada-Mu atas nikmat Islam dan nikmat Iman yang engkau berikan kepada kami"

Betapa besar rahmat Allah Ta'ala kepada manusia khususnya kepada umat Muhammad s.a.w dibandingkan dengan kemurkaan-Nya, sebagaimana Rasulullah s.a.w bersabda dari sahabat Abu Hurairah ra:

"Ketika Allah selesai menc
iptakan makhluk, Dia menulis di dalam kitab-Nya, kitab itu disisi-Nya, di atas `arsy, `Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku'" (HR. Bukhari)

Dari Abu Dzar ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Jibril berkata kepadaku, `Barangsiapa meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia pasti masuk syurga atau tidak masuk neraka'". Abu Dzar ra., berkata, "Dan meskipun dia berzina dan meskipun dia mencuri ?", Beliau SAW bersabda, "Dan meskipun" (HR. Bukhari)

Dan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Diampunkanlah seorang wanita penzina yang melewati anjing (yang berada) di atas sumur yang menjulurkan lidahnya dan hampir mati kerana kehausan, lalu wanita itu melepas sepatunya dan diikat dengan kerudungnya lalu ia membawa air kepada anjing itu maka (dia, wanita itu) diampuni karenanya" (HR. Bukhari).

Dari Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Syafa'atku akan diberikan bagi pelaku dosa besar dari umatku" (HR. Abu Dawud no. 4739, At Tirmidzi no. 2435, Ibnu Hibban no. 2596, Ibnu Abi Ashim no. 832, Ahmad III/213 dan Al Hakim I/69, At Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini hasan shahih")

Dari Abdullah bin Abbas ra., bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
"Tidaklah seorang muslim pun yang meninggal lalu ia dishalatkan oleh sebanyak 40 orang laki ? laki yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun kecuali ia akan memperoleh syafa'at atau tertolong oleh mereka" (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya" (QS An Nisaa' 48)

ADAB DAN HAK TERHADAP IBU BAPA.


1. Mentaati ibu dan bapa dlm semua hal kecuali perintah melakukan maksiat.
2. Berbicara dgn keduanya dgn sopan dan lemah lembut.
3. Bangun mghormati keduanya apabila mereka dtg.
4. Mencium tangan keduanya stp pagi dan petang.
5. Memelihara nama, kehormatan serta harta benda mereka.
6. Memuliakan mereka dan mberi apa yg mereka pinta.
7. Berbincang dgn mereka dlm sga
la pkerjaan n urusan.
8. Merbanyakkan doa dan memohon ampun utk mereka.
9. Sentiasa berusaha mgembirakan dan myenangkan mereka.
10. Tidak mengangkat suara di hadapan mereka.
11. Tidak memotong percakapan mereka.
12. Tidak keluar tanpa keizinan mereka.
13. Tidak memeranjatkan mereka jika mereka sdg tidur.
14. Tidak melebihkan isteri dan anak dari mereka berdua.
15. Tidak mencela mereka jika mereka mlakukan sstu yg tidak memuaskan.
16. Tidak tertawa didalam majlis mereka, jika x ada sebab yg menarik utk ketawa.
17. Tidak memakan makanan yg ada disisi mereka.
18. Tidak memakan makanan dlm satu hidangan mendahului mereka.
19. Tidak berbaring atau tidur sedangkan mereka msh lg duduk kecuali mereka  mengizinkannya.
20. Tidak melunjurkan kaki di hadapan mereka.
21. Tidak berjalan mendahului mereka.
22. Menyahut panggilan mereka serta merta apabila mereka memanggil.
23. Memuliakan sahabat2 mereka khususnya sesudah mereka mati.

Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka memeliharaku dgn penuh kasih sayang pada waktu kecil (Surah al-Isra' : 24)

Redha Allah letak pada redha ibu bapa.

Bersyukurlah kpd yg masih mempunyai ibu bapa, kerana dgn menjaga dan melayan mereka dgn penuh kasih syg, Allah akan mberikan pahala...

Kirimkan doa dan sedekah utk ibu bapa yg telah ada...kerana itulah bekalan disana...doa anak yg soleh.

Semoga kita semua menjadi anak yg soleh dan solehah, Ameen ya Rabb Alamin.

#Beriman kpd Malaikat adalah Rukun Iman kedua.


Drpd Abu Umamah r.a drpd Nabi s.a.w sabdanya bermaksud:

Malaikat yg di sebelah kanan (Yg menjadi penulis kebaikan) ialah ketua kpd yg sebelah kiri, maka apabila seseorg itu mlakukan sesuatu kebaikan ditulis baginya kebaikan itu menjadi 10 kebaikan yg disebut dan apabila dia melakukan sesuatu kejahatan, lalu malaikat yg disebelah kiri hendak menulisnya, lalu malaikat disebelah kanan berkata: 'Tungg
u dahulu', lalu dia menunggu selama 6 atau 7 jam, maka jika org tu beristigfar drpd pbuatan jahat itu, tidaklah ditulis sstu pun, dan jika dia tidak meminta ampun kpd Allah, dituliskan baginya satu kejahatan shj. (Hadis riwayat at-Tabrani).

1.Malaikat Jibril; menyampaikan wahyu kpd rasul dam nabi.
2. Malaikat Mikail; Membahagikan rezeki kpd seluruh makhluk.
3. Malaikat Izrail: Mengambil nyawa sekalian makhluk.
4. Malaikat Israfil; Meniup sangkakala ketika kiamat nanti.
5. Malaikat Raqib dan Atid; Mencatat amalan baik dan jahat.
6. Malaikat Munkar dan Nakir; Menanyakan soalan didalam kubur.
7. Malaikat Malik; Menjaga neraka.
8. Malaikat Ridhwan; Menjaga syurga.

SYAFAAT 'UZMA.


Ertinya pertolongan terbesar yg diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w kpd semua makhluk. Rasulullah s.a.w berdoa kpd Allah agar disegerakan hisab ke atas umat manusia lalu diperkenankan Allah. 

Drpd Ibu Umar r.a katanya, ''Aku telah mendengar Rasulullah s.aw bersabda;
Sesungguhnya matahari akan dekat atas kepala manusia sehingga air peluh sampai ke paras telinga, maka dlm masa mereka
berkeadaan demikian, mereka meminta ptolongan drpd Nabi Adam a.s. Lalu beliau menolak dan berkata: Aku bukanlah orang utk itu. Kemudian mereka meminta pula kpd Nabi Musa a.s. Dia menjawab dgn jwpn yg sama spt Nabi Adam. Akhir sekali mereka dtg menemui Nabi Muhammad s.aw memohon syafaatnya, lalu Rasulullah mengemukakan syafaatnya. Setelah itu Allah Taala akan memulakan perbicaraan utk menghakimi khalayak yg ramai itu.., maka pd waktu itu Allah mengangkatnya (Nabi Muhammad s.a.w) ke martabat ''Maqaman Mahmuda'' (maqam paling terpuji) yg dipuji oleh semua makhluk yg ada di padang Mahsyar''.

Selain drpd Nabi Muhammad s.a.w, nabi-nabi yg lain, para alim ulama', para syuhada juga diberikan keistimewaan oleh Allah utk mereka mberi syafaat masing2.

Syafaat itu adlh syafaat kecil, spt memasukkan seseorg ke dalam syurga tanpa hisab.

Aurat!


Berbalik kepada persoalan mendedah aurat belum confirm masuk neraka. Jika berpandukan kepada Hadis Nabi SAW, memang confirm dedah aurat masuk neraka. Bukan hanya sekadar masuk neraka malah menghidu bau syurga pun tidak mampu.

"Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw beliau berkata: "Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum aku lihat saat ini ; pertama, satu kaum yang membawa cemeti seperti 
ekor sapi. Mereka memukul manusia dengan cemeti tersebut. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang (tidak menutup aurat dengan sempurna). Mereka berlengang-lenggok dan menggoyang-goyangkan kepala mereka seperti ponok unta yang condong. Wanita-wanita tersebut tidak akan masuk syurga dan tidak dapat mencium baunya pun. Padahal bau syurga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian" (HR. Muslim).

Antara dalil lain yang boleh digunakan bagi menjawab persoalan wanita yang membuka aurat dengan sengaja walaupun tidak menentang kewajipan menutup aurat, kompom masuk neraka atas dalil:

"Rasulullah s.a.w bersabda: Semua umatku akan masuk syurga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan? Baginda menjawab: Barangsiapa yang taat kepadaku, dia masuk syurga dan barangsiapa yang melanggar perintahku, dia telah enggan.
(Hadith Sahih Riwayat Imam Bukhari & Muslim)

Di dalam peristiwa israk mikraj pun Rasulullah SAW ada menyatakan bahawa baginda melihat perempuan yang digantung rambutnya dalam neraka hingga menggelegak otak kepalanya atas kesalahan tidak menutup rambutnya daripada bukan mahramnya.

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. dan Abu Said r.a., bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda :

“Syurga dan neraka berdebat. Lalu syurga berkata, “aku dimasuki orang-orang lemah dan miskin.”
Neraka berkata: “Aku dimasuki orang-orang yang suka menindas dan sombong.”

Lalu Allah s.w.t. berfirman kepada neraka: “Sesungguhnya engkau adalah seksa-Ku, dan Aku menyeksa orang-orang yang Kuhendaki denganmu.”
Kemudian Allah s.w.t. berfirman pula kepada syurga: “Engkau adalah rahmat-Ku, dan Aku merahmati siapa sahaja yang Aku kehendaki. Setiap kamu akan diisi hingga penuh." (Riwayat Al-Bukhari, no. 2846)
Akan tetapi, jika kita sendiri mempersoalkan suruhan Allah dengan membidas bahawa buat baik belum confirm masuk syurga atau buat jahat belum confirm masuk neraka, tak rasa malukah nak mengharap rahmat Allah terhadap kita? Tak rasa malukah nak menumpang syurga Allah?

Melaksanakan perintah Allah ganjarannya pahala, syurga, rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Mengerjakan larangan Allah balasannya adalah dosa, neraka, kemurkaan dan azab Allah SWT. Kesimpulannya, ahli syurga tidak berdosa, manakala ahli neraka berdosa. Akan tetapi, setiap orang yang berdosa pasti akan ke syurga jua akhirnya nanti jika dia masih Islam dan tidak murtad. Itupun setelah menempuh azab siksa yang maha dahsyat di neraka kelak bagi menyuci dosanya, yang mana sehari di neraka bersamaan 1000 hari di dunia ini. Mampukah nak tanggung? Letak hujung jari dekat api lilin sekejap pun dah meraung.

Jika buat maksiat belum confirm masuk neraka, adakah buat maksiat tu anda yakin confirm masuk syurga? Jadi, gunakanlah kesempatan ini untuk bertaubat nasuha. Bukannya mempertikaikan ganjaran syurga atau neraka.  Setiap manusia biasa tidak pernah terlepas daripada melakukan dosa. Bertaubatlah setiap masa. Jangan nak tunggu tua baru nak bertaubat. Boleh jaminkah anda boleh bernafas lagi selepas membaca artikel ini? Sebaik-baik amalan adalah yang ikhlas semata-mata mengharapkan keredhaan Allah, bukannya semata-mata nak masuk syurga ataupun takutkan azab neraka.




______________________________________________________________________

Hadis manakah yg menunjukkan tutup aurat xwajib dan yg tutup aurat tu xsemestinya xbaik? kita x tahu amalan mana yg allah terima dgn sbb amalan tu kita masuk syurga. kita juga x tahu mungkin dgn sbb kita maksiat@engkar perintah allah dgn sbb tu kita masuk neraka...

so, kesimpulan nya baik kita patuh suruhan dan tinggalkan larangan..