Buscar

Páginas

"Dyana Sofya dengan isu UiTM"

Mari kita bandingkan UiTM dengan universiti yang dipunyai oleh beberapa pertubuhan Cina. Kemunculan Universiti Tunku Abdul Rahman, Universiti Terbuka Wawasan, Koleh New Era dan sebagainya adalah cerminan kpd universiti merdeka yg diperjuangkan DAP selaman ini. Lebih 95% pelajarnya terdiri drpd kaum cina. Bahasa Melayu sendiri tidak lagi didaulatkan di universiti-universiti ini. Kolej New Era yg dipunyai Dong Jiao Zong (99% pelajar cina) menggunakan 100% bahasa cina sbg bahasa penghantar termasuk bahasa Inggeris. Universiti-universiti ini tetap bersikap perkauman walaupun dasarnya dikatakan terbuka.

UiTM adalah satu instrumen yang membuatkan pelajar-pelajar bumiputera mendapat tempat di IPT. Keadilan bukan semestinya mendapat sama rata, tetapi berdiri sama tinggi. Kerana asalnya, penjajah tinggalkan kita semua tidak sama tinggi. Jika wajar dibuka UITM kepada semua rakyat untuk menyatupadukan Malaysia berbilang kaum, mari kita mulakannya dari akarnya lagi. Mulakanlah dengan penghapusan sekolah vernakular (Sekolah Jenis) dan digantikan dengan sekolah kebangsaan yang menggunakan hanya satu bahasa iaitu bahasa pengantar kebangsaan.

Ramai pemimpin cina yang bersifat ultra kiasu sama sekali tidak bertolak ansur terhadap sesiapa sahaja yang cuba mengganggu-gugat sistem pendidikan perkauman mereka tetapi mengapa Dyana Sofya seorang Melayu turut berjuang untuk mereka?

Kata-kata Tunku Abdul Rahman, "Negara ini telah diakui oleh semua kaum lain yang tinggal di sini sebagai sebuah negara yang asalnya negara Melayu. Hakikat ini akan terus diakui melainkan orang Melayu sendiri mengambil keputusan untuk menunggang terbalikkannya dan menjadikannya sebagai sebuah neraka untuk kita semua. Tidak ada sesiapa pun yang membangkang usaha-usaha kerajaan untuk menolong orang Melayu kerana semua orang siuman akan insaf bahawa dari zaman berzaman orang Melayu terbiar dalam negara mereka sendiri".

Talak Tiga dan Solusi Yang Baik

A. Talak Yang Bisa Rujuk dan Yang Tidak Bisa Rujuk
Dilihat dari segi apakah bisa rujuk atau tidak, talak itu terbagi menjadi tiga macam. Talak yang secara mutlak tidak bisa kembali lagi, baik dengan rujuk atau dengan nikah ulang disebut dengan istilah talak bainunah kubra. Bentuk teknis talak ini sesuai yang disepakati para ulama adalah bila suami menceraikan istri, lalu merujuknya, lalu menceraikan lagi, terus  merujuknya lagi dan menceraikan untuk kali yang ketiga. Setelah itu tidak bisa rujuk lagi, kecuali istri menikah dulu dengan orang lain.

Adapun bila suami mentalak istrinya dengan talak tiga sekaligus, para ulama sepakat bahwa hukumnya haram dan berdosa, namun mereka berbeda pendapat dalam konsekuensinya, apakah jatuh talak tiga atau hanya talak satu, atau sama sekali tidak jatuh talak.
 
Ketiga jenis talak itu adalah talak raj’i, talak bain (bainunah shughra) dan talak bainunah kubra :
  
1. Talak Raj‘i
 
Talak raj‘i (طلاق رجعي) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada isterinya, namun suami masih mempunyai hak untuk rujuk dan kembali kepada isterinya.
 Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا
 Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) tersebut menghendaki islah.(Al-Baqarah: 228)

 Talak raj‘i adalah talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya, namun sebelum berakhir masa iddahnya, suaminya merujuknya. Sehingga keduanya kembali lagi menjadi suami istri seperti sedia kala.

 Kesempatan melakukan talak raj’i bagi seorang suami hanya dua kali, sebagaimana firman Allah SWT :
الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
 Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(QS. Al-Baqarah : 229)

 Bila sudah dua kali suami menjatuhkan talak kepada istrinya, lalu dirujuk lagi, maka bila suaminya itu menjatuhkan lagi talak untuk ketiga kalinya, talak itu berubah menjadi talak yang tidak bisa kembali lagi, atau disebut dengan talak bainunah kubra.

 Selama masa iddah, seorang isteri yang ditalak raj‘i mempunyai hukum yang sama seperti hukum yang berlaku pada seorang isteri dalam pemberian nafkah, tempat tinggal atau yang lainnya seperti ketika belum ditalak, sehingga berakhir masa ‘iddahnya. 

 2. Talak Bainunah Shughra

 Talak ba’in (طلاق بائن) atau lazim disebut dengan talak bainunah shughra (بينونة صغرى) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami, sebagaimana talak raj’i di atas, namun hingga habis masa iddah istri, suami tidak melakukan rujuk. Dengan demikian, tamatlah sudah ikatan perkawinan di antara keduanya, sehingga keduanya resmi sudah bukan suami istri lagi.

 Namun demikian, selama mantan istri itu belum kawin lagi, maka keduanya masih boleh bersatu lagi. Bukan dengan jalan rujuk, melainkan dengan cara menikah ulang, dengan lamaran, mahar, dan ijab kabul serta akad nikah yang baru.

 Perbedaan rujuk dengan menikah ulang adalah bahwa rujuk itu hanya dilakukan sebelum habis masa iddah istri yang ditalak. Dan rujuk itu bukan akad nikah, melainkan hanya diniatkan saja di dalam hati oleh suami, atau diucapkan, atau dilakukan hubungan suami istri, maka otomatis terjadilah rujuk.

 Sedangkan yang disebut dengan menikah ulang adalah sebagaimana yang dilakukan oleh pasangan yang belum pernah menikah sebelumnya. Menikah ulang itu berarti harus melewati tahapan-tahapan seperti melamar, memberi mahar, juga melakukan ijab qabul antara wali dan suami, dengan dihadiri oleh minimal dua orang saksi.

 3. Talak Bainunah Kubra

 Talak ketiga adalah talak bainunah kubra (طلاق بينونة كبرى). Talak ini adalah talak yang ketiga kali dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya. Dalam bentuk halalnya (talak sunnah), talak ini harus dilakukan dengan tiga kali secara terpisah, dimana di antara talak yang pertama, kedua dan ketiga harus ada proses rujuk terlebih dahulu. 

 Hukum talak tiga ini tidak dibolehkan untuk dijatuhkan sekaligus secara bersamaan. Apabila hal itu dilakasanakan juga, tentu suami berdosa karena melanggar ketentuan Allah SWT dan rasul-Nya. Dan termasuk ke dalam jenis talak bid’ah.


 Namun lepas dari hukumya yang haram, bila seseorang tetap melakukannya juga, apakah talaknya jatuh dan berlaku talak tiga? Dalam hal ini kita menemukan dalam beberapa kitab fiqih beberapa pandangan yang berbeda. 

 a. Jumhur : Jatuh Talak Tiga

 Keempat mujtahid mutlak dalam masing-masing mazhabnya sepakat bahwa talak tiga yang dijatuhkan secara langsung bersamaan, hukumnya talaknya jatuh tiga, termasuk bainunah kubra.

 b. Syiah Imamiyah : Tidak Jatuh Talak Sama Sekali

 Pendapat syiah imamiyah tegas menyatakan bahwa talak tiga yang dijatuhkan sekaligus justru sama sekali tidak menyebabkan talak apapun, alias sama sekali tidak jatuh talak.

 c. Ibnu Taimiyah & Ibnul Qayyim : Jatuh Talak Satu

 Pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan juga pendapat yang mewakili kalangan mazhab Zahiriyah menyatakan bahwa talak yang berlaku hanya talak satu saja dan bukan talak tiga. 

 B. Alternatif Solusi 

 Alternatif solusi yang bisa ditawarkan agar bisa kembali lagi dalam kasus ini tergantung dari apa yang sudah terjadi sesungguhnya, yaitu apakah suami sudah dua kali menceraikan istrinya lalu merujuknya dan sekarang ini hitungannya sudah yang ketiga kalinya? Ataukah kasusnya suami menjatuhkan talak tiga sekaligus?

 1. Pertama 


 Kalau kejadiannya yang pertama, yaitu suami sudah dua kali talak dan dua kali rujuk, maka untuk talak yang ketiga kalinya tidak ada jalan keluarnya, kecuali harus pisah tanpa bisa dirujuk lagi. Kalau pun mau rujuk, jalannya agak panjang dan berliku, bahkan nyaris hampir mendekati mustahil secara nalar. 

 Sebab istri harus menikah dengan suami baru dengan niat dan tujuan untuk menikah selamanya, dan harus terjadi hubungan badan yang sah. Kalau suatu hari suaminya yang baru itu menceraikannya tanpa dirujuk hingga habis iddahnya, barulah boleh kembali kepada suami yang pertama.


 Dasar ketentuan ini adalah firman Allah SWT :
فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
 Kemudian jika si suami mentalaknya , maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya  untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang  mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 230)

 2. Kedua


 Namun bila yang terjadi adalah kasus suami menjatuhkan talak tiga sekaligus kepada istrinya, nampaknya cuma dengan jalan meninggalkan pendapat jumhur ulama, dan berpindah kepada pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Dimana meski seorang suami secara langsung menjatuhkan talak tiga sekaligus, maka hitungannya tetap dianggap talak satu.
 
 Dan karena cuma talak satu, tentu saja boleh langsung dirujuk saat itu juga. Sehingga hubungan pernikahan antara suami dan istri tidak sempat terlepas. 

 Namun perlu diingat, pasangan yang sudah pernah melakukan talak satu ini, kalau suatu ketika melakukannya lagi, berarti akan terjadi talak kedua. Dan bila melakukannya lagi, berarti nanti jatuh talak ketiga.


 C. Talak Yang Diucapkan Dengan Emosi

 Para ulama sepakat bahwa talak yang diucapkan dengan emosi tetap jatuh talak. Dan dalam kenyataannya, kebanyakan talak itu memang dijatuhkan dalam keadaan emosi. Malah kita nyaris tidak menemukan dimana suami menjatuhkan talak dengan riang gembira dan hati berbunga-bunga. 

 Kalau talak yang dijatuhkan dalam keadaan emosi harus dianggap tidak sah, maka bubarlah syariat Islam, karena semua orang pasti yang mentalak istrinya akan mengatakan bahwa dirinya menjatuhkan talak dalam keadaan emosi.


 Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan tentang talak yang diucapkan dengan emosi :
مَا يَقَعُ مِنَ الْغَضْبَانِ مِنْ طَلاَقٍ وَعَتَاقٍ وَيَمِينٍ فَإِنَّهُ يُؤَاخَذُ بِهِ
 Apapun yang diucapkan oleh orang yang marah (emosi), baik talak, membebaskan budak atau sumpah, maka semua itu berlaku.

 Dalil lainnya adalah apa yang terjadi Khaulah binti Tsa'labah, istri Aus bin Ash-Shamith. Suaminya marah kepadanya dan menjatuhkan dzhihar kepadanya. Maka Khaulah mendatangi Rasulullah SAW dan berkonsultasi. Dia mengatakan,
لَمْ يُرِدِ الطَّلاَقَ فَقَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا أَعْلَمُ إِلاَّ قَدْ حَرُمْتِ عَلَيْهِ
 "Suami saya tidak berniat untuk mentalak saya". Namun Rasulullah SAW menjawab,"Aku tidak tahu kecuali dirimu telah diharamkan untuknya". (HR. Al-Baihaqi)

 Demikian jawaban singkat ini, semoga bisa sedikit memberikan pencerahan. Kebenaran hanya milik Allah SWT.

 Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



sumber: lhttp://syahlanbro.blogspot.com/2012/12/talaq-tiga-dan-solusi-yang-baik.html

Permasalahan SOLAT QADHA menurut Mazhab Shafie.


Solat qadha terbahagi kepada dua:- 

1. Meninggalkan solat kerana keuzuran seperti tertido. 
- Disunatkan menyegerakan qadhanya supaya terlepas dari tanggungjawab dengan segera. 
- Disunatkan juga mendahulukan qadha sekiranya tidak ditakuti habis waktu untuk solat tunai tersebut. - -- Disunatkan juga mengqadha solat mengikut tertib solat tersebut seperti mendahulukan solat subuh ke atas solat zohor. 

2. Meninggalkan solat dengan sengaja. 
- Wajib menyegerakan qadha 
- Wajib melapangkan sepenuh masa untuk menqqadhanya kecuali masa yang diperlukan untuk keperluan hidup seperti mencari rezeki untuk kehidupan dia dan orang dibawah tanggungannya. Haram untuknya melapangkan masa untuk perkara yang bukan menjadi keperluan hidupnya seperti bercakap sia2,main game,main facebook dan yang seumpama dengannya. 
- Wajib mendahulukan solat qadha yang disengajakan keatas solat qadha yang kerana keuzuran. Haram didahulukan qadha kerana keuzuran yang disengajakan tetapi solat adalah sah. 

PERHATIAN!! 

HARAM menunaikan apa2 bentuk solat sunat bagi orang yang masih ada solat qadha yang belum disempurnakan. 

(Rujukan kitab bushral kariim syarah kepada mukaddimah hadhramiyah dan juga kitab mughnil muhtaaj syarah kepada minhaajuttolibiin.)

Siapakah orang yang DIWAJIBKAN untuk mengqadha solatnya?
-Lelaki: Yang beragama Islam, berakal dan suci.
-Perempuan: Tidak diwajibkan mengqadha solat-solat yang terpaksa ditinggalkan semasa berada didalam keadaan haid.

Jumhur ulamak pelbagai mazhab bersepakat bahawa orang yang meninggalkan solat diwajibkan mengqadakannya sama ada dia terlupa atau sengaja meninggalkannya. Lalu bagaimana jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja selama berpuluh-puluh tahun? 

Contoh kalau seseorang itu meninggalkan solat selama 20 tahun, hendaklah dia mengira sebanyak mana solat yang perlu digantikan. Contohnya 365 hari (1 tahun) dikalikan dengan 5 (solat 5 waktu) iaitu bersamaan dengan 1825 waktu yang perlu diganti. 1825 waktu pula dikalikan dengan 20 tahun, hasilnya ialah 36500 solat yg perlu digantikan. Jadi masing-masing boleh mengira sendiri samada dalam tempoh 20 tahun itu dia pernah solat tetapi dalam sekitar 20% sahaja daripada waktu itu, maka tolaklah 20% daripada jumlah waktu yang perlu diqadhakan itu. 

Dengar macam berat, tapi sebenarnya itulah tanda kasih sayang Allah. Allah memerintahkan kepada kita untuk solat, mungkin kita dulu jahil/lagha sehingga meninggalkan solat yg sememangnya wajib ke atas kita. Allah sememangnya nak masukkan kita ke dalam syurga dengan rahmatNya, maka solat merupakan salah satu ibadah yang menjadi kuncinya. Jadi, sebenarnya solat adalah salah satu ibadah yang merupakan satu perjanjian antara kita dengan Allah SWT, seperti yang telah disebutkan didalam sebuah hadith:

Daripada Ubadah bin Al-Shomit RA dia berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Sembahyang lima waktu itu telah diwajibkan oleh Allah ke atas hamba-hambaNya. Barangsiapa yang menunaikannya, bermaakna dia tidak mensia-siakan sesuatupun daripada kewajipan tersebut lantaran memandang ringan terhadapnya, maka dia akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan sesiapa yang tidak menunaikannya maka dia tidak ada apa-apa perjanjian di sisi Allah. Sekiranya Allah menghendaki Dia akan mengazabkannya dan jika Dia kehendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam syurga." (Hadith riwayat Abu Daud (1420) dan lain-lain).

Ada sebuah hadith yang berbunyi: Daripada Anas RA daripada Nabi SAW sabdanya: "Sesiapa yang terlupa (mendirikan sembahyang) maka dia hendaklah sembahyang apabila dia mengingatinya dan dia tidak dikenakan kafarrah melainkan mendirikan sembahyang tersebut. Baginda membaca firman Allah yang bermaksud: Dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati-Ku. (Thaha: 14)" (Hadith riwayat Al-Bukhari (572) dan Muslim (684) )

Jadi daripada hadith ini jelaslah bahawa qadha solat sebaik sahaja kita teringat solat yang kita masih belum tunaikan setelah habis waktu kerana terlupa atau tertidur, wajiblah dia mengqadha solatnya itu tetapi tidaklah diwajibkan bersegera untuk menunaikannya. Ia berbeza kepada orang yang sengaja meninggalkan solat kerana malas, maka wajiblah dia segera mengqadakannya dan memperuntukkan lebih banyak waktu lapang untuk digunakan bagi mengqadha solat.. Bagi mereka yang terlupa atau tertidur sehingga tertinggal 1 atau lebih waktu solat, kadangkala seseorang itu akan teringat pada masa-masa yang dimakruhkan (makruh jenis tahrim, yakni makruh yang hampir ke tahap haram) untuk solat seperti waktu:

1- Ketika matahari berada di tengah-tengah langit - kecuali pada hari jumaat - dan selepas sembahyang Subuh sehingga matahari naik setinggi tombak (setinggi satu galah).
2- Selepas sembahyang Asar hingga jatuh matahari.

Maka pada waktu-waktu sebegini tidaklah dilarang untuk menunaikan solat qadha. 

Dimana pula dalil-dalil yang memerintahkan solat qadha bagi mereka yang meninggalkan solat biarpun bertahun-tahun kerana malas? Seperti yang kita ketahui, sumber ilmu yang menjadi tatapan para ulamak untuk istinbath (menggali) sesuatu hukum tauhid dan feqah itu adalah daripada Al-Quran, hadith (yang diambil untuk dijadikan sunnah), ijma dan qias. Tetapi tidak terdapat hukum daripada Al-Quran dan hadith yang mengatakan seseorang itu hendaklah mengqadhakan solatnya yang telah ditinggalkan bertahun-tahun. Ini kerana pada zaman Nabi SAW majoriti umat Islam pada zaman itu, begitu jarang sekali ada orang Islam yang meninggalkan solat selain terlupa dan tertidur. Jadi para ulama mendapati masalah ini mula berlaku apabila umat Islam semakin jauh daripada agama dan melalaikan kewajipan solat. Jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja kerana malas, ia masih tidak dianggap sebagai kafir kecuali kepada mereka yang mengatakan solat itu tidak wajib dan sebagainya. Oleh kerana itu para ulama bersepakat terutamanya dalam mazhab Syafie mewajibkan bagi orang yang meninggalkan solat dengan sengaja selama bertahun-tahun hendaklah menggantikan/mengqadhakan solat itu dengan kadar yang tertentu bergantung kepada berapa banyak solat yang ditinggalkan oleh seseorang itu. 

Apakah itu ijma'? Ijma' merupakan sumber rujukan yang ketiga daripada sumber-sumber hukum (selepas Al-Quran dan sunnah), apabila kita tidak dapati sesuatu hukum di dalam Al-Quran dan as-Sunnah maka kita lihat, adakah perkara tersebut telah disepakati oleh ulama' atau tidak. Sekiranya ia merupakan ijma' ulama', makan hendaklah kita menerima dan beramal dengannya.

Q - Solat sunat, pun tak bolehkah? Rugilah kalau tak solat sunat. Saya baca banyak buku-buku yang menerangkan keutamaan solat-solat sunat seperti solat sunat Dhuha, witir, tarawikh, hari raya dan sebagainya yang sangat banyak fadilatnya. Takkan tu pun tak boleh kot? Kot ye pun, takkanlah sampai haram..?
A- Sepakat ulamak mengatakan haram solat sunat selagi solat qadha masih belum selesai ditunaikan. Selain solat jenazah (solat jenazah merupakan fardhu kifayah, maka ia berbeza antara fardhu kifayah dengan sunat), semua solat sunat seperti solat dhuha, witir, solat terawih, solat sunat hari raya aidilfitri/aidiladha, rawatib, solat hajat, solat taubat dan sebagainya diharamkan kepada mereka yang mempunyai solat fardhu yang masih tidak diqadhakan lagi. Ini kerana 1 solat fardhu lebih baik berganda-ganda daripada semua fadilat-fadilat solat-solat sunat yang disebutkan tadi. Jika kita menunaikan solat-solat sunat seumur hidup kita pun, ia tidak akan mampu menggantikan 1 solat fardhu sekalipun. Janganlah kita lupa, solat fardhu merupakan amalan ibadah kita yang pertama akan dinilai di akhirat nanti.
Bukankah kita boleh menggantikan solat-solat sunat itu dengan solat wajib? Contohnya sekiranya kita berjemaah di masjid, nak masuk masjid bukankah perlu solat sunat tahiyatul masjid? Maka gantikanlah solat sunat tahiyatul masjid itu dengan solat fardhu qadha Subuh contohnya.. Begitu juga dengan solat sunat Dhuha dan sebagainya... Dan bagaimana pula dengan solat terawih dan solat sunat hari raya..? Setahun sekali saja kita dapat menemui solat-solat seperti ini, bukan..? Maka gantikanlah solat sunat terawih itu dengan solat fardhu qadha. 
Jadi masing-masing fikirkanlah sendiri, samada berbaloi atau tidak solat sunat sedang solat qadha belum diselesaikan lagi. 

Q - Bagaimana cara-cara untuk qadha solat fardhu?
A - Niat solat qadha ialah seperti biasa, tetapi berbeza sedikit yakni dengan meniatkan qadha, perhatikan: "Nawaitu fardhal subhi rok'ataini QADHAAN lillahitaala", bermaksud: "Sahaja aku menunaikan solat fardhu subuh 2 rakaat QADHA kerana Allah taala." 

Bagi yang mahu qadha solat fardhunya di masjid untuk mengelakkan sebarang fitnah untuk solat Subuh, solat seperti biasa, tetapi ketika hendak membaca doa qunut, pendekkan sahaja bacaannya sekadar rukun yakni:
-Bacaan qunut itu sendiri
-Selawat ke atas Nabi SAW.
Dalam hal ini, cukuplah sekadar membaca sepatah bacaan qunut, contohnya "Allahummah dini fiiman hadait" kemudian terus sambung membaca selawat ke atas Nabi SAW, iaitu: "Fasallallahu'ala saiyidina Muhammadinin Nabi ummiyyi wa'ala 'alihi wasohbihi barik wasallim." kemudian barulah turun sujud. Jangan turun sujud selagi tidak sempurna rukun bacaan doa qunut tadi, yakni hendaklah membacanya sehingga habis dalam keadaan berdiri itu. Angkat tangan untuk berdoa pun sunat, tak perlu angkat tangan untuk berdoa. Kemudian bagi yang mahu menunaikan solat qadha Zuhur, Asar, Maghrib atau Isyak, buatlah dirumah, atau boleh saja melakukannya dimasjid jika kita tidak mempedulikan pandangan orang (itulah yang sebaik-baiknya, kerana kewajipan menunaikan solat qadha lebih penting daripada menilai perhatian orang lain).

Berkenaan dengan solat sunat terawih dan solat sunat hari raya, bagaimana pula untuk qadha solat fardhu dalam keadaan berjemaah? Mengenai hal ini, mungkin agak rumit untuk diperjelaskan dan difahami oleh pembaca, tetapi saya akan cuba untuk menjelaskan sebaik mungkin.

Qadha solat fardhu ketika berjemaah dengan jemaah yang menunaikan solat terawih:
-Biasanya di masjid akan melakukan solat sunat terawih sebanyak 20 rakaat. Dan ia dilakukan sebanyak tiap-tiap 2 rakaat 1 salam. Jadi bagi mereka yang nak qadha solat subuh, bolehlah mengikut cara yang disebutkan tadi cuma perlulah diniatkan sebagai makmum yakni mengikut imam iaitu melalukan niat qadha solat subuh qadha mengikut imam kerana Allah taala semasa mengangkat takbir.

Tetapi bagi mereka yang hendak qadha solat Zuhur, Asar dan Isya', begini caranya:
-Hendaklah dia berniat untuk qadha solat Zuhur/Asar/Isya' sebagai makmum (mengikut imam). Solatlah seperti biasa mengikut imam, tetapi apabila imam memberi salam, kita tidak boleh mengucapkan salam juga, jika tidak, solat kita akan menjadi batal (kerana salam adalah tanda habisnya sesebuah solat yang didirikan). Jadi berniatlah untuk mufarakah daripada mengikut imam (yakni berniat untuk tidak lagi mengikut imam) dan kekalkan keadaan diri anda dalam keadaan tahiyat awal, ini kerana anda perlu bersedia pada bila-bila masa sahaja untuk bangun mengikut imam semula. Sesiapa yang hendak menggerakkan kepala sedikit hanya semata-mata isyarat untuk salam (supaya makmum disebelah kita tidak mengesyaki apa-apa kerana pelik dengan tindakan kita yang tidak memberi salam mengikut imam) maka lakukanlah kerana pergerakan itu tidak membatalkan solat (selagi anda tidak melafazkan salam atau mengalihkan dada dari arah kiblat). Sekarang doa dibacakan oleh imam dan para makmum, anda pula sedang dalam keadaan tahiyat awal. Maka bersabarlah sebentar untuk mereka habiskan bacaan doa itu, kemudian apabila imam bangun untuk solat 2 rakaat yang seterusnya, sebaik sahaja imam habis melafazkan takbir, niatkanlah (masukkan semula niat anda untuk mengikut imam kerana sebentar tadi anda telah berniat mufarakah dengannya) untuk mengikut imam untuk menyelesaikan 2 daripada 4 rakaat yang perlu dihabiskan untuk menyempurnakan solat fardhu qada 4 rakaat anda. Apabila imam memberi salam, pada waktu ini barulah anda boleh memberikan salam kerana anda sudah selesai menunaikan solat fardhu qada 4 rakaat. Perlu diingatkan, niat masuk-keluar-masuk daripada menjadi makmum kepada seorang imam ini hanya dibolehkan di dalam mazhab Syafie selagi solat imam itu tidak terbatal kerana najis/tersalah bacaan/lafaz dll. 

Kemudian, lakukanlah solat qadha fardhu 4 rakaat bagi rakaat yang seterusnya. Sekurang-kurangnya anda boleh menyelesaikan sebanyak 5 solat waktu untuk 20 rakaat solat terawih dan 1 solat maghrib untuk witir (solat witir didirikan dengan 3 rakaat 2 salam) yang sesuai untuk qadha solat Maghrib kerana bilangan solat witir yang ganjil.

Bagaimana dengan solat sunat hari raya..?
Solat sunat hari raya mempunyai 2 rakaat di dalamnya, dengan 7 takbir (tidak termasuk takbiratul ihram) pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua. Untuk rakaat pertama, niatkan solat qadha subuh mengikut imam dan ambil 1 takbir sahaja (samada pada permulaan takbir pertama imam - jika mengambil takbir pertama imam, maka xperlu mengangkat 7 takbir yang seterusnya, maka hendaklah anda diam sehinggalah imam membacakan Al-Fatihah) atau bertakbiratulihram pada takbir yang ke tujuh). Pada rakaat kedua, tidak perlu mengangkat sebarang takbir (kerana mengangkat takbir tambahan di dalam rakaat pertama dan kedua solat sunat hari raya adalah sunat; jika terlupa melakukannya dan terus membaca fatihah, maka takbir-takbir tadi luput tidak perlu diulangi semula) dan solat tetap sah - apa lagi anda yang sedang solat qadha). Kemudian habiskan solat dengan mengikut imam seperti biasa.

*permasalahan Qadha solat ini adalah mengikut mazhab shafie..



Ya Allah Ya Tuhanku..
Kau bantulah aku pelihara perasaanku
Ya Allah..Kau hilangkan lah rindu, duka dan segala perasaan lain yang ada dalam diriku ini
Ya Allah..Kau redhakan lah aku
Ya Allah..Kau ikhlaskan lah aku
Ya Allah..sesungguhnya kurniakan lah aku dengan ketenangan hati dan kekuatan diri


Ya Allah Ya Tuhanku..
Kau berikanlah aku nikmat kesyukuran untuk apa yang Kau dah beri pada aku kini
Ya Allah...janganlah Kau biarkan aku meminta lebih dari yang aku layak
Ya Allah..Kau sabarkan lah aku
Ya Allah..kesabaran aku benar-benar sedang teruji
Ya Allah..Kau pelihara lah perasaanku
 Ya Allah...Kau peliharalah juga fikiranku
Ya Allah..jangan lah Kau biarkan aku kembali mencari cintaku dan musnahkan segala keredhaan dan keikhlasan terhadap ujianMu yang telah aku bina Ya Allah..


Hanya kepadaMu aku berserah Ya Allah dan kepadaMu aku memohon..kurniakan aku ketenangan hati.
Ya Allah, kekuatan minda Ya Allah, dan ketabahan diri Ya Allah..
Ya Allah, kau redhakan lah aku untuk ujianMu Ya Allah dan kau ikhlaskan lah pengorbanan aku walaupun aku terasa hati kerana masih dilayan buruk oleh mereka..Kau bantulah aku Ya Allah..Kau kurniakan lah hadiah cintaMu Ya Allah..hanya itu yang aku pinta.


Ya Allah
Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku
Kau juga yang Maha Mengampuni segala kesilapan dan ketelanjuranku
Sekiranya aku tersilap berbuat keputusan
Bimbinglah aku ke jalan yang Engkau redhai
Sekiranya aku lalai dalam tanggungjawabku
Kau hukumlah aku didunia tetapi bukan diakhiratMu
Sekiranya aku engkar dan derhaka
Berikanlah aku petunjuk kearah rahmatMu


Ya Allah
Kuatkan hati dan semangatku
Tabahkan aku menghadapi segala cubaanMu
Jadikanlah aku muslimah yang disenangi
Bukakanlah hatiku untuk menghayati agamaMu
Bimbinglah aku menjadi Muslimah yg Solehah.
Ameen ya Rabb alamin.


This drawing shows where the sounds should come out from when you pronounce the Arabic letters.


Qada Dan Qadar


 

Qada dan qadar adalah salah satu dari rukun iman yang wajib dipercayai dan diimani oleh setiap orang Islam. Penjelasan mengenai qada dan qadar ini ada dibicarakan di dalam kitab-kitab aqidah dan perbincangannya agak panjang dan adakalanya begitu susah untuk difahami oleh kebanyakkan orang terutamanya bagi sesiapa yang baru menjejakkan kaki dalam perbincangan ilmu aqidah secara mendalam.



ERTI DAN BAHAGIAN QADA DAN QADAR

Qada bermaksud pelaksanaan. Adapun qadar bermaksud sukatan.Terbahagi kepada dua bahagian iaitu: Qada Mubram dan Qada Muallaq.
Qada Mubram: Adalah ketentuan Allah Taala yang pasti berlaku dan tidak dapat dihalang oleh sesuatu apa pun. (Contoh: Mati pasti akan berlaku). Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Qada Muallaq: Adalah ketentuan yang tidak semestinya berlaku bahkan bergantung kepada sesuatu perkara. (Contoh: Panjang umur bergantung kepada menghubungkan silaturrahim dan amal kebajikan yang lain). Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Tidak boleh ditolak qadar Allah Taala melainkan doa. Dan tiada yang boleh memanjangkan umur melainkan membuat baik kepada ibubapa.
(Riwayat Hakim, Ibnu Hibban dan Tarmizi).

SEMUA PERKARA DI DALAM PENGETAHUAN ALLAH TAALA

Kedua-dua jenis qada di atas ini adalah di dalam pengetahuan Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Segala perbuatan hamba adalah diketahui oleh Allah Taala melalui ilmu-ilmuNya. Hanya ianya terlindung dan tidak diketahui oleh hamba-hambaNya yang lemah. Kerana itulah kita disuruh untuk sentiasa berusaha dan taat kepadaNya kerana kita tidak mengetahui apa yang akan berlaku kepada kita nanti.

ANTARA BENTUK KETAATAN

Antara bentuk ketaatan adalah dengan berdoa kepada Allah Taala. Dengan berdoalah seseorang hamba itu akan merasakan dirinya lemah dan berhajat atau memerlukan kepada Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Aku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(Surah al-Baqarah: ayat 186).
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Doa merupakan otak kepada ibadat.
(Riwayat at-Tarmizi).

SENTIASA BERUSAHA DAN BERDOA

Setelah diketahui bahawa segala usaha dan doa dari hamba akan didengar dan diambil kira oleh Allah Taala maka dengan sebab itulah perlunya seseoarang hamba itu untuk sentiasa berusaha dan berdoa. Namun segala usaha dan doa ini sudah tentulah di dalam kuasa dan ilmu Allah Taala. Kerana itulah ada dinyatakan bahawa manusia hanya berusaha dan berdoa tetapi Allah Taala jualah yang menentukannya. Disebabkan manusia tidak mengetahui qada dan qadarnyalah maka manusia perlu kepada usaha dan doa. Firman Allah Taala bermaksud:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Surah ar-Rad: ayat 11).

KONSEP QADA DAN QADAR

Keperluan kepada konsep qada dan qadar di dalam Islam adalah:
- Menisbahkan kepada Allah Taala di atas segala yang berlaku di dunia ini.
- Beriman bahawa hanya Allah Taala yang memiliki kuasa mutlak menentukan urusan di dunia ini.
- Menyedarkan bahawa manusia itu lemah dan perlu kepada bantuan Allah Taala.
- Hikmah qada dan qadar disembunyikan dari pengetahuan hamba adalah supaya seseorang hamba itu sentiasa berusaha dan taat kepadaNya.

PERINGATAN

Peringatan daripada dalil hadis di bawah ini dapat mengingatkan kepada kita tentang bahayanya mempersoalkan dan memanjang-manjangkan perbincangan mengenai qada dan qadar ini tanpa sebab tertentu. Sebab itulah kebanyakkan para tok guru kita cuba mengelakkan diri dari berbicara mengenai qada dan qadar ini secara panjang lebar terutamanya kepada masyarakat awam.
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Apabila disebut tentang qadar maka diamlah…
(Riwayat Tabrani dan Abu Nuaim).

PENUTUP

Sebagai umat Islam yang beriman adalah kita diwajibkan mempercayai dan mengimani qada dan qadar. Segala yang berlaku adalah dari Allah Taala semuanya. Kita hanya mampu berusaha dan berdoa akan tetapi Allah Taala jualah yang Maha Berkuasa yang menuntukan segala sesuatu itu. Saya ingin sarankan agar kita semua dapat mempelajari ilmu aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah dengan lebih mendalam dan terperinci.

15 Langkah mudah berfesyen untuk lelaki.



1. Pilih pakaian yang fit - Benda utama yang akan menampakkan lelaki 'alert' dengan fesyen ni ialah cara memilih baju. Masalah utama kebanyakan lelaki ialah memakai baju yang lebih besar daripada badan. Pastikan memilih pakaian yang fit iaitu pakaian yang membuatkan badan anda rasa seolah dipeluk tapi bukan dijerut. Berhati-hati ketika memilih, fit bukan bermakna ketat.


2. Simple tapi smart - Apabila bercerita tentang fesyen, bukan bermakna anda perlu berpakaian seperti seorang artis. Pakai simple pun dah cukup. Amalkan mengayakan pakaian dengan tidak menggunakan lebih daripada tiga warna. Nak nampak menyerlah sikit pakailah blazer warna hitam atau putih yang fit. Pakai blazer tak semestinya kena pakai dengan kasut kulit dengan seluar slack. Pakai seluar jean pun boleh kena gayanya.

3. Santai bukan membosankan - Berpakaian santai bukan bermaksud pakai seluar pendek dengan singlet koyak. Cuba banyakkan membaca buku-buku fesyen atau melihat program-program yang bersifat santai di televisyen.

4.Pemakaian pastikan sepadan - Sentiasa pastikan anda berfesyen kena dengan gayanya. Duduk depan cermin fikir nampak pelik tak apa yang anda pakai. Kalau anda sendiri dah rasa pelik, apatah lagi orang kat luar sana. Sebagai contoh, anda pakai baju yang labuh tapi pakai seluar yang ketat ala-ala legging. WTF?


5. Tidak shopping berseorangan - Jangan amalkan keluar shopping berseorangan. Ajak member seorang pun jadilah. Tapi member bukan sekadar member, cari member yang boleh bagi pendapat jujur. Kata-kata member lagi boleh dipercayai berbanding penjual berkenaan.

6.Sentiasa peka - Jangan terlebih berfesyen kerana pasti akan buat anda nampak cacat, tapi jangan takut untuk berfesyen. Sentiasa fikir apakah event yang anda akan pergi. Kalau dah bercadang nak pergi ke tempat yang panas, takkan nak pakai sweater yang tebal. Jika anda pergi ke event yang dihadiri oleh bos anda, takkan anda nak nampak lebih menyerlah berbanding bos anda. Silap-silap bulan depan dapatlah surat berhenti kerja.

7. Jangan mengabaikan benda yang remeh-temeh - Lelaki biasanya akan menganggap bende remeh temeh seperti cara pemakaian scarf. Mesti akan kata, "Ah, bedal jelah...." Sebenarnya benda yang anda rasakan temeh tulah yang mampu memberikan impak yang besar.

8.Belanja lebih untuk kasut - Apa salahnya jika berbelanja lebih untuk sepasang kasut.  Tetapi jangan beli saja mahal-mahal, tapi tak tahu nak jaga.Tahukah anda kaum lelaki sekalian bahawa mata perempuan ni biasanya akan melihat kasut yang dipakai lelaki. Sama ada cantik atau tak cantik, bersih ke tak dan sesuai ke tak. Macam mana nak kagumkan teman wanita kalau kasut kotor. Kasut melambangkan identiti diri. Kotor kasut, pemalaslah anda.

9.Berhati-hati memilih t-shirt - Jangan amalkan memakai t-shirt yang mempunyai logo yang besar kerana anda akan dilihat seperti diupah oleh syarikat tertentu untuk menjadi papan iklan bergerak.

10.Jangan terikut pada trend - Jangan biasakan mengikut sangat trend masa kini kerana trend tidak akan kekal lama. Kekal dengan citarasa yang anda suka. Kerana tak guna kalau membeli pakaian mengikut trend semasa tetapi jarang pakai.  

11.Jangan beli kerana brand - Sebelum anda beli sesuatu pakaian, pastikan anda bertanya kepada diri sendiri sama ada anda membeli kerana brand pakaian tersebut atau kerana nampak smart. Biar beli pakaian yang murah tapi smart berbanding beli pakaian mahal tapi buruk macam kain lap kat dapur.

12.Teruskan membentuk image tersendiri - Cuba bentuk style anda yang tersendiri. Bukan bermakna anda menjadi the next lady gagap tetapi jadi seseorang yang kalau disebut saja nama anda, kawan-kawan akan mula berfikirkan tentang cara pemakaian anda. 

13. Jangan malu untuk meminta pendapat - Rajin-rajinkan diri untuk bertanya dengan orang terdekat sama ada apa yang anda pakai itu nampak smart atau sebaliknya. Tapi mestilah bertanyakan kepada orang yang boleh memberi pendapat dengan sejujurnya.

14.Pastikan muka bersih dan kemas - Perhatikan wajah anda, terutama sekali pada janggut. Ada nampak terurus? Bulu hidung tu ada terkeluar-keluar? Sideburn tu ada nampak macam Elvis Presley? Pastikan muka nampak bersih dan kemas, buang segala bulu roma yang dirasakan menyemak. Pemilihan pencukur juga amat penting. 

15.Bereksperimen dengan gaya - Jangan takut untuk memakai sesuatu yang baru. Jika selalunya anda pakai baju yang gelebeh, cuba pakai baju yang fit untuk nampak lebih tegap. Jika selalu anda sikat rambut ke hadapan, apa kata sikat rambut ke belakang untuk nampak lebih bertenaga dan berani. Semuanya terletak pada keberanian anda dan bukannya kepelikkan anda.



~Jadilah Wanita Yang Paling Bahagia~


Alhamdulilah, tercipta video pertama yang serba kekurangan..


Pesan Mama ♥


Di pagi Jumaat yang berkat ini, saya nak kongsikan satu pesanan dari Mama saya (tapi pesanan ini hanya boleh diaplikasikan setelah berkahwin saja ya, selagi belum kahwin boleh pilih samaada mau ikut atau x jak, hehe)

Mama pesan, bila sudah kahwin, jangan sesekali puji mana2 lelaki depan suami, dia hensom ke, smart ke, wangi ke... jaga perasaan suami, kalau mau suami jaga perasaan kita. Betul jugakan, kenapa perlu puji lelaki lain, kalau suami ada didepan mata... jadilah isteri yang baik, dimana suami pergi pun dia akan mengingati kita...hehe.(ya, saya yakin ttg ini sgt2!, walaupun hati boleh berubah, kerana Allah yang membolak-balikkan hati kita, tp kalau kita buat berbuat baik, kebaikan itu akan sentiasa diingati)

Disebabkan sekarang sudah ramai wanita yang bekerjaya, itu bukan alasannya untuk berkawan2 rapat dgn mana2 lelaki ditempat kerja. Seorang isteri yang baik, tahu meletakkan dirinya dimana..di rumah dia isteri, diluar dia 'isteri orang', bukan di rumah isteri, diluar dia 'bujang'. Bukan tak boleh berkawan pun tp letakkan batas, rahsia 'suami isteri' 'keluarga' tak perlu nak kongsi dengan kawan lelaki sekalipun rapat! kenapa? sebab berkahwin adalah utk berkongsi segala tentang kehidupan (suka, sedih, bahagia etc) Jadi untuk apa nk share masalah2 dgn kawan lelaki yg xda hubungan yg sah?? Isteri yang baik xakan berkongsi cerita2 yg xsepatutnya dgn orang luar lbh2 dgn kawan lelaki. Kalau kawan lelaki tu baik mungkin okey, tp kalau dia akan mengambil kesempatan kerana cerita2 itu mcm mana? Lelaki itu manusia dan 'penyayang', mungkin saja sesi luahan masalah boleh menjadi sesi luahan hati dan sayang...so hati2 tentang ini.

#heh, pesanan ini utk lelaki juga tau, jgn dok puji2 perempuan lain didepan isteri..ingat si isteri tu xada hati,..Jangan sekadar ckp isteri gemuk xpandai jaga badan, kalau nk sangat isteri yg slim ke apa, hantarlah isteri pg pusat pelansingan badan. hehe. Lelaki yang baik, xkan share masalah dengan isterinya kepada perempuan lain! ingat tu!

(saya tahu saya xkahwin lagi, jadi saya hanya boleh bercakap saja [mungkin ada yg berfikir begini kan] siapa pun xboleh mengubah apa yg telah Allah tetapkan, tapi kita ada agama yang menjadi benteng kpd hal2 yang tidak xbaik)

Jadilah manusia yang berusaha kepada kebaikan, walaupun sebenarnya kita tak baik. BERUSAHA!




~Suami isteri yang berhias~


Satu hal yang saya pelajari semalam, bila dah kahwin nnt seorang perempuan yang telah menjadi isteri bukan sahaja kena tahu menjaga diri dan penampilan dihadapan suaminya selain itu harus juga tahu membawa diri dan menjaga maruah suaminya diluar. Satu yang sering dianggap remeh, seorang isteri harus tahu menjaga pakaian dan penampilan suaminya. Maksudnya biarlah suami nampak kemas dan smart bila diluar jgn selekeh sgt, rambut mestilah diurus sekalipun 'beruban'. 

Percayalah, bila seorang isteri telah menjaga suaminya dgn sebaiknya, sekalipun diluar si suami itu bertemu orang lain dia akan tetap menganggap isterinya terbaik (sebab itu ada suami2 yang yg tak akan menceraikan isteri pertamanya sekalipun dia berkahwin lain)..hehehe, selebihnya serahkan pada Allah, semuanya Allah telah takdirkan.

Heh, para suami-suami yg xkemas dan smart tu, jgn letak tanggungjwb ini dgn isteri shj..pasangan suami isteri akan lbh mencintai apabila tahu menghargai pasangan masing2. hehe

so klu nampak seorg lelaki tu smart, jgn tlalu awal fikir dia hensom dan smart, mungkin saja ada seorang ISTERI yang menjaga pemakaian dan penampilannya...

(nasihat ini dari Ayahanda saya,..& harus belajar dgn mama & kakak)
 

Majlis Makan Malam





In Shaa Allah, malam ini akan menghadiri majlis makan malam Yang diPertua Dewan Negara bersama Ahli-ahli Dewan Negara & meraikan Ahli-ahli Dewan Negara yang Tamat Tempoh di Dewan Bankuet, Parlimen Malaysia



Lama juga tak update Blog ni,
bukan apa busy sangat dengan persidangan Dewan Rakyat yang baru berakhir pada 29 November 2012, hari Khamis yang lalu setelah hampir 3 bulan bersidang.
so skrg masa utk berjuang utk Dewan Negara pula...
Maybe selepas je Dewan negara ni, akan terlibat pula dgn PRU13...
tapi saya sangat sukakan kerja saya, politik..
okeylah, nnt kalau dah habis Dewan Negara, saya akan update blog rajin2 ye,..
nak share dengan kawan2 tentang persiapan perkahwinan saya pula.. 
In Shaa Allah, Ameen.


Ketaatan seorang wanita.


Sebagai seorang anak perempuan, satu yang saya risaukan ialah bagaimana ketaatkan saya kepada ibu bapa dan bakal suami kelak. Mungkin ada yg bertanya kenapa saya perlu risau? Hakikatnya saya tetap mahu taat kepada ibu bapa walaupun telah berkahwin kelak. So saya telah mencari hadis serta maklumat lain mengenai hal ini. Seterusnya saya tuliskan semula untuk panduan diri dan orang lain. [mohon kepada yang arif perbetulkan jika terdapat kesalahan, mudah-mudahan ia berguna kpd semua wanita yang mahu berkahwin ataupun telah berkahwin. InshAllah, Ameen]

Ramai yang beranggapan bahawa tanggungjawab terhadap ibu-bapa hanya tanggungjawab anak lelaki. Sedangkan hal yang sebenarnya anak perempuan juga mempunyai tanggungjawab terhadap ibu-bapa. Memang benar kita sebagai perempuan kena taat kepada suami kita selepas kahwin. Tetapi, perlu diingatkan wahai kaum adam, anda sebagai seorang menantu juga mempunyai kewajipan terhadap ibu-bapa mentua. Jika anda menyekat isteri-isteri anda untuk berbakti kepada ibu-bapa mereka, andalah yang akan menanggung dosa-dosa menderhaka terhadap ibu-bapa, bukan isteri anda. Ini disebabkan apabila sudah kahwin, kita kena mentaati ibu-bapa mentua kita sebagaimana kita mentaati ibu-bapa kita sendiri. 


Perkahwinan seorang anak perempuan dengan seorang lelaki tidak memutuskan hubungannya dengan ibu bapa dan tidak pula menghilangkan tanggungjawab anak kepada ibu bapa. Perkahwinan adalah penambahan kepada tanggungjawab yang sedia ada bagi lelaki dan perempuan, dan bukan pengurangan. Yang kekal ialah prinsip menunaikan tanggungjawab ikut kemampuan kita. Islam tidak menuntut kita lakukan sesuatu lebih dari kemampuan. Bagi lelaki yang telah berkahwin, kebajikan ibu bapa mertua juga menjadi tanggungjawabnya sebab status ibu bapa mertua adalah sama dengan ibu bapa sendiri.


Allah berfirman yang bermaksud, “Dan (ingatlah wahai Muhammad), ketika Kami mengikat perjanjian setia dengan Bani Isra'il (dengan berfirman): “Janganlah kamu menyembah melainkan Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu-bapa, dan kaum kerabat, anak yatim, serta orang miskin dan katakalah kepada sesama manusia perkataan yang baik...”” (Surah al-Baqarah ayat 83)

Apabila seorang wanita dinikahi maka keutamaan baginya ialah mentaati suaminya tanpa berbelah bagi selagi mana suaminya tidak menyuruhnya melakukan kemungkaran terhadap Allah SWT. Mentaati suami perlu diutamakan tanpa menafikan kewajipan mentaati kedua-dua ibu bapa. Tidak kira ibu bapa itu daripada pihak suami mahupun daripada pihak isteri. Berkahwin bukan sekadar mengikat tali hubungan antara seorang lelaki dan perempuan malah perkahwinan itu ialah jambatan bagi membina persaudaraan antara keluarga lelaki dan perempuan.

Dalam hadis ini Baginda Rasulullah SAW memperlihatkan akan kedudukan suami yang sepatutnya dihormati, sekali gus tidak ingkar kepada perintahnya. Dalam maksudnya yang lain menggambarkan bahawa suami mesti dimuliakan, dan kemuliaan itu bukan kerana Islam ingin memberi darjat yang berbeza antara lelaki dan wanita tetapi adalah untuk melihat kepada pengorbanan dan kesanggupan dia menjadi suami dan menjaga kehormatan isterinya.

Persoalan yang sering kali menjadi dilema seorang wanita yang bergelar isteri : 
“Bolehkah seorang isteri menziarahi ibu bapa (atau keluarganya) tanpa izin suami?” Malah, ramai yang berfahaman, “Ketaatan seseorang isteri kepada suami lebih dituntut” berbanding dengan “Ketaatan isteri kepada ibu bapanya”. Sebagai contoh, saya petik kata-kata ini, “....bila dah berumah tangga, syurga suami masih di bawah tapak kaki ibu kandungnya ..... dan syurga isteri dah bertukar ke bawah tapak kaki suaminya ..... hatta ada dalam sejarah Islam yg merujuk kepada ketaatan isteri hendaklah sepenuhnya pada Allah dan suami sehinggakan kalau suami tak benarkan isteri berjumpa dengan mertua (ibu bapa isteri) sekalipun, isteri hendaklah mentaati suaminya...”

Bagaimanapun, saya hanya ingin mengupas persoalan hak isteri dalam menziarahi ibu bapa tanpa izin suami ini, saya samakan dengan taat suami vs taat ibu bapa, bukan hak suami vs hak isteri. Saya difahamkan, seorang isteri tidak boleh keluar menziarahi ibu bapa (walaupun ibu bapanya sakit atau meninggal dunia) jika tiada keizinan suami. Ini berdasarkan dua kisah yang berbeza seperti di bawah :


Kisah 1

Dalam sebuah riwayat diterangkan; sesungguhnya telah terjadi di zaman Rasulullah SAW seorang suami pergi berperang meninggalkan isterinya. Ketika hendak meninggalkan rumah dia berpesan kepada isterinya, “Janganlah kamu meninggalkan rumah sehingga aku pulang dari berperang.” Pada waktu si suami sedang tiada di rumah, ibu si isteri jatuh sakit.

Maka si isteri tersebut mengutus seseorang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin melihat ibunya. Jawab Rasulullah, “Tunggulah suamimu pulang, janganlah keluar rumah.” Akhirnya orang tua si isteri meninggal dunia. Lalu si isteri mengutus lagi seseorang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin melihat ibunya. Lalu Rasulullah menjawab, “Tunggulah hingga suami mu pulang.” Setelah itu Rasulullah SAW mengutus seseorang kepada si isteri tersebut untuk memberikan berita bahawa Allah SWT telah mengampuni dosa ibunya disebabkan ketaatannya kepada suaminya.

Jadi seorang wanita yang solehah itu ialah wanita yang telah sanggup meletakkan sesuatu pada tempat yang benar. Ertinya, jika ia sudah bersuami, maka yang paling berhak terhadap dirinya adalah suaminya, melebihi diri ibu dan bapa serta keluarganya yang lain.

Kisah 2 – Petikan Suami larang isteri ziarah keluarga.

Tidak dikira sebagai dosa jika tidak menziarahi ibu bapa disebabkan tidak mendapat keizinan dari suami. Perkara ini disandarkan kepada satu hadis dengan sanad yang agak lemah, iaitu hadis berikut;

“Seorang lelaki yang keluar bermusafir. Dia telah berpesan kepada isterinya bahawa jangan turun dari tingkat atas kepada tingkat bawah. Bapa isterinya itu tinggal di tingkat bawah. Bapanya ditimpa sakit. Isterinya itu telah mengutuskan seorang perempuan kepada Rasulullah SAW agar memberi keizinan kepadanya turun untuk menziarahi bapanya yang sedang sakit. Nabi SAW bersabda; “Taatilah suami kamu.” Kemudiannya, bapanya meninggal dunia, lalu dia mengutuskan lagi kepada Rasulullah. Nabi SAW bersabda, “Taatilah suami kamu.” Jenazah bapanya dikebumikan. Lalu Rasulullah SAW mengutuskan seseorang kepada si isteri untuk diberitakan bahawa Allah telah mengampunkan dosa bapanya disebabkan ketaatannya terhadap suaminya[5]” [5] Takrij Ahadis Al-Ihya’ li Al-Iraqi : 1551.

Saya bukanlah seorang yang arif tentang hadis, namun saya lihat hadis pertama tiada perawi mahupun periwayat dan hadis kedua dikatakan sanadnya lemah, juga tiada perawi dan riwayat daripada siapa. Kisah 1 berkenaan ibu yang sakit dan kisah 2 pula si ayah yang sakit. Apakah status hadis-hadis ini? Jika sanadnya lemah, adakah statusnya ‘hadis daif’? Betulkan saya jika tersilap.

Bolehkah kita beramal dengan hadis daif? Sedangkan, para ulama sendiri berkhilaf pendapat dalam penggunaan hadis dhaif.
Dari sumber di atas, ada tiga golongan ulama yang khilaf pendapat iaitu :
________________________________________________________________

Golongan pertama - Hadis dhaif tidak boleh digunakan walaupun untuk tarqib (galakan), tarhib (menakut-nakutkan), fadhail amal (kelebihan beramal) ataupun untuk langkah berjaga-jaga. Ini merupakan pendapat Imam Bukhari dan Muslim, yang disokong oleh Abu Bakar al-Arabi (Mazhab Maliki), Abu Syamah al-Maqdisi (Syafie), Ibnu Hazmin (Zahiri) dan lain-lain.

Golongan kedua - Harus (boleh) menggunakan hadis dhaif jika tidak ada sandaran-sandaran lain tentang sesuatu perkara sama ada daripada al-Quran, hadis, qias, ijma, istihsan dan lain-lain. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim. Kata Imam Ahmad: “Hadis dhaif lebih kami sukai daripada fikiran seseorang.”

Golongan ketiga - Hadis dhaif boleh digunakan sebagai hujah dalam fadhail amal, peringatan, kisah-kisah, galakan dan sebagainya. Namun begitu secara umumnya tidak boleh digunakan dalam soal akidah dan hukum-hakam. Ini adalah pendapat yang muktamad bagi para ulama muhaqqiqin dengan syarat-syarat yang tertentu. Antara tokoh yang berpegang dengan panangan ini ialah Imam Nawawi dan al-Hafiz Ibnu Hajar.

Saya lebih cenderung kepada golongan pertama, kerana saya pernah membaca artikel di utusan, sahih Imam Bukhari dan Muslim hampir/dekat dengan al-Quran. Jadi, saya guna-pakai pendapat Imam Bukhari dan Muslim dalam bab hadis dhaif juga.



Sumber 1 – utusan menyebut :

Peruntukan dalam feqh Prof Dr. Mahmud Ali al-Syarthawiy di dalam kitab Syrah Qanun al-Ahwal al-Syaksiyyah, menegaskan harus si isteri ziarah ibu bapanya walaupun tidak mendapat izin suami seminggu sekali, sekiranya kedua ibu bapanya sakit harus baginya menziarahi mereka setiap hari kalau dia mahu.

Harus juga bagi si isteri menziarahi sanak saudaranya dalam sebulan sekali, namun ditegaskan oleh para ulama itu sekiranya suasana aman, sekiranya suasana tidak aman maka tidak harus bagi si isteri keluar tanpa izin suaminya, yang demikian ialah demi menjaga keselamatannya
 (hlm:162).

Sumber 2 – kias.edu.my/nushus pula menyebut :

Mengenai keluar rumah kerana menziarahi dua ibu bapa walau pun tanpa izin tidak termasuk dalam perbuatan nusyuz mengikut setengah pandangan, malah mereka berpendapat isteri mempunyai hak menziarahi dua ibu bapa lebih kerap sekiranya dua ibu bapanya sakit dan tidak ada orang lain yang menjaganya. Ini tanpa mengira sama ada di izin atau tidak oleh suami kerana manusia dituntut oleh Islam membuat kebaikan sedaya yang mampu kepada dua ibu bapa ,sama ada sebelum atau selepas kahwin dan sama ada ibu bapa Islam atau tidak.

Hanafi hanya membolehkan isteri menziarahi dua ibu bapa tanpa izin sekirnya mereka sakit sahaja. Dengan lain perkataan menziarahi dua ibu bapa tanpa izin tidak termasuk dalam perbuatan nusyuz sekiranya mereka sakit.

Ada pandangan lain menyatakan makruh suami tidak mengizinkan isteri menziarahi dua ibu bapanya. Alasannya membuat kebaikan kepada dua ibu bapa dan menghubung tali silaturahim adalah kewajipan yang dituntut oleh agama. Menghalang mereka menziarahi dua ibu bapa menyebabkan berlaku kerenggangan hubungan dan mendorong mereka melakukan perbuatan derhaka. Sedangkan melakukan kebaikan dan menghubung silaturrahim adalah satu tuntutan Syara'. Firman Allah, (al-Isra’ : 24), maksudnya,
 “Allah telah memfardukan kepada kamu supaya kamu jangan mengabdikan diri melainkan terhadapNya dan kepada dua ibu bapa hendaklah kamu melaku ihsan.”

Persoalan yang banyak berlegar di sekeliling kita :

1.) Apakah hak seorang suami dalam melarang/menegah isteri daripada menziarahi ibubapanya?

2. Apakah peruntukan undang-undang Islam Negeri dalam hak isteri menziarahi ibubapa/keluarga (tanpa izin suami)?

3. Bukan sedikit isteri dalam dilema terpaksa taat kepada suami sehingga mengabaikan ibubapa. Benarkah ajaran Islam ada menyatakan ketaatan isteri berpindah kepada suami bila dia berkahwin?

4. Bukan sedikit anak perempuan membelakangkan ibu bapa, atas alasan sudah bersuami, malah ramai yang beranggapan isteri adalah hak mutlak suaminya.

5. Bagaimana pula jika ibu bapa yang hanya mempunyai anak perempuan, adakah mereka hilang hak diziarahi anak (jika suami tidak membenarkan)?

Akibat dilema inilah, ada isteri yang menyangka Islam sangat zalim kerana perkahwinan memisahkannya dengan ibu bapa dan keluarganya. Mereka merasakan Islam tidak adil dan banyak memihak kepada suami. Akibat dilema ini juga, ada ibu bapa merasa, rugi sungguh jika mendapat anak perempuan kerana apabila dia bersuami, dia sudah jadi hak suami dan ibu bapa tak dipedulikan lagi. Adakah ini ajaran Islam yang sebenarnya?

Mengikut fahaman saya, taat kepada siapa pun kita harus melihat kepada keadaan/situasi seseorang isteri. Kalau suami halang isteri daripada menziarahi atau menjaga ibubapa yang sakit, apakah isteri perlu taat hanya kerana takut masuk neraka kalau tidak taat?

Ada suami yang beri kata dua kepada isteri, contohnya “Kalau kamu balik kampung ibubapa kamu, jatuh talak satu!”, atau isteri diugut begini, “Sekarang awak sudah menjadi isteri saya, jadi awak kena taat pada saya. Bukan taat kepada ibubapa awak. Kalau saya tidak benarkan awak ziarah ibubapa awak, awak tak boleh ziarah.”


Dalam situasi di atas, apakah pilihan isteri? Sejauh manakah ketaatan kepada suami mengatasi ketaatan kepada ibu bapa? Apakah jatuh haram isteri (berdosalah) yang langgar perintah suaminya yang melarang dia menziarahi ibubapa sakit (contohnya)?

Suami patut ada IHSAN dan EMPATI terhadap isteri, sebab itulah Allah SWT perintah suami agar bergaul dengan isteri dengan cara yang baik, seperti dalam firman Allah SWT di dalam al-Quran, yang bermaksud, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
 (Surah an-Nisaa’ ayat 19)

Dalam ayat al-Quran yang dipetik di atas, Ibn Kathir berpendapat bahawa ayat ini, 
“… dan hendaklah kamu bergaul baik dengan isteri-isteri kamu dengan cara yang baik…” bermaksud : para suami hendaklah memperelokkan bicara mereka bersama isteri, hendaklah memperelokkan tingkah laku kepada mereka serta menjaga penampilan yang baik mengikut kemampuan kamu seperti mana yang kamu harapkan daripada mereka iaitu isteri-isteri kamu, maka hendaklah kamu melakukan yang baik-baik itu terhadap mereka seperti yang kamu mahukan daripada mereka. (Ibn Kathir, jld:1, hlm: 466)

Maka jelas lagi terang bahawa hukum bergaul baik dengan isteri adalah WAJIB. Malangnya, berapa ramai yang ikut perintah Allah yang ini? Akibat mengabaikan perintah Allah yang ini, natijahnya amat teruk sekali. Bila suami tidak ikut perintah Allah dan Rasul-Nya, maka, tidak hairanlah isteri tidak taat kepada suami. Ialah, jika suami ikut perintah Allah dan Rasul-Nya, secara automatiknya tentu dia juga menjaga hak-hak isterinya. Bila dia menjaga hak-hak isterinya, agak MUSTAHIL isterinya tidak taat kepadanya dan agak MUSTAHIL pula isteri tidak hormat kepada suaminya. Selalunya orang perempuan ini amat tinggi dengan tahap ketaatan dan kesetiaan mereka. Belas ihsan dan empati mereka lebih tinggi (dibandingkan lelaki), tetapi jika masih ada isteri yang tidak taat walaupun suaminya memenuhi tanggungjawab, adalah silap ‘wayarnya’ di mana-mana...

Bagi suami yang gagal menggauli isterinya dengan baik sedangkan dia taat kepada suaminya adalah berdosa. Rasulullah SAW juga menganjurkan agar setiap suami menggauli isteri dengan cara yang baik/maaruf. Ini jelas dapat dilihat dalam hadis baginda yang bermaksud, 
“Lelaki yang paling sempurna imannya ialah lelaki yang paling sempurna akhlaknya, dan sebaik-baik kamu (baik akhlak) ialah mereka yang baik dengan isteri-isterinya.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Dalam hadis yang lain pula sabda baginda yang bermaksud, 
“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap isterinya, dan aku adalah sebaik-baik lelaki kepada isteriku.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

Boleh saja ada yang berkata, “Suami tak patut halang isteri ziarah ibu bapa, akan tetapi jika suami halang, isteri wajib taat. Ini kerana menjalinkan silaturahim bukan hanya dengan berziarah, banyak cara lain lagi.”

Ziarah perkataan Arab bererti berkunjung ke~ atau pergi menengok, ada makna 'perjalanan' di situ. Ziarah tidak boleh disamakan dengan talipon/email/surat. Zaman Nabi dulu juga ada cara berhubung juga, saya tak tahu. Mungkin ada yang guna burung merpati, atau surat juga mungkin sudah ada. Saya kurang arif. Walau bagaimanapun ziarah adalah sunnah Nabi, tidak kiralah ziarah ibubapa, ahli keluarga, saudara mara dan saudara semuslim yang lain. Ziarah kubur pula tidaklah boleh disamakan dengan melihat gambar kubur. Feeling itu berbeza. Tidak sama. Hikmah ziarah memanjangkan silaturrahim, sepertimana dalam sabda Rasulullah SAW yang maksudnya: 
“Sesiapa yang ingin diluaskan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia memanjangkan silaturrahim.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Jika ziarah disamakan dengan talipon/email/surat, konsepnya sama dengan tengok aje laksa yang lazat dan ambil bau saja, TAK BOLEH makan ya...

Suami hendaklah berusaha supaya isteri dapat berbuat baik kepada ibu bapanya sendiri. Isteri pula hendaklah menjalankan tanggungjawab kepada suami dan rumahtangga dengan sebaiknya. Suami tidak boleh mementingkan dirinya sendiri sekiranya isteri telah berusaha sedaya upayanya memenuhi tanggungjawabnya. Adalah tidak wajar seorang suami menghalang isteri daripada menziarahi ataupun berbakti kepada ibu bapanya. Dengan kata lain, seorang isteri ada tanggungjawab kepada Allah, diri, suami, anak dan ibu. Memutuskan hubungan antara anak dan ibu adalah perbuatan zalim dan berdosa. Islam tidak pernah menyuruh mana-mana orang berbuat perkara sedemikian.


Ketaatan kepada suami hanya terdapat melalui hadis, tiada ayat dalam al-Quran yang jelas memperincikannya. Ketaatan kepada suami juga BUKAN MUTLAK tanpa kompromi. Sebaliknya, ketaatan kepada ibu bapa banyak disebut dalam al-Quran. Allah SWT menyuruh kita berulangkali supaya berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapa. Arahan cukup jelas selepas mentaati Allah tiada ketaatan yang lebih tinggi melainkan mentaati kedua-dua orang tua.

Firman Allah SWT berkenaan berbuat baik kepada kedua ibu bapa yang bermaksud, “Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah seorang dari keduanya, atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun perkataan “Ah”, dan janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (yang bersopan santun). Dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah (untuk mereka, dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”
 (Surah al-Isra', ayat 23-24).

Baginda Rasulullah SAW telah banyak berpesan agar setiap anak melakukan kebaikan terhadap kedua ibu bapanya di antara hadis Baginda daripada Anas bin Malik yang bermaksud: 
Sesungguhnya Nabi SAW apabila menaiki mimbar berkata: “Amin, Amin, Amin," lalu ditanyakan kepada Baginda atas perkara apa tuan ungkapkan amin? Baginda menjawab: Telah datang kepadaku Jibril lalu berkata: “Wahai Muhammad kecelakaanlah bagi seseorang itu apabila disebut namamu yang mendengar tidak berselawat ke atas engkau, katakanlah wahai Muhammad, “Amin” , maka aku pun kata “Amin” , kemudian Jibril berkata lagi, kecelakaanlah seseorang itu yang memasuki bulan Ramadan tetapi pertemuannya tidak mendapat keampunan, katakanlah “Amin” , aku pun kata “Amin” , kemudian Jibril berkata: “Kecelakaanlah bagi seseorang itu dia bertemu dengan kedua orang tuanya, tetapi pertemuannya dengan kedua orang tuanya tidak melayakkan dia memasuki syurga.” (Ibnu Kathir, Tafsir al-Quran al-'Azim, jld:3, hlm: 50 ).

Di samping itu, banyak lagi hadis-hadis Rasulullah SAW yang menyuruh kita berbuat baik kepada kedua ibu bapa. Keingkaran seseorang dalam mentaati ibu bapa boleh membawa kemurkaan Allah SWT
. Tidak kurang banyak riwayat yang mengisahkan balasan ke atas golongan yang menerima balasan segera dan tunai daripada Allah SWT.

Ingatlah, dari Abdullah ban Amru r.a., katanya Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, 
“Keredhaan Allah daripada keredhaan ibu bapa dan kemurkaan Allah daripada kemurkaan ibu bapa.” (Hadis riwayat at-Tirmizi)

Setiap anak yang derhaka akan dilaknat oleh Allah SWT, amalan dan ibadah mereka tidak diterima dan tidak akan mendapat ganjaran yang memungkinkan perbuatan baik yang dilakukan sepanjang hayatnya akan sia-sia. Oleh itu Islam menitikberatkan keredaan kedua-dua ibu bapa agar hidup sentiasa diberkati Allah.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Kami telah menasihati manusia supaya berlaku baik kepada kedua-dua orang tuanya ketika mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan yang teramat berat keperitannya dan (mengarahnya) untuk memutuskan penyusuan setelah (bayi) berumur dua tahun, maka syukurlah kamu kepada-Ku dan seterusnya kepada kedua-dua ibu bapa mu dan kepada-Ku kamu akan kembali.” (Surah Luqman, ayat 14)

Maka turunlah perintah Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami telah mewasiatkan kepada manusia untuk berlaku baik kepada kedua-dua ibu bapa. Jika mereka menyuruh kamu mensyirikkan dengan apa yang engkau tidak ketahui maka janganlah kamu mentaatinya.” (Surah al-‘Ankabut, ayat 8).

Semoga bermanfaat.



"Jika aku TIDAK menulis dengan jari, maka aku akan menulis dengan HATI,..aku tidak pandai berbahasa sastera maka aku BERUSAHA berbahasa TAKWA..menulis bukan untuk mengkayakan BAHASA tapi menulis untuk melakar IMAN didalam jiwa... >>Biarlah sekalipun kita tidak TIDAK HEBAT menulis,..yang penting setiap ILMU yang disampaikan terus ditulis, menulislah sesuatu yang PERLU,..jangan menulis mengikut mahu, apabila kita sentiasa MANFAATKAN sesuatu yang ada disisi, secangkir pena sekalipun banyak memberi ERTI kepada yang memerlukan".








Selasa, 20 Mei 2014

"Dyana Sofya dengan isu UiTM"

Mari kita bandingkan UiTM dengan universiti yang dipunyai oleh beberapa pertubuhan Cina. Kemunculan Universiti Tunku Abdul Rahman, Universiti Terbuka Wawasan, Koleh New Era dan sebagainya adalah cerminan kpd universiti merdeka yg diperjuangkan DAP selaman ini. Lebih 95% pelajarnya terdiri drpd kaum cina. Bahasa Melayu sendiri tidak lagi didaulatkan di universiti-universiti ini. Kolej New Era yg dipunyai Dong Jiao Zong (99% pelajar cina) menggunakan 100% bahasa cina sbg bahasa penghantar termasuk bahasa Inggeris. Universiti-universiti ini tetap bersikap perkauman walaupun dasarnya dikatakan terbuka.

UiTM adalah satu instrumen yang membuatkan pelajar-pelajar bumiputera mendapat tempat di IPT. Keadilan bukan semestinya mendapat sama rata, tetapi berdiri sama tinggi. Kerana asalnya, penjajah tinggalkan kita semua tidak sama tinggi. Jika wajar dibuka UITM kepada semua rakyat untuk menyatupadukan Malaysia berbilang kaum, mari kita mulakannya dari akarnya lagi. Mulakanlah dengan penghapusan sekolah vernakular (Sekolah Jenis) dan digantikan dengan sekolah kebangsaan yang menggunakan hanya satu bahasa iaitu bahasa pengantar kebangsaan.

Ramai pemimpin cina yang bersifat ultra kiasu sama sekali tidak bertolak ansur terhadap sesiapa sahaja yang cuba mengganggu-gugat sistem pendidikan perkauman mereka tetapi mengapa Dyana Sofya seorang Melayu turut berjuang untuk mereka?

Kata-kata Tunku Abdul Rahman, "Negara ini telah diakui oleh semua kaum lain yang tinggal di sini sebagai sebuah negara yang asalnya negara Melayu. Hakikat ini akan terus diakui melainkan orang Melayu sendiri mengambil keputusan untuk menunggang terbalikkannya dan menjadikannya sebagai sebuah neraka untuk kita semua. Tidak ada sesiapa pun yang membangkang usaha-usaha kerajaan untuk menolong orang Melayu kerana semua orang siuman akan insaf bahawa dari zaman berzaman orang Melayu terbiar dalam negara mereka sendiri".

Rabu, 28 Ogos 2013

Talak Tiga dan Solusi Yang Baik

A. Talak Yang Bisa Rujuk dan Yang Tidak Bisa Rujuk
Dilihat dari segi apakah bisa rujuk atau tidak, talak itu terbagi menjadi tiga macam. Talak yang secara mutlak tidak bisa kembali lagi, baik dengan rujuk atau dengan nikah ulang disebut dengan istilah talak bainunah kubra. Bentuk teknis talak ini sesuai yang disepakati para ulama adalah bila suami menceraikan istri, lalu merujuknya, lalu menceraikan lagi, terus  merujuknya lagi dan menceraikan untuk kali yang ketiga. Setelah itu tidak bisa rujuk lagi, kecuali istri menikah dulu dengan orang lain.

Adapun bila suami mentalak istrinya dengan talak tiga sekaligus, para ulama sepakat bahwa hukumnya haram dan berdosa, namun mereka berbeda pendapat dalam konsekuensinya, apakah jatuh talak tiga atau hanya talak satu, atau sama sekali tidak jatuh talak.
 
Ketiga jenis talak itu adalah talak raj’i, talak bain (bainunah shughra) dan talak bainunah kubra :
  
1. Talak Raj‘i
 
Talak raj‘i (طلاق رجعي) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami kepada isterinya, namun suami masih mempunyai hak untuk rujuk dan kembali kepada isterinya.
 Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah :
وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا
 Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) tersebut menghendaki islah.(Al-Baqarah: 228)

 Talak raj‘i adalah talak yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya, namun sebelum berakhir masa iddahnya, suaminya merujuknya. Sehingga keduanya kembali lagi menjadi suami istri seperti sedia kala.

 Kesempatan melakukan talak raj’i bagi seorang suami hanya dua kali, sebagaimana firman Allah SWT :
الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ
 Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik.(QS. Al-Baqarah : 229)

 Bila sudah dua kali suami menjatuhkan talak kepada istrinya, lalu dirujuk lagi, maka bila suaminya itu menjatuhkan lagi talak untuk ketiga kalinya, talak itu berubah menjadi talak yang tidak bisa kembali lagi, atau disebut dengan talak bainunah kubra.

 Selama masa iddah, seorang isteri yang ditalak raj‘i mempunyai hukum yang sama seperti hukum yang berlaku pada seorang isteri dalam pemberian nafkah, tempat tinggal atau yang lainnya seperti ketika belum ditalak, sehingga berakhir masa ‘iddahnya. 

 2. Talak Bainunah Shughra

 Talak ba’in (طلاق بائن) atau lazim disebut dengan talak bainunah shughra (بينونة صغرى) adalah talak yang dijatuhkan oleh seorang suami, sebagaimana talak raj’i di atas, namun hingga habis masa iddah istri, suami tidak melakukan rujuk. Dengan demikian, tamatlah sudah ikatan perkawinan di antara keduanya, sehingga keduanya resmi sudah bukan suami istri lagi.

 Namun demikian, selama mantan istri itu belum kawin lagi, maka keduanya masih boleh bersatu lagi. Bukan dengan jalan rujuk, melainkan dengan cara menikah ulang, dengan lamaran, mahar, dan ijab kabul serta akad nikah yang baru.

 Perbedaan rujuk dengan menikah ulang adalah bahwa rujuk itu hanya dilakukan sebelum habis masa iddah istri yang ditalak. Dan rujuk itu bukan akad nikah, melainkan hanya diniatkan saja di dalam hati oleh suami, atau diucapkan, atau dilakukan hubungan suami istri, maka otomatis terjadilah rujuk.

 Sedangkan yang disebut dengan menikah ulang adalah sebagaimana yang dilakukan oleh pasangan yang belum pernah menikah sebelumnya. Menikah ulang itu berarti harus melewati tahapan-tahapan seperti melamar, memberi mahar, juga melakukan ijab qabul antara wali dan suami, dengan dihadiri oleh minimal dua orang saksi.

 3. Talak Bainunah Kubra

 Talak ketiga adalah talak bainunah kubra (طلاق بينونة كبرى). Talak ini adalah talak yang ketiga kali dijatuhkan oleh seorang suami kepada istrinya. Dalam bentuk halalnya (talak sunnah), talak ini harus dilakukan dengan tiga kali secara terpisah, dimana di antara talak yang pertama, kedua dan ketiga harus ada proses rujuk terlebih dahulu. 

 Hukum talak tiga ini tidak dibolehkan untuk dijatuhkan sekaligus secara bersamaan. Apabila hal itu dilakasanakan juga, tentu suami berdosa karena melanggar ketentuan Allah SWT dan rasul-Nya. Dan termasuk ke dalam jenis talak bid’ah.


 Namun lepas dari hukumya yang haram, bila seseorang tetap melakukannya juga, apakah talaknya jatuh dan berlaku talak tiga? Dalam hal ini kita menemukan dalam beberapa kitab fiqih beberapa pandangan yang berbeda. 

 a. Jumhur : Jatuh Talak Tiga

 Keempat mujtahid mutlak dalam masing-masing mazhabnya sepakat bahwa talak tiga yang dijatuhkan secara langsung bersamaan, hukumnya talaknya jatuh tiga, termasuk bainunah kubra.

 b. Syiah Imamiyah : Tidak Jatuh Talak Sama Sekali

 Pendapat syiah imamiyah tegas menyatakan bahwa talak tiga yang dijatuhkan sekaligus justru sama sekali tidak menyebabkan talak apapun, alias sama sekali tidak jatuh talak.

 c. Ibnu Taimiyah & Ibnul Qayyim : Jatuh Talak Satu

 Pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan juga pendapat yang mewakili kalangan mazhab Zahiriyah menyatakan bahwa talak yang berlaku hanya talak satu saja dan bukan talak tiga. 

 B. Alternatif Solusi 

 Alternatif solusi yang bisa ditawarkan agar bisa kembali lagi dalam kasus ini tergantung dari apa yang sudah terjadi sesungguhnya, yaitu apakah suami sudah dua kali menceraikan istrinya lalu merujuknya dan sekarang ini hitungannya sudah yang ketiga kalinya? Ataukah kasusnya suami menjatuhkan talak tiga sekaligus?

 1. Pertama 


 Kalau kejadiannya yang pertama, yaitu suami sudah dua kali talak dan dua kali rujuk, maka untuk talak yang ketiga kalinya tidak ada jalan keluarnya, kecuali harus pisah tanpa bisa dirujuk lagi. Kalau pun mau rujuk, jalannya agak panjang dan berliku, bahkan nyaris hampir mendekati mustahil secara nalar. 

 Sebab istri harus menikah dengan suami baru dengan niat dan tujuan untuk menikah selamanya, dan harus terjadi hubungan badan yang sah. Kalau suatu hari suaminya yang baru itu menceraikannya tanpa dirujuk hingga habis iddahnya, barulah boleh kembali kepada suami yang pertama.


 Dasar ketentuan ini adalah firman Allah SWT :
فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
 Kemudian jika si suami mentalaknya , maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya  untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang  mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 230)

 2. Kedua


 Namun bila yang terjadi adalah kasus suami menjatuhkan talak tiga sekaligus kepada istrinya, nampaknya cuma dengan jalan meninggalkan pendapat jumhur ulama, dan berpindah kepada pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Dimana meski seorang suami secara langsung menjatuhkan talak tiga sekaligus, maka hitungannya tetap dianggap talak satu.
 
 Dan karena cuma talak satu, tentu saja boleh langsung dirujuk saat itu juga. Sehingga hubungan pernikahan antara suami dan istri tidak sempat terlepas. 

 Namun perlu diingat, pasangan yang sudah pernah melakukan talak satu ini, kalau suatu ketika melakukannya lagi, berarti akan terjadi talak kedua. Dan bila melakukannya lagi, berarti nanti jatuh talak ketiga.


 C. Talak Yang Diucapkan Dengan Emosi

 Para ulama sepakat bahwa talak yang diucapkan dengan emosi tetap jatuh talak. Dan dalam kenyataannya, kebanyakan talak itu memang dijatuhkan dalam keadaan emosi. Malah kita nyaris tidak menemukan dimana suami menjatuhkan talak dengan riang gembira dan hati berbunga-bunga. 

 Kalau talak yang dijatuhkan dalam keadaan emosi harus dianggap tidak sah, maka bubarlah syariat Islam, karena semua orang pasti yang mentalak istrinya akan mengatakan bahwa dirinya menjatuhkan talak dalam keadaan emosi.


 Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan tentang talak yang diucapkan dengan emosi :
مَا يَقَعُ مِنَ الْغَضْبَانِ مِنْ طَلاَقٍ وَعَتَاقٍ وَيَمِينٍ فَإِنَّهُ يُؤَاخَذُ بِهِ
 Apapun yang diucapkan oleh orang yang marah (emosi), baik talak, membebaskan budak atau sumpah, maka semua itu berlaku.

 Dalil lainnya adalah apa yang terjadi Khaulah binti Tsa'labah, istri Aus bin Ash-Shamith. Suaminya marah kepadanya dan menjatuhkan dzhihar kepadanya. Maka Khaulah mendatangi Rasulullah SAW dan berkonsultasi. Dia mengatakan,
لَمْ يُرِدِ الطَّلاَقَ فَقَال النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا أَعْلَمُ إِلاَّ قَدْ حَرُمْتِ عَلَيْهِ
 "Suami saya tidak berniat untuk mentalak saya". Namun Rasulullah SAW menjawab,"Aku tidak tahu kecuali dirimu telah diharamkan untuknya". (HR. Al-Baihaqi)

 Demikian jawaban singkat ini, semoga bisa sedikit memberikan pencerahan. Kebenaran hanya milik Allah SWT.

 Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



sumber: lhttp://syahlanbro.blogspot.com/2012/12/talaq-tiga-dan-solusi-yang-baik.html

Jumaat, 17 Mei 2013

Permasalahan SOLAT QADHA menurut Mazhab Shafie.


Solat qadha terbahagi kepada dua:- 

1. Meninggalkan solat kerana keuzuran seperti tertido. 
- Disunatkan menyegerakan qadhanya supaya terlepas dari tanggungjawab dengan segera. 
- Disunatkan juga mendahulukan qadha sekiranya tidak ditakuti habis waktu untuk solat tunai tersebut. - -- Disunatkan juga mengqadha solat mengikut tertib solat tersebut seperti mendahulukan solat subuh ke atas solat zohor. 

2. Meninggalkan solat dengan sengaja. 
- Wajib menyegerakan qadha 
- Wajib melapangkan sepenuh masa untuk menqqadhanya kecuali masa yang diperlukan untuk keperluan hidup seperti mencari rezeki untuk kehidupan dia dan orang dibawah tanggungannya. Haram untuknya melapangkan masa untuk perkara yang bukan menjadi keperluan hidupnya seperti bercakap sia2,main game,main facebook dan yang seumpama dengannya. 
- Wajib mendahulukan solat qadha yang disengajakan keatas solat qadha yang kerana keuzuran. Haram didahulukan qadha kerana keuzuran yang disengajakan tetapi solat adalah sah. 

PERHATIAN!! 

HARAM menunaikan apa2 bentuk solat sunat bagi orang yang masih ada solat qadha yang belum disempurnakan. 

(Rujukan kitab bushral kariim syarah kepada mukaddimah hadhramiyah dan juga kitab mughnil muhtaaj syarah kepada minhaajuttolibiin.)

Siapakah orang yang DIWAJIBKAN untuk mengqadha solatnya?
-Lelaki: Yang beragama Islam, berakal dan suci.
-Perempuan: Tidak diwajibkan mengqadha solat-solat yang terpaksa ditinggalkan semasa berada didalam keadaan haid.

Jumhur ulamak pelbagai mazhab bersepakat bahawa orang yang meninggalkan solat diwajibkan mengqadakannya sama ada dia terlupa atau sengaja meninggalkannya. Lalu bagaimana jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja selama berpuluh-puluh tahun? 

Contoh kalau seseorang itu meninggalkan solat selama 20 tahun, hendaklah dia mengira sebanyak mana solat yang perlu digantikan. Contohnya 365 hari (1 tahun) dikalikan dengan 5 (solat 5 waktu) iaitu bersamaan dengan 1825 waktu yang perlu diganti. 1825 waktu pula dikalikan dengan 20 tahun, hasilnya ialah 36500 solat yg perlu digantikan. Jadi masing-masing boleh mengira sendiri samada dalam tempoh 20 tahun itu dia pernah solat tetapi dalam sekitar 20% sahaja daripada waktu itu, maka tolaklah 20% daripada jumlah waktu yang perlu diqadhakan itu. 

Dengar macam berat, tapi sebenarnya itulah tanda kasih sayang Allah. Allah memerintahkan kepada kita untuk solat, mungkin kita dulu jahil/lagha sehingga meninggalkan solat yg sememangnya wajib ke atas kita. Allah sememangnya nak masukkan kita ke dalam syurga dengan rahmatNya, maka solat merupakan salah satu ibadah yang menjadi kuncinya. Jadi, sebenarnya solat adalah salah satu ibadah yang merupakan satu perjanjian antara kita dengan Allah SWT, seperti yang telah disebutkan didalam sebuah hadith:

Daripada Ubadah bin Al-Shomit RA dia berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Sembahyang lima waktu itu telah diwajibkan oleh Allah ke atas hamba-hambaNya. Barangsiapa yang menunaikannya, bermaakna dia tidak mensia-siakan sesuatupun daripada kewajipan tersebut lantaran memandang ringan terhadapnya, maka dia akan dimasukkan ke dalam syurga. Dan sesiapa yang tidak menunaikannya maka dia tidak ada apa-apa perjanjian di sisi Allah. Sekiranya Allah menghendaki Dia akan mengazabkannya dan jika Dia kehendaki, Dia akan memasukkannya ke dalam syurga." (Hadith riwayat Abu Daud (1420) dan lain-lain).

Ada sebuah hadith yang berbunyi: Daripada Anas RA daripada Nabi SAW sabdanya: "Sesiapa yang terlupa (mendirikan sembahyang) maka dia hendaklah sembahyang apabila dia mengingatinya dan dia tidak dikenakan kafarrah melainkan mendirikan sembahyang tersebut. Baginda membaca firman Allah yang bermaksud: Dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati-Ku. (Thaha: 14)" (Hadith riwayat Al-Bukhari (572) dan Muslim (684) )

Jadi daripada hadith ini jelaslah bahawa qadha solat sebaik sahaja kita teringat solat yang kita masih belum tunaikan setelah habis waktu kerana terlupa atau tertidur, wajiblah dia mengqadha solatnya itu tetapi tidaklah diwajibkan bersegera untuk menunaikannya. Ia berbeza kepada orang yang sengaja meninggalkan solat kerana malas, maka wajiblah dia segera mengqadakannya dan memperuntukkan lebih banyak waktu lapang untuk digunakan bagi mengqadha solat.. Bagi mereka yang terlupa atau tertidur sehingga tertinggal 1 atau lebih waktu solat, kadangkala seseorang itu akan teringat pada masa-masa yang dimakruhkan (makruh jenis tahrim, yakni makruh yang hampir ke tahap haram) untuk solat seperti waktu:

1- Ketika matahari berada di tengah-tengah langit - kecuali pada hari jumaat - dan selepas sembahyang Subuh sehingga matahari naik setinggi tombak (setinggi satu galah).
2- Selepas sembahyang Asar hingga jatuh matahari.

Maka pada waktu-waktu sebegini tidaklah dilarang untuk menunaikan solat qadha. 

Dimana pula dalil-dalil yang memerintahkan solat qadha bagi mereka yang meninggalkan solat biarpun bertahun-tahun kerana malas? Seperti yang kita ketahui, sumber ilmu yang menjadi tatapan para ulamak untuk istinbath (menggali) sesuatu hukum tauhid dan feqah itu adalah daripada Al-Quran, hadith (yang diambil untuk dijadikan sunnah), ijma dan qias. Tetapi tidak terdapat hukum daripada Al-Quran dan hadith yang mengatakan seseorang itu hendaklah mengqadhakan solatnya yang telah ditinggalkan bertahun-tahun. Ini kerana pada zaman Nabi SAW majoriti umat Islam pada zaman itu, begitu jarang sekali ada orang Islam yang meninggalkan solat selain terlupa dan tertidur. Jadi para ulama mendapati masalah ini mula berlaku apabila umat Islam semakin jauh daripada agama dan melalaikan kewajipan solat. Jika seseorang itu meninggalkan solat dengan sengaja kerana malas, ia masih tidak dianggap sebagai kafir kecuali kepada mereka yang mengatakan solat itu tidak wajib dan sebagainya. Oleh kerana itu para ulama bersepakat terutamanya dalam mazhab Syafie mewajibkan bagi orang yang meninggalkan solat dengan sengaja selama bertahun-tahun hendaklah menggantikan/mengqadhakan solat itu dengan kadar yang tertentu bergantung kepada berapa banyak solat yang ditinggalkan oleh seseorang itu. 

Apakah itu ijma'? Ijma' merupakan sumber rujukan yang ketiga daripada sumber-sumber hukum (selepas Al-Quran dan sunnah), apabila kita tidak dapati sesuatu hukum di dalam Al-Quran dan as-Sunnah maka kita lihat, adakah perkara tersebut telah disepakati oleh ulama' atau tidak. Sekiranya ia merupakan ijma' ulama', makan hendaklah kita menerima dan beramal dengannya.

Q - Solat sunat, pun tak bolehkah? Rugilah kalau tak solat sunat. Saya baca banyak buku-buku yang menerangkan keutamaan solat-solat sunat seperti solat sunat Dhuha, witir, tarawikh, hari raya dan sebagainya yang sangat banyak fadilatnya. Takkan tu pun tak boleh kot? Kot ye pun, takkanlah sampai haram..?
A- Sepakat ulamak mengatakan haram solat sunat selagi solat qadha masih belum selesai ditunaikan. Selain solat jenazah (solat jenazah merupakan fardhu kifayah, maka ia berbeza antara fardhu kifayah dengan sunat), semua solat sunat seperti solat dhuha, witir, solat terawih, solat sunat hari raya aidilfitri/aidiladha, rawatib, solat hajat, solat taubat dan sebagainya diharamkan kepada mereka yang mempunyai solat fardhu yang masih tidak diqadhakan lagi. Ini kerana 1 solat fardhu lebih baik berganda-ganda daripada semua fadilat-fadilat solat-solat sunat yang disebutkan tadi. Jika kita menunaikan solat-solat sunat seumur hidup kita pun, ia tidak akan mampu menggantikan 1 solat fardhu sekalipun. Janganlah kita lupa, solat fardhu merupakan amalan ibadah kita yang pertama akan dinilai di akhirat nanti.
Bukankah kita boleh menggantikan solat-solat sunat itu dengan solat wajib? Contohnya sekiranya kita berjemaah di masjid, nak masuk masjid bukankah perlu solat sunat tahiyatul masjid? Maka gantikanlah solat sunat tahiyatul masjid itu dengan solat fardhu qadha Subuh contohnya.. Begitu juga dengan solat sunat Dhuha dan sebagainya... Dan bagaimana pula dengan solat terawih dan solat sunat hari raya..? Setahun sekali saja kita dapat menemui solat-solat seperti ini, bukan..? Maka gantikanlah solat sunat terawih itu dengan solat fardhu qadha. 
Jadi masing-masing fikirkanlah sendiri, samada berbaloi atau tidak solat sunat sedang solat qadha belum diselesaikan lagi. 

Q - Bagaimana cara-cara untuk qadha solat fardhu?
A - Niat solat qadha ialah seperti biasa, tetapi berbeza sedikit yakni dengan meniatkan qadha, perhatikan: "Nawaitu fardhal subhi rok'ataini QADHAAN lillahitaala", bermaksud: "Sahaja aku menunaikan solat fardhu subuh 2 rakaat QADHA kerana Allah taala." 

Bagi yang mahu qadha solat fardhunya di masjid untuk mengelakkan sebarang fitnah untuk solat Subuh, solat seperti biasa, tetapi ketika hendak membaca doa qunut, pendekkan sahaja bacaannya sekadar rukun yakni:
-Bacaan qunut itu sendiri
-Selawat ke atas Nabi SAW.
Dalam hal ini, cukuplah sekadar membaca sepatah bacaan qunut, contohnya "Allahummah dini fiiman hadait" kemudian terus sambung membaca selawat ke atas Nabi SAW, iaitu: "Fasallallahu'ala saiyidina Muhammadinin Nabi ummiyyi wa'ala 'alihi wasohbihi barik wasallim." kemudian barulah turun sujud. Jangan turun sujud selagi tidak sempurna rukun bacaan doa qunut tadi, yakni hendaklah membacanya sehingga habis dalam keadaan berdiri itu. Angkat tangan untuk berdoa pun sunat, tak perlu angkat tangan untuk berdoa. Kemudian bagi yang mahu menunaikan solat qadha Zuhur, Asar, Maghrib atau Isyak, buatlah dirumah, atau boleh saja melakukannya dimasjid jika kita tidak mempedulikan pandangan orang (itulah yang sebaik-baiknya, kerana kewajipan menunaikan solat qadha lebih penting daripada menilai perhatian orang lain).

Berkenaan dengan solat sunat terawih dan solat sunat hari raya, bagaimana pula untuk qadha solat fardhu dalam keadaan berjemaah? Mengenai hal ini, mungkin agak rumit untuk diperjelaskan dan difahami oleh pembaca, tetapi saya akan cuba untuk menjelaskan sebaik mungkin.

Qadha solat fardhu ketika berjemaah dengan jemaah yang menunaikan solat terawih:
-Biasanya di masjid akan melakukan solat sunat terawih sebanyak 20 rakaat. Dan ia dilakukan sebanyak tiap-tiap 2 rakaat 1 salam. Jadi bagi mereka yang nak qadha solat subuh, bolehlah mengikut cara yang disebutkan tadi cuma perlulah diniatkan sebagai makmum yakni mengikut imam iaitu melalukan niat qadha solat subuh qadha mengikut imam kerana Allah taala semasa mengangkat takbir.

Tetapi bagi mereka yang hendak qadha solat Zuhur, Asar dan Isya', begini caranya:
-Hendaklah dia berniat untuk qadha solat Zuhur/Asar/Isya' sebagai makmum (mengikut imam). Solatlah seperti biasa mengikut imam, tetapi apabila imam memberi salam, kita tidak boleh mengucapkan salam juga, jika tidak, solat kita akan menjadi batal (kerana salam adalah tanda habisnya sesebuah solat yang didirikan). Jadi berniatlah untuk mufarakah daripada mengikut imam (yakni berniat untuk tidak lagi mengikut imam) dan kekalkan keadaan diri anda dalam keadaan tahiyat awal, ini kerana anda perlu bersedia pada bila-bila masa sahaja untuk bangun mengikut imam semula. Sesiapa yang hendak menggerakkan kepala sedikit hanya semata-mata isyarat untuk salam (supaya makmum disebelah kita tidak mengesyaki apa-apa kerana pelik dengan tindakan kita yang tidak memberi salam mengikut imam) maka lakukanlah kerana pergerakan itu tidak membatalkan solat (selagi anda tidak melafazkan salam atau mengalihkan dada dari arah kiblat). Sekarang doa dibacakan oleh imam dan para makmum, anda pula sedang dalam keadaan tahiyat awal. Maka bersabarlah sebentar untuk mereka habiskan bacaan doa itu, kemudian apabila imam bangun untuk solat 2 rakaat yang seterusnya, sebaik sahaja imam habis melafazkan takbir, niatkanlah (masukkan semula niat anda untuk mengikut imam kerana sebentar tadi anda telah berniat mufarakah dengannya) untuk mengikut imam untuk menyelesaikan 2 daripada 4 rakaat yang perlu dihabiskan untuk menyempurnakan solat fardhu qada 4 rakaat anda. Apabila imam memberi salam, pada waktu ini barulah anda boleh memberikan salam kerana anda sudah selesai menunaikan solat fardhu qada 4 rakaat. Perlu diingatkan, niat masuk-keluar-masuk daripada menjadi makmum kepada seorang imam ini hanya dibolehkan di dalam mazhab Syafie selagi solat imam itu tidak terbatal kerana najis/tersalah bacaan/lafaz dll. 

Kemudian, lakukanlah solat qadha fardhu 4 rakaat bagi rakaat yang seterusnya. Sekurang-kurangnya anda boleh menyelesaikan sebanyak 5 solat waktu untuk 20 rakaat solat terawih dan 1 solat maghrib untuk witir (solat witir didirikan dengan 3 rakaat 2 salam) yang sesuai untuk qadha solat Maghrib kerana bilangan solat witir yang ganjil.

Bagaimana dengan solat sunat hari raya..?
Solat sunat hari raya mempunyai 2 rakaat di dalamnya, dengan 7 takbir (tidak termasuk takbiratul ihram) pada rakaat pertama dan 5 takbir pada rakaat kedua. Untuk rakaat pertama, niatkan solat qadha subuh mengikut imam dan ambil 1 takbir sahaja (samada pada permulaan takbir pertama imam - jika mengambil takbir pertama imam, maka xperlu mengangkat 7 takbir yang seterusnya, maka hendaklah anda diam sehinggalah imam membacakan Al-Fatihah) atau bertakbiratulihram pada takbir yang ke tujuh). Pada rakaat kedua, tidak perlu mengangkat sebarang takbir (kerana mengangkat takbir tambahan di dalam rakaat pertama dan kedua solat sunat hari raya adalah sunat; jika terlupa melakukannya dan terus membaca fatihah, maka takbir-takbir tadi luput tidak perlu diulangi semula) dan solat tetap sah - apa lagi anda yang sedang solat qadha). Kemudian habiskan solat dengan mengikut imam seperti biasa.

*permasalahan Qadha solat ini adalah mengikut mazhab shafie..


Khamis, 16 Mei 2013


Ya Allah Ya Tuhanku..
Kau bantulah aku pelihara perasaanku
Ya Allah..Kau hilangkan lah rindu, duka dan segala perasaan lain yang ada dalam diriku ini
Ya Allah..Kau redhakan lah aku
Ya Allah..Kau ikhlaskan lah aku
Ya Allah..sesungguhnya kurniakan lah aku dengan ketenangan hati dan kekuatan diri


Ya Allah Ya Tuhanku..
Kau berikanlah aku nikmat kesyukuran untuk apa yang Kau dah beri pada aku kini
Ya Allah...janganlah Kau biarkan aku meminta lebih dari yang aku layak
Ya Allah..Kau sabarkan lah aku
Ya Allah..kesabaran aku benar-benar sedang teruji
Ya Allah..Kau pelihara lah perasaanku
 Ya Allah...Kau peliharalah juga fikiranku
Ya Allah..jangan lah Kau biarkan aku kembali mencari cintaku dan musnahkan segala keredhaan dan keikhlasan terhadap ujianMu yang telah aku bina Ya Allah..


Hanya kepadaMu aku berserah Ya Allah dan kepadaMu aku memohon..kurniakan aku ketenangan hati.
Ya Allah, kekuatan minda Ya Allah, dan ketabahan diri Ya Allah..
Ya Allah, kau redhakan lah aku untuk ujianMu Ya Allah dan kau ikhlaskan lah pengorbanan aku walaupun aku terasa hati kerana masih dilayan buruk oleh mereka..Kau bantulah aku Ya Allah..Kau kurniakan lah hadiah cintaMu Ya Allah..hanya itu yang aku pinta.


Ya Allah
Kau yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untukku
Kau juga yang Maha Mengampuni segala kesilapan dan ketelanjuranku
Sekiranya aku tersilap berbuat keputusan
Bimbinglah aku ke jalan yang Engkau redhai
Sekiranya aku lalai dalam tanggungjawabku
Kau hukumlah aku didunia tetapi bukan diakhiratMu
Sekiranya aku engkar dan derhaka
Berikanlah aku petunjuk kearah rahmatMu


Ya Allah
Kuatkan hati dan semangatku
Tabahkan aku menghadapi segala cubaanMu
Jadikanlah aku muslimah yang disenangi
Bukakanlah hatiku untuk menghayati agamaMu
Bimbinglah aku menjadi Muslimah yg Solehah.
Ameen ya Rabb alamin.


Isnin, 13 Mei 2013

This drawing shows where the sounds should come out from when you pronounce the Arabic letters.


Qada Dan Qadar


 

Qada dan qadar adalah salah satu dari rukun iman yang wajib dipercayai dan diimani oleh setiap orang Islam. Penjelasan mengenai qada dan qadar ini ada dibicarakan di dalam kitab-kitab aqidah dan perbincangannya agak panjang dan adakalanya begitu susah untuk difahami oleh kebanyakkan orang terutamanya bagi sesiapa yang baru menjejakkan kaki dalam perbincangan ilmu aqidah secara mendalam.



ERTI DAN BAHAGIAN QADA DAN QADAR

Qada bermaksud pelaksanaan. Adapun qadar bermaksud sukatan.Terbahagi kepada dua bahagian iaitu: Qada Mubram dan Qada Muallaq.
Qada Mubram: Adalah ketentuan Allah Taala yang pasti berlaku dan tidak dapat dihalang oleh sesuatu apa pun. (Contoh: Mati pasti akan berlaku). Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Qada Muallaq: Adalah ketentuan yang tidak semestinya berlaku bahkan bergantung kepada sesuatu perkara. (Contoh: Panjang umur bergantung kepada menghubungkan silaturrahim dan amal kebajikan yang lain). Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Tidak boleh ditolak qadar Allah Taala melainkan doa. Dan tiada yang boleh memanjangkan umur melainkan membuat baik kepada ibubapa.
(Riwayat Hakim, Ibnu Hibban dan Tarmizi).

SEMUA PERKARA DI DALAM PENGETAHUAN ALLAH TAALA

Kedua-dua jenis qada di atas ini adalah di dalam pengetahuan Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan pada sisi Allah Taala jua kunci-kunci semua yang ghaib.
(Surah al-Anaam: ayat 59).
Segala perbuatan hamba adalah diketahui oleh Allah Taala melalui ilmu-ilmuNya. Hanya ianya terlindung dan tidak diketahui oleh hamba-hambaNya yang lemah. Kerana itulah kita disuruh untuk sentiasa berusaha dan taat kepadaNya kerana kita tidak mengetahui apa yang akan berlaku kepada kita nanti.

ANTARA BENTUK KETAATAN

Antara bentuk ketaatan adalah dengan berdoa kepada Allah Taala. Dengan berdoalah seseorang hamba itu akan merasakan dirinya lemah dan berhajat atau memerlukan kepada Allah Taala. Firman Allah Taala bermaksud:
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Aku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
(Surah al-Baqarah: ayat 186).
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:

Doa merupakan otak kepada ibadat.
(Riwayat at-Tarmizi).

SENTIASA BERUSAHA DAN BERDOA

Setelah diketahui bahawa segala usaha dan doa dari hamba akan didengar dan diambil kira oleh Allah Taala maka dengan sebab itulah perlunya seseoarang hamba itu untuk sentiasa berusaha dan berdoa. Namun segala usaha dan doa ini sudah tentulah di dalam kuasa dan ilmu Allah Taala. Kerana itulah ada dinyatakan bahawa manusia hanya berusaha dan berdoa tetapi Allah Taala jualah yang menentukannya. Disebabkan manusia tidak mengetahui qada dan qadarnyalah maka manusia perlu kepada usaha dan doa. Firman Allah Taala bermaksud:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Surah ar-Rad: ayat 11).

KONSEP QADA DAN QADAR

Keperluan kepada konsep qada dan qadar di dalam Islam adalah:
- Menisbahkan kepada Allah Taala di atas segala yang berlaku di dunia ini.
- Beriman bahawa hanya Allah Taala yang memiliki kuasa mutlak menentukan urusan di dunia ini.
- Menyedarkan bahawa manusia itu lemah dan perlu kepada bantuan Allah Taala.
- Hikmah qada dan qadar disembunyikan dari pengetahuan hamba adalah supaya seseorang hamba itu sentiasa berusaha dan taat kepadaNya.

PERINGATAN

Peringatan daripada dalil hadis di bawah ini dapat mengingatkan kepada kita tentang bahayanya mempersoalkan dan memanjang-manjangkan perbincangan mengenai qada dan qadar ini tanpa sebab tertentu. Sebab itulah kebanyakkan para tok guru kita cuba mengelakkan diri dari berbicara mengenai qada dan qadar ini secara panjang lebar terutamanya kepada masyarakat awam.
Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud:
Apabila disebut tentang qadar maka diamlah…
(Riwayat Tabrani dan Abu Nuaim).

PENUTUP

Sebagai umat Islam yang beriman adalah kita diwajibkan mempercayai dan mengimani qada dan qadar. Segala yang berlaku adalah dari Allah Taala semuanya. Kita hanya mampu berusaha dan berdoa akan tetapi Allah Taala jualah yang Maha Berkuasa yang menuntukan segala sesuatu itu. Saya ingin sarankan agar kita semua dapat mempelajari ilmu aqidah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamaah dengan lebih mendalam dan terperinci.

Jumaat, 15 Mac 2013

15 Langkah mudah berfesyen untuk lelaki.



1. Pilih pakaian yang fit - Benda utama yang akan menampakkan lelaki 'alert' dengan fesyen ni ialah cara memilih baju. Masalah utama kebanyakan lelaki ialah memakai baju yang lebih besar daripada badan. Pastikan memilih pakaian yang fit iaitu pakaian yang membuatkan badan anda rasa seolah dipeluk tapi bukan dijerut. Berhati-hati ketika memilih, fit bukan bermakna ketat.


2. Simple tapi smart - Apabila bercerita tentang fesyen, bukan bermakna anda perlu berpakaian seperti seorang artis. Pakai simple pun dah cukup. Amalkan mengayakan pakaian dengan tidak menggunakan lebih daripada tiga warna. Nak nampak menyerlah sikit pakailah blazer warna hitam atau putih yang fit. Pakai blazer tak semestinya kena pakai dengan kasut kulit dengan seluar slack. Pakai seluar jean pun boleh kena gayanya.

3. Santai bukan membosankan - Berpakaian santai bukan bermaksud pakai seluar pendek dengan singlet koyak. Cuba banyakkan membaca buku-buku fesyen atau melihat program-program yang bersifat santai di televisyen.

4.Pemakaian pastikan sepadan - Sentiasa pastikan anda berfesyen kena dengan gayanya. Duduk depan cermin fikir nampak pelik tak apa yang anda pakai. Kalau anda sendiri dah rasa pelik, apatah lagi orang kat luar sana. Sebagai contoh, anda pakai baju yang labuh tapi pakai seluar yang ketat ala-ala legging. WTF?


5. Tidak shopping berseorangan - Jangan amalkan keluar shopping berseorangan. Ajak member seorang pun jadilah. Tapi member bukan sekadar member, cari member yang boleh bagi pendapat jujur. Kata-kata member lagi boleh dipercayai berbanding penjual berkenaan.

6.Sentiasa peka - Jangan terlebih berfesyen kerana pasti akan buat anda nampak cacat, tapi jangan takut untuk berfesyen. Sentiasa fikir apakah event yang anda akan pergi. Kalau dah bercadang nak pergi ke tempat yang panas, takkan nak pakai sweater yang tebal. Jika anda pergi ke event yang dihadiri oleh bos anda, takkan anda nak nampak lebih menyerlah berbanding bos anda. Silap-silap bulan depan dapatlah surat berhenti kerja.

7. Jangan mengabaikan benda yang remeh-temeh - Lelaki biasanya akan menganggap bende remeh temeh seperti cara pemakaian scarf. Mesti akan kata, "Ah, bedal jelah...." Sebenarnya benda yang anda rasakan temeh tulah yang mampu memberikan impak yang besar.

8.Belanja lebih untuk kasut - Apa salahnya jika berbelanja lebih untuk sepasang kasut.  Tetapi jangan beli saja mahal-mahal, tapi tak tahu nak jaga.Tahukah anda kaum lelaki sekalian bahawa mata perempuan ni biasanya akan melihat kasut yang dipakai lelaki. Sama ada cantik atau tak cantik, bersih ke tak dan sesuai ke tak. Macam mana nak kagumkan teman wanita kalau kasut kotor. Kasut melambangkan identiti diri. Kotor kasut, pemalaslah anda.

9.Berhati-hati memilih t-shirt - Jangan amalkan memakai t-shirt yang mempunyai logo yang besar kerana anda akan dilihat seperti diupah oleh syarikat tertentu untuk menjadi papan iklan bergerak.

10.Jangan terikut pada trend - Jangan biasakan mengikut sangat trend masa kini kerana trend tidak akan kekal lama. Kekal dengan citarasa yang anda suka. Kerana tak guna kalau membeli pakaian mengikut trend semasa tetapi jarang pakai.  

11.Jangan beli kerana brand - Sebelum anda beli sesuatu pakaian, pastikan anda bertanya kepada diri sendiri sama ada anda membeli kerana brand pakaian tersebut atau kerana nampak smart. Biar beli pakaian yang murah tapi smart berbanding beli pakaian mahal tapi buruk macam kain lap kat dapur.

12.Teruskan membentuk image tersendiri - Cuba bentuk style anda yang tersendiri. Bukan bermakna anda menjadi the next lady gagap tetapi jadi seseorang yang kalau disebut saja nama anda, kawan-kawan akan mula berfikirkan tentang cara pemakaian anda. 

13. Jangan malu untuk meminta pendapat - Rajin-rajinkan diri untuk bertanya dengan orang terdekat sama ada apa yang anda pakai itu nampak smart atau sebaliknya. Tapi mestilah bertanyakan kepada orang yang boleh memberi pendapat dengan sejujurnya.

14.Pastikan muka bersih dan kemas - Perhatikan wajah anda, terutama sekali pada janggut. Ada nampak terurus? Bulu hidung tu ada terkeluar-keluar? Sideburn tu ada nampak macam Elvis Presley? Pastikan muka nampak bersih dan kemas, buang segala bulu roma yang dirasakan menyemak. Pemilihan pencukur juga amat penting. 

15.Bereksperimen dengan gaya - Jangan takut untuk memakai sesuatu yang baru. Jika selalunya anda pakai baju yang gelebeh, cuba pakai baju yang fit untuk nampak lebih tegap. Jika selalu anda sikat rambut ke hadapan, apa kata sikat rambut ke belakang untuk nampak lebih bertenaga dan berani. Semuanya terletak pada keberanian anda dan bukannya kepelikkan anda.



Isnin, 7 Januari 2013

~Jadilah Wanita Yang Paling Bahagia~


Alhamdulilah, tercipta video pertama yang serba kekurangan..


Jumaat, 4 Januari 2013

Pesan Mama ♥


Di pagi Jumaat yang berkat ini, saya nak kongsikan satu pesanan dari Mama saya (tapi pesanan ini hanya boleh diaplikasikan setelah berkahwin saja ya, selagi belum kahwin boleh pilih samaada mau ikut atau x jak, hehe)

Mama pesan, bila sudah kahwin, jangan sesekali puji mana2 lelaki depan suami, dia hensom ke, smart ke, wangi ke... jaga perasaan suami, kalau mau suami jaga perasaan kita. Betul jugakan, kenapa perlu puji lelaki lain, kalau suami ada didepan mata... jadilah isteri yang baik, dimana suami pergi pun dia akan mengingati kita...hehe.(ya, saya yakin ttg ini sgt2!, walaupun hati boleh berubah, kerana Allah yang membolak-balikkan hati kita, tp kalau kita buat berbuat baik, kebaikan itu akan sentiasa diingati)

Disebabkan sekarang sudah ramai wanita yang bekerjaya, itu bukan alasannya untuk berkawan2 rapat dgn mana2 lelaki ditempat kerja. Seorang isteri yang baik, tahu meletakkan dirinya dimana..di rumah dia isteri, diluar dia 'isteri orang', bukan di rumah isteri, diluar dia 'bujang'. Bukan tak boleh berkawan pun tp letakkan batas, rahsia 'suami isteri' 'keluarga' tak perlu nak kongsi dengan kawan lelaki sekalipun rapat! kenapa? sebab berkahwin adalah utk berkongsi segala tentang kehidupan (suka, sedih, bahagia etc) Jadi untuk apa nk share masalah2 dgn kawan lelaki yg xda hubungan yg sah?? Isteri yang baik xakan berkongsi cerita2 yg xsepatutnya dgn orang luar lbh2 dgn kawan lelaki. Kalau kawan lelaki tu baik mungkin okey, tp kalau dia akan mengambil kesempatan kerana cerita2 itu mcm mana? Lelaki itu manusia dan 'penyayang', mungkin saja sesi luahan masalah boleh menjadi sesi luahan hati dan sayang...so hati2 tentang ini.

#heh, pesanan ini utk lelaki juga tau, jgn dok puji2 perempuan lain didepan isteri..ingat si isteri tu xada hati,..Jangan sekadar ckp isteri gemuk xpandai jaga badan, kalau nk sangat isteri yg slim ke apa, hantarlah isteri pg pusat pelansingan badan. hehe. Lelaki yang baik, xkan share masalah dengan isterinya kepada perempuan lain! ingat tu!

(saya tahu saya xkahwin lagi, jadi saya hanya boleh bercakap saja [mungkin ada yg berfikir begini kan] siapa pun xboleh mengubah apa yg telah Allah tetapkan, tapi kita ada agama yang menjadi benteng kpd hal2 yang tidak xbaik)

Jadilah manusia yang berusaha kepada kebaikan, walaupun sebenarnya kita tak baik. BERUSAHA!




~Suami isteri yang berhias~


Satu hal yang saya pelajari semalam, bila dah kahwin nnt seorang perempuan yang telah menjadi isteri bukan sahaja kena tahu menjaga diri dan penampilan dihadapan suaminya selain itu harus juga tahu membawa diri dan menjaga maruah suaminya diluar. Satu yang sering dianggap remeh, seorang isteri harus tahu menjaga pakaian dan penampilan suaminya. Maksudnya biarlah suami nampak kemas dan smart bila diluar jgn selekeh sgt, rambut mestilah diurus sekalipun 'beruban'. 

Percayalah, bila seorang isteri telah menjaga suaminya dgn sebaiknya, sekalipun diluar si suami itu bertemu orang lain dia akan tetap menganggap isterinya terbaik (sebab itu ada suami2 yang yg tak akan menceraikan isteri pertamanya sekalipun dia berkahwin lain)..hehehe, selebihnya serahkan pada Allah, semuanya Allah telah takdirkan.

Heh, para suami-suami yg xkemas dan smart tu, jgn letak tanggungjwb ini dgn isteri shj..pasangan suami isteri akan lbh mencintai apabila tahu menghargai pasangan masing2. hehe

so klu nampak seorg lelaki tu smart, jgn tlalu awal fikir dia hensom dan smart, mungkin saja ada seorang ISTERI yang menjaga pemakaian dan penampilannya...

(nasihat ini dari Ayahanda saya,..& harus belajar dgn mama & kakak)
 

Isnin, 3 Disember 2012

Majlis Makan Malam





In Shaa Allah, malam ini akan menghadiri majlis makan malam Yang diPertua Dewan Negara bersama Ahli-ahli Dewan Negara & meraikan Ahli-ahli Dewan Negara yang Tamat Tempoh di Dewan Bankuet, Parlimen Malaysia



Lama juga tak update Blog ni,
bukan apa busy sangat dengan persidangan Dewan Rakyat yang baru berakhir pada 29 November 2012, hari Khamis yang lalu setelah hampir 3 bulan bersidang.
so skrg masa utk berjuang utk Dewan Negara pula...
Maybe selepas je Dewan negara ni, akan terlibat pula dgn PRU13...
tapi saya sangat sukakan kerja saya, politik..
okeylah, nnt kalau dah habis Dewan Negara, saya akan update blog rajin2 ye,..
nak share dengan kawan2 tentang persiapan perkahwinan saya pula.. 
In Shaa Allah, Ameen.


Jumaat, 2 November 2012

Ketaatan seorang wanita.


Sebagai seorang anak perempuan, satu yang saya risaukan ialah bagaimana ketaatkan saya kepada ibu bapa dan bakal suami kelak. Mungkin ada yg bertanya kenapa saya perlu risau? Hakikatnya saya tetap mahu taat kepada ibu bapa walaupun telah berkahwin kelak. So saya telah mencari hadis serta maklumat lain mengenai hal ini. Seterusnya saya tuliskan semula untuk panduan diri dan orang lain. [mohon kepada yang arif perbetulkan jika terdapat kesalahan, mudah-mudahan ia berguna kpd semua wanita yang mahu berkahwin ataupun telah berkahwin. InshAllah, Ameen]

Ramai yang beranggapan bahawa tanggungjawab terhadap ibu-bapa hanya tanggungjawab anak lelaki. Sedangkan hal yang sebenarnya anak perempuan juga mempunyai tanggungjawab terhadap ibu-bapa. Memang benar kita sebagai perempuan kena taat kepada suami kita selepas kahwin. Tetapi, perlu diingatkan wahai kaum adam, anda sebagai seorang menantu juga mempunyai kewajipan terhadap ibu-bapa mentua. Jika anda menyekat isteri-isteri anda untuk berbakti kepada ibu-bapa mereka, andalah yang akan menanggung dosa-dosa menderhaka terhadap ibu-bapa, bukan isteri anda. Ini disebabkan apabila sudah kahwin, kita kena mentaati ibu-bapa mentua kita sebagaimana kita mentaati ibu-bapa kita sendiri. 


Perkahwinan seorang anak perempuan dengan seorang lelaki tidak memutuskan hubungannya dengan ibu bapa dan tidak pula menghilangkan tanggungjawab anak kepada ibu bapa. Perkahwinan adalah penambahan kepada tanggungjawab yang sedia ada bagi lelaki dan perempuan, dan bukan pengurangan. Yang kekal ialah prinsip menunaikan tanggungjawab ikut kemampuan kita. Islam tidak menuntut kita lakukan sesuatu lebih dari kemampuan. Bagi lelaki yang telah berkahwin, kebajikan ibu bapa mertua juga menjadi tanggungjawabnya sebab status ibu bapa mertua adalah sama dengan ibu bapa sendiri.


Allah berfirman yang bermaksud, “Dan (ingatlah wahai Muhammad), ketika Kami mengikat perjanjian setia dengan Bani Isra'il (dengan berfirman): “Janganlah kamu menyembah melainkan Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu-bapa, dan kaum kerabat, anak yatim, serta orang miskin dan katakalah kepada sesama manusia perkataan yang baik...”” (Surah al-Baqarah ayat 83)

Apabila seorang wanita dinikahi maka keutamaan baginya ialah mentaati suaminya tanpa berbelah bagi selagi mana suaminya tidak menyuruhnya melakukan kemungkaran terhadap Allah SWT. Mentaati suami perlu diutamakan tanpa menafikan kewajipan mentaati kedua-dua ibu bapa. Tidak kira ibu bapa itu daripada pihak suami mahupun daripada pihak isteri. Berkahwin bukan sekadar mengikat tali hubungan antara seorang lelaki dan perempuan malah perkahwinan itu ialah jambatan bagi membina persaudaraan antara keluarga lelaki dan perempuan.

Dalam hadis ini Baginda Rasulullah SAW memperlihatkan akan kedudukan suami yang sepatutnya dihormati, sekali gus tidak ingkar kepada perintahnya. Dalam maksudnya yang lain menggambarkan bahawa suami mesti dimuliakan, dan kemuliaan itu bukan kerana Islam ingin memberi darjat yang berbeza antara lelaki dan wanita tetapi adalah untuk melihat kepada pengorbanan dan kesanggupan dia menjadi suami dan menjaga kehormatan isterinya.

Persoalan yang sering kali menjadi dilema seorang wanita yang bergelar isteri : 
“Bolehkah seorang isteri menziarahi ibu bapa (atau keluarganya) tanpa izin suami?” Malah, ramai yang berfahaman, “Ketaatan seseorang isteri kepada suami lebih dituntut” berbanding dengan “Ketaatan isteri kepada ibu bapanya”. Sebagai contoh, saya petik kata-kata ini, “....bila dah berumah tangga, syurga suami masih di bawah tapak kaki ibu kandungnya ..... dan syurga isteri dah bertukar ke bawah tapak kaki suaminya ..... hatta ada dalam sejarah Islam yg merujuk kepada ketaatan isteri hendaklah sepenuhnya pada Allah dan suami sehinggakan kalau suami tak benarkan isteri berjumpa dengan mertua (ibu bapa isteri) sekalipun, isteri hendaklah mentaati suaminya...”

Bagaimanapun, saya hanya ingin mengupas persoalan hak isteri dalam menziarahi ibu bapa tanpa izin suami ini, saya samakan dengan taat suami vs taat ibu bapa, bukan hak suami vs hak isteri. Saya difahamkan, seorang isteri tidak boleh keluar menziarahi ibu bapa (walaupun ibu bapanya sakit atau meninggal dunia) jika tiada keizinan suami. Ini berdasarkan dua kisah yang berbeza seperti di bawah :


Kisah 1

Dalam sebuah riwayat diterangkan; sesungguhnya telah terjadi di zaman Rasulullah SAW seorang suami pergi berperang meninggalkan isterinya. Ketika hendak meninggalkan rumah dia berpesan kepada isterinya, “Janganlah kamu meninggalkan rumah sehingga aku pulang dari berperang.” Pada waktu si suami sedang tiada di rumah, ibu si isteri jatuh sakit.

Maka si isteri tersebut mengutus seseorang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin melihat ibunya. Jawab Rasulullah, “Tunggulah suamimu pulang, janganlah keluar rumah.” Akhirnya orang tua si isteri meninggal dunia. Lalu si isteri mengutus lagi seseorang kepada Rasulullah SAW untuk meminta izin melihat ibunya. Lalu Rasulullah menjawab, “Tunggulah hingga suami mu pulang.” Setelah itu Rasulullah SAW mengutus seseorang kepada si isteri tersebut untuk memberikan berita bahawa Allah SWT telah mengampuni dosa ibunya disebabkan ketaatannya kepada suaminya.

Jadi seorang wanita yang solehah itu ialah wanita yang telah sanggup meletakkan sesuatu pada tempat yang benar. Ertinya, jika ia sudah bersuami, maka yang paling berhak terhadap dirinya adalah suaminya, melebihi diri ibu dan bapa serta keluarganya yang lain.

Kisah 2 – Petikan Suami larang isteri ziarah keluarga.

Tidak dikira sebagai dosa jika tidak menziarahi ibu bapa disebabkan tidak mendapat keizinan dari suami. Perkara ini disandarkan kepada satu hadis dengan sanad yang agak lemah, iaitu hadis berikut;

“Seorang lelaki yang keluar bermusafir. Dia telah berpesan kepada isterinya bahawa jangan turun dari tingkat atas kepada tingkat bawah. Bapa isterinya itu tinggal di tingkat bawah. Bapanya ditimpa sakit. Isterinya itu telah mengutuskan seorang perempuan kepada Rasulullah SAW agar memberi keizinan kepadanya turun untuk menziarahi bapanya yang sedang sakit. Nabi SAW bersabda; “Taatilah suami kamu.” Kemudiannya, bapanya meninggal dunia, lalu dia mengutuskan lagi kepada Rasulullah. Nabi SAW bersabda, “Taatilah suami kamu.” Jenazah bapanya dikebumikan. Lalu Rasulullah SAW mengutuskan seseorang kepada si isteri untuk diberitakan bahawa Allah telah mengampunkan dosa bapanya disebabkan ketaatannya terhadap suaminya[5]” [5] Takrij Ahadis Al-Ihya’ li Al-Iraqi : 1551.

Saya bukanlah seorang yang arif tentang hadis, namun saya lihat hadis pertama tiada perawi mahupun periwayat dan hadis kedua dikatakan sanadnya lemah, juga tiada perawi dan riwayat daripada siapa. Kisah 1 berkenaan ibu yang sakit dan kisah 2 pula si ayah yang sakit. Apakah status hadis-hadis ini? Jika sanadnya lemah, adakah statusnya ‘hadis daif’? Betulkan saya jika tersilap.

Bolehkah kita beramal dengan hadis daif? Sedangkan, para ulama sendiri berkhilaf pendapat dalam penggunaan hadis dhaif.
Dari sumber di atas, ada tiga golongan ulama yang khilaf pendapat iaitu :
________________________________________________________________

Golongan pertama - Hadis dhaif tidak boleh digunakan walaupun untuk tarqib (galakan), tarhib (menakut-nakutkan), fadhail amal (kelebihan beramal) ataupun untuk langkah berjaga-jaga. Ini merupakan pendapat Imam Bukhari dan Muslim, yang disokong oleh Abu Bakar al-Arabi (Mazhab Maliki), Abu Syamah al-Maqdisi (Syafie), Ibnu Hazmin (Zahiri) dan lain-lain.

Golongan kedua - Harus (boleh) menggunakan hadis dhaif jika tidak ada sandaran-sandaran lain tentang sesuatu perkara sama ada daripada al-Quran, hadis, qias, ijma, istihsan dan lain-lain. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim. Kata Imam Ahmad: “Hadis dhaif lebih kami sukai daripada fikiran seseorang.”

Golongan ketiga - Hadis dhaif boleh digunakan sebagai hujah dalam fadhail amal, peringatan, kisah-kisah, galakan dan sebagainya. Namun begitu secara umumnya tidak boleh digunakan dalam soal akidah dan hukum-hakam. Ini adalah pendapat yang muktamad bagi para ulama muhaqqiqin dengan syarat-syarat yang tertentu. Antara tokoh yang berpegang dengan panangan ini ialah Imam Nawawi dan al-Hafiz Ibnu Hajar.

Saya lebih cenderung kepada golongan pertama, kerana saya pernah membaca artikel di utusan, sahih Imam Bukhari dan Muslim hampir/dekat dengan al-Quran. Jadi, saya guna-pakai pendapat Imam Bukhari dan Muslim dalam bab hadis dhaif juga.



Sumber 1 – utusan menyebut :

Peruntukan dalam feqh Prof Dr. Mahmud Ali al-Syarthawiy di dalam kitab Syrah Qanun al-Ahwal al-Syaksiyyah, menegaskan harus si isteri ziarah ibu bapanya walaupun tidak mendapat izin suami seminggu sekali, sekiranya kedua ibu bapanya sakit harus baginya menziarahi mereka setiap hari kalau dia mahu.

Harus juga bagi si isteri menziarahi sanak saudaranya dalam sebulan sekali, namun ditegaskan oleh para ulama itu sekiranya suasana aman, sekiranya suasana tidak aman maka tidak harus bagi si isteri keluar tanpa izin suaminya, yang demikian ialah demi menjaga keselamatannya
 (hlm:162).

Sumber 2 – kias.edu.my/nushus pula menyebut :

Mengenai keluar rumah kerana menziarahi dua ibu bapa walau pun tanpa izin tidak termasuk dalam perbuatan nusyuz mengikut setengah pandangan, malah mereka berpendapat isteri mempunyai hak menziarahi dua ibu bapa lebih kerap sekiranya dua ibu bapanya sakit dan tidak ada orang lain yang menjaganya. Ini tanpa mengira sama ada di izin atau tidak oleh suami kerana manusia dituntut oleh Islam membuat kebaikan sedaya yang mampu kepada dua ibu bapa ,sama ada sebelum atau selepas kahwin dan sama ada ibu bapa Islam atau tidak.

Hanafi hanya membolehkan isteri menziarahi dua ibu bapa tanpa izin sekirnya mereka sakit sahaja. Dengan lain perkataan menziarahi dua ibu bapa tanpa izin tidak termasuk dalam perbuatan nusyuz sekiranya mereka sakit.

Ada pandangan lain menyatakan makruh suami tidak mengizinkan isteri menziarahi dua ibu bapanya. Alasannya membuat kebaikan kepada dua ibu bapa dan menghubung tali silaturahim adalah kewajipan yang dituntut oleh agama. Menghalang mereka menziarahi dua ibu bapa menyebabkan berlaku kerenggangan hubungan dan mendorong mereka melakukan perbuatan derhaka. Sedangkan melakukan kebaikan dan menghubung silaturrahim adalah satu tuntutan Syara'. Firman Allah, (al-Isra’ : 24), maksudnya,
 “Allah telah memfardukan kepada kamu supaya kamu jangan mengabdikan diri melainkan terhadapNya dan kepada dua ibu bapa hendaklah kamu melaku ihsan.”

Persoalan yang banyak berlegar di sekeliling kita :

1.) Apakah hak seorang suami dalam melarang/menegah isteri daripada menziarahi ibubapanya?

2. Apakah peruntukan undang-undang Islam Negeri dalam hak isteri menziarahi ibubapa/keluarga (tanpa izin suami)?

3. Bukan sedikit isteri dalam dilema terpaksa taat kepada suami sehingga mengabaikan ibubapa. Benarkah ajaran Islam ada menyatakan ketaatan isteri berpindah kepada suami bila dia berkahwin?

4. Bukan sedikit anak perempuan membelakangkan ibu bapa, atas alasan sudah bersuami, malah ramai yang beranggapan isteri adalah hak mutlak suaminya.

5. Bagaimana pula jika ibu bapa yang hanya mempunyai anak perempuan, adakah mereka hilang hak diziarahi anak (jika suami tidak membenarkan)?

Akibat dilema inilah, ada isteri yang menyangka Islam sangat zalim kerana perkahwinan memisahkannya dengan ibu bapa dan keluarganya. Mereka merasakan Islam tidak adil dan banyak memihak kepada suami. Akibat dilema ini juga, ada ibu bapa merasa, rugi sungguh jika mendapat anak perempuan kerana apabila dia bersuami, dia sudah jadi hak suami dan ibu bapa tak dipedulikan lagi. Adakah ini ajaran Islam yang sebenarnya?

Mengikut fahaman saya, taat kepada siapa pun kita harus melihat kepada keadaan/situasi seseorang isteri. Kalau suami halang isteri daripada menziarahi atau menjaga ibubapa yang sakit, apakah isteri perlu taat hanya kerana takut masuk neraka kalau tidak taat?

Ada suami yang beri kata dua kepada isteri, contohnya “Kalau kamu balik kampung ibubapa kamu, jatuh talak satu!”, atau isteri diugut begini, “Sekarang awak sudah menjadi isteri saya, jadi awak kena taat pada saya. Bukan taat kepada ibubapa awak. Kalau saya tidak benarkan awak ziarah ibubapa awak, awak tak boleh ziarah.”


Dalam situasi di atas, apakah pilihan isteri? Sejauh manakah ketaatan kepada suami mengatasi ketaatan kepada ibu bapa? Apakah jatuh haram isteri (berdosalah) yang langgar perintah suaminya yang melarang dia menziarahi ibubapa sakit (contohnya)?

Suami patut ada IHSAN dan EMPATI terhadap isteri, sebab itulah Allah SWT perintah suami agar bergaul dengan isteri dengan cara yang baik, seperti dalam firman Allah SWT di dalam al-Quran, yang bermaksud, “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
 (Surah an-Nisaa’ ayat 19)

Dalam ayat al-Quran yang dipetik di atas, Ibn Kathir berpendapat bahawa ayat ini, 
“… dan hendaklah kamu bergaul baik dengan isteri-isteri kamu dengan cara yang baik…” bermaksud : para suami hendaklah memperelokkan bicara mereka bersama isteri, hendaklah memperelokkan tingkah laku kepada mereka serta menjaga penampilan yang baik mengikut kemampuan kamu seperti mana yang kamu harapkan daripada mereka iaitu isteri-isteri kamu, maka hendaklah kamu melakukan yang baik-baik itu terhadap mereka seperti yang kamu mahukan daripada mereka. (Ibn Kathir, jld:1, hlm: 466)

Maka jelas lagi terang bahawa hukum bergaul baik dengan isteri adalah WAJIB. Malangnya, berapa ramai yang ikut perintah Allah yang ini? Akibat mengabaikan perintah Allah yang ini, natijahnya amat teruk sekali. Bila suami tidak ikut perintah Allah dan Rasul-Nya, maka, tidak hairanlah isteri tidak taat kepada suami. Ialah, jika suami ikut perintah Allah dan Rasul-Nya, secara automatiknya tentu dia juga menjaga hak-hak isterinya. Bila dia menjaga hak-hak isterinya, agak MUSTAHIL isterinya tidak taat kepadanya dan agak MUSTAHIL pula isteri tidak hormat kepada suaminya. Selalunya orang perempuan ini amat tinggi dengan tahap ketaatan dan kesetiaan mereka. Belas ihsan dan empati mereka lebih tinggi (dibandingkan lelaki), tetapi jika masih ada isteri yang tidak taat walaupun suaminya memenuhi tanggungjawab, adalah silap ‘wayarnya’ di mana-mana...

Bagi suami yang gagal menggauli isterinya dengan baik sedangkan dia taat kepada suaminya adalah berdosa. Rasulullah SAW juga menganjurkan agar setiap suami menggauli isteri dengan cara yang baik/maaruf. Ini jelas dapat dilihat dalam hadis baginda yang bermaksud, 
“Lelaki yang paling sempurna imannya ialah lelaki yang paling sempurna akhlaknya, dan sebaik-baik kamu (baik akhlak) ialah mereka yang baik dengan isteri-isterinya.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Dalam hadis yang lain pula sabda baginda yang bermaksud, 
“Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap isterinya, dan aku adalah sebaik-baik lelaki kepada isteriku.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)

Boleh saja ada yang berkata, “Suami tak patut halang isteri ziarah ibu bapa, akan tetapi jika suami halang, isteri wajib taat. Ini kerana menjalinkan silaturahim bukan hanya dengan berziarah, banyak cara lain lagi.”

Ziarah perkataan Arab bererti berkunjung ke~ atau pergi menengok, ada makna 'perjalanan' di situ. Ziarah tidak boleh disamakan dengan talipon/email/surat. Zaman Nabi dulu juga ada cara berhubung juga, saya tak tahu. Mungkin ada yang guna burung merpati, atau surat juga mungkin sudah ada. Saya kurang arif. Walau bagaimanapun ziarah adalah sunnah Nabi, tidak kiralah ziarah ibubapa, ahli keluarga, saudara mara dan saudara semuslim yang lain. Ziarah kubur pula tidaklah boleh disamakan dengan melihat gambar kubur. Feeling itu berbeza. Tidak sama. Hikmah ziarah memanjangkan silaturrahim, sepertimana dalam sabda Rasulullah SAW yang maksudnya: 
“Sesiapa yang ingin diluaskan rezekinya, dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia memanjangkan silaturrahim.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

Jika ziarah disamakan dengan talipon/email/surat, konsepnya sama dengan tengok aje laksa yang lazat dan ambil bau saja, TAK BOLEH makan ya...

Suami hendaklah berusaha supaya isteri dapat berbuat baik kepada ibu bapanya sendiri. Isteri pula hendaklah menjalankan tanggungjawab kepada suami dan rumahtangga dengan sebaiknya. Suami tidak boleh mementingkan dirinya sendiri sekiranya isteri telah berusaha sedaya upayanya memenuhi tanggungjawabnya. Adalah tidak wajar seorang suami menghalang isteri daripada menziarahi ataupun berbakti kepada ibu bapanya. Dengan kata lain, seorang isteri ada tanggungjawab kepada Allah, diri, suami, anak dan ibu. Memutuskan hubungan antara anak dan ibu adalah perbuatan zalim dan berdosa. Islam tidak pernah menyuruh mana-mana orang berbuat perkara sedemikian.


Ketaatan kepada suami hanya terdapat melalui hadis, tiada ayat dalam al-Quran yang jelas memperincikannya. Ketaatan kepada suami juga BUKAN MUTLAK tanpa kompromi. Sebaliknya, ketaatan kepada ibu bapa banyak disebut dalam al-Quran. Allah SWT menyuruh kita berulangkali supaya berbuat baik kepada kedua-dua ibu bapa. Arahan cukup jelas selepas mentaati Allah tiada ketaatan yang lebih tinggi melainkan mentaati kedua-dua orang tua.

Firman Allah SWT berkenaan berbuat baik kepada kedua ibu bapa yang bermaksud, “Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepada-Nya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah seorang dari keduanya, atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun perkataan “Ah”, dan janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (yang bersopan santun). Dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah (untuk mereka, dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”
 (Surah al-Isra', ayat 23-24).

Baginda Rasulullah SAW telah banyak berpesan agar setiap anak melakukan kebaikan terhadap kedua ibu bapanya di antara hadis Baginda daripada Anas bin Malik yang bermaksud: 
Sesungguhnya Nabi SAW apabila menaiki mimbar berkata: “Amin, Amin, Amin," lalu ditanyakan kepada Baginda atas perkara apa tuan ungkapkan amin? Baginda menjawab: Telah datang kepadaku Jibril lalu berkata: “Wahai Muhammad kecelakaanlah bagi seseorang itu apabila disebut namamu yang mendengar tidak berselawat ke atas engkau, katakanlah wahai Muhammad, “Amin” , maka aku pun kata “Amin” , kemudian Jibril berkata lagi, kecelakaanlah seseorang itu yang memasuki bulan Ramadan tetapi pertemuannya tidak mendapat keampunan, katakanlah “Amin” , aku pun kata “Amin” , kemudian Jibril berkata: “Kecelakaanlah bagi seseorang itu dia bertemu dengan kedua orang tuanya, tetapi pertemuannya dengan kedua orang tuanya tidak melayakkan dia memasuki syurga.” (Ibnu Kathir, Tafsir al-Quran al-'Azim, jld:3, hlm: 50 ).

Di samping itu, banyak lagi hadis-hadis Rasulullah SAW yang menyuruh kita berbuat baik kepada kedua ibu bapa. Keingkaran seseorang dalam mentaati ibu bapa boleh membawa kemurkaan Allah SWT
. Tidak kurang banyak riwayat yang mengisahkan balasan ke atas golongan yang menerima balasan segera dan tunai daripada Allah SWT.

Ingatlah, dari Abdullah ban Amru r.a., katanya Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud, 
“Keredhaan Allah daripada keredhaan ibu bapa dan kemurkaan Allah daripada kemurkaan ibu bapa.” (Hadis riwayat at-Tirmizi)

Setiap anak yang derhaka akan dilaknat oleh Allah SWT, amalan dan ibadah mereka tidak diterima dan tidak akan mendapat ganjaran yang memungkinkan perbuatan baik yang dilakukan sepanjang hayatnya akan sia-sia. Oleh itu Islam menitikberatkan keredaan kedua-dua ibu bapa agar hidup sentiasa diberkati Allah.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Dan Kami telah menasihati manusia supaya berlaku baik kepada kedua-dua orang tuanya ketika mana ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan yang teramat berat keperitannya dan (mengarahnya) untuk memutuskan penyusuan setelah (bayi) berumur dua tahun, maka syukurlah kamu kepada-Ku dan seterusnya kepada kedua-dua ibu bapa mu dan kepada-Ku kamu akan kembali.” (Surah Luqman, ayat 14)

Maka turunlah perintah Allah SWT yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami telah mewasiatkan kepada manusia untuk berlaku baik kepada kedua-dua ibu bapa. Jika mereka menyuruh kamu mensyirikkan dengan apa yang engkau tidak ketahui maka janganlah kamu mentaatinya.” (Surah al-‘Ankabut, ayat 8).

Semoga bermanfaat.